Lebih dari 200 Tokoh Budaya Serukan Pembebasan Pemimpin Palestina yang Diculik, Marwan Barghouti

Marwan

New York, Purna Warta – Lebih dari 200 tokoh budaya terkemuka telah menandatangani sebuah surat terbuka yang menyerukan pembebasan Marwan Barghouti, tokoh Palestina terkemuka yang telah berada dalam tahanan Israel selama 23 tahun.

Baca juga: Email yang Bocor Ungkap Kampanye Pengaruh Tersembunyi Israel di Media AS

“Kami menyampaikan keprihatinan mendalam atas terus berlanjutnya pemenjaraan Marwan Barghouti, perlakuan kekerasan yang ia alami, serta penyangkalan atas hak-hak hukumnya selama dipenjara. Kami menyeru Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pemerintah dunia untuk secara aktif mengupayakan pembebasan Marwan Barghouti dari penjara Israel,” demikian isi pernyataan para penandatangan pada Rabu.

Kelompok beragam tokoh budaya ini mencakup sejumlah penulis ternama mulai dari Margaret Atwood, Philip Pullman, Zadie Smith, dan peraih Nobel Annie Ernaux, serta aktor Sir Ian McKellen, Benedict Cumberbatch, Tilda Swinton, Josh O’Connor, hingga Mark Ruffalo.

Para penandatangan lainnya termasuk penyiar sekaligus mantan pesepakbola Gary Lineker, serta musisi Sting, Paul Simon, Brian Eno, dan Annie Lennox.

Barghouti dipandang secara luas sebagai salah satu dari sedikit tokoh politik yang mampu mempersatukan berbagai faksi Palestina dan menghidupkan kembali prospek berdirinya negara Palestina.

Pemimpin Palestina berusia 66 tahun ini telah dipenjara selama 23 tahun menyusul apa yang oleh banyak pakar hukum disebut sebagai “persidangan yang cacat.”

Ia merupakan anggota parlemen terpilih pada saat penangkapannya dan tetap menjadi salah satu figur politik paling populer di kalangan rakyat Palestina, sering kali memimpin jajak pendapat sebagai pemimpin nasional pilihan.

Penolakan Israel untuk membebaskannya—bahkan dalam pertukaran tahanan terbaru setelah gencatan senjata Oktober di Gaza—dipandang tidak berkaitan dengan faktor keamanan, melainkan kekhawatiran akan pengaruh politik yang mungkin dimilikinya jika dibebaskan.

Pejabat Israel juga tengah membahas rancangan undang-undang baru yang dapat memberlakukan hukuman mati bagi tahanan Palestina, yang berpotensi berdampak pada Barghouti.

Surat terbuka ini dirilis di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional tentang masa depan Gaza. Resolusi PBB terbaru yang mendukung usulan Washington untuk membentuk apa yang disebut sebagai pasukan stabilisasi internasional di wilayah terkepung tersebut gagal meyakinkan negara-negara untuk mengerahkan pasukan mereka.

Baca juga: Gaza di Persimpangan “Bukan Perang, Bukan Damai”; Hambatan dan Tantangan Tahap Kedua Gencatan Senjata

Sejumlah organisasi hak asasi manusia Palestina terkemuka menentang resolusi tersebut, menyoroti lanskap politik kompleks yang harus dihadapi Barghouti bila ia dibebaskan.

Para pendukung kampanye ini berharap dapat menggema seperti gerakan budaya global yang berperan penting dalam pembebasan Nelson Mandela dan perjuangan internasional melawan apartheid. Mandela sendiri pernah mengatakan pada 2002, “Apa yang terjadi pada Barghouti sama seperti yang terjadi pada saya.”

“Sejarah menunjukkan bahwa suara-suara budaya dapat mengubah jalannya politik,” kata musisi Inggris Brian Eno. “Sebagaimana solidaritas global membantu membebaskan Nelson Mandela, kita semua memiliki kekuatan untuk mempercepat hari ketika Marwan Barghouti dibebaskan. Kebebasannya akan menjadi momen penting dalam perjuangan panjang ini dan memberikan harapan yang sangat dibutuhkan bagi kita semua.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan menolak seruan tersebut kecuali ada tekanan signifikan dari Washington.

Pada 2004, pengadilan Israel menjatuhkan hukuman lima kali penjara seumur hidup ditambah 40 tahun kepada Barghouti atas tuduhan keterlibatan dalam operasi selama intifada kedua. Inter-Parliamentary Union (IPU), sebuah badan internasional, mengecam persidangan itu sebagai “sangat cacat.”

Barghouti berulang kali ditempatkan dalam sel isolasi tanpa kebutuhan dasar dan telah mengalami empat tindakan penyiksaan besar sejak 2023, namun ia masih diyakini mampu memikul kepemimpinan politik jika dibebaskan.

Ia telah dilarang menerima kunjungan keluarga selama tiga tahun, dan para pengacaranya hanya dapat menemuinya lima kali dalam dua tahun terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *