Al-Quds, Purna Warta – Rezim Zionis, dengan bekerja sama bersama dua pihak regional yang disebut sebagai sekutunya, berupaya mengubah peta geopolitik Tanduk Afrika, memperluas konflik sektarian di kawasan tersebut, serta memperkuat jejak keamanannya di Selat strategis Bab al-Mandab.
Baca juga: Ribuan Pemukim Israel, Dipimpin Ben-Gvir, Masuki Kompleks Masjid Al-Aqsa
Laporan surat kabar Lebanon Al-Akhbar yang menyebut bahwa meningkatnya ketegangan di Laut Merah semakin memperumit situasi politik di kawasan Tanduk Afrika. Di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kemungkinan penutupan penuh Selat Bab al-Mandab dan semakin dalamnya pengaruh Israel di wilayah separatis Somaliland, kawasan Tanduk Afrika disebut bergerak menuju konflik yang lebih luas.
Setelah gerakan Ansarullah Yaman mengumumkan pemberlakuan blokade laut terhadap Arab Saudi—yang menurut laporan tersebut berpotensi menyebabkan penutupan penuh Selat Bab al-Mandab bagi pelayaran internasional di Laut Merah—negara-negara Tanduk Afrika menghadapi kekhawatiran tambahan akibat dampak ekonomi besar dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dampak tersebut sebelumnya telah terlihat dalam bentuk meningkatnya inflasi, kenaikan biaya impor, melemahnya nilai mata uang lokal, gangguan rantai pasokan kebutuhan pokok, serta berbagai persoalan ekonomi lainnya.
Sementara itu, dalam beberapa bulan terakhir disebut telah terjadi peningkatan kehadiran militer Israel di wilayah Somaliland yang memisahkan diri dari Somalia. Langkah tersebut diklaim mendapat dukungan terbuka dari Uni Emirat Arab dan pengawasan tidak langsung dari Amerika Serikat.
Surat kabar Prancis Le Monde sebelumnya melaporkan pembangunan fasilitas militer besar di bagian selatan Kota Hargeisa, ibu kota Somaliland, serta di sekitar bandar udara wilayah tersebut.
Addis Ababa dan Ketergantungan pada Israel
Menurut Al-Akhbar, dalam situasi tersebut dan dengan meluasnya cakupan geografis konflik Amerika Serikat-Iran, Ethiopia berupaya memosisikan dirinya sebagai sekutu utama Israel dan Amerika Serikat di kawasan.
Tujuan Ethiopia disebut terutama untuk memperkuat hubungan strategis dan keamanan dengan Somalia, Djibouti, dan Eritrea.
Ethiopia disebut khawatir terhadap meningkatnya kerja sama Arab-Turki dengan negara-negara tetangganya, yang kemudian digambarkannya sebagai potensi “dukungan terhadap Islam radikal”. Pemerintah Ethiopia juga menyatakan dirinya berupaya memainkan peran politik dan militer untuk mencegah kawasan tersebut jatuh ke dalam pengaruh kelompok-kelompok Islamis.
Dalam kerangka kebijakan tersebut—yang menurut artikel ini mendapat dukungan dari mitra regional seperti Israel dan Uni Emirat Arab serta penerimaan tidak langsung dari pemerintahan Donald Trump—Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed menempatkan akses negaranya ke Laut Merah sebagai salah satu prioritas politik utama.
Dalam pembukaan forum Dialog Nasional Ethiopia yang dimulai pertengahan bulan ini, Abiy Ahmed menyatakan bahwa kehilangan akses negaranya terhadap pantai Laut Merah merupakan “pelajaran sejarah mengenai konsekuensi perpecahan internal”. Ia mengatakan periode konflik domestik telah membawa dampak negatif yang memengaruhi perjalanan sejarah Ethiopia.
Somaliland: Gerbang Menuju Perang Regional
Kerja sama yang terus berkembang antara Israel dan Somaliland telah menimbulkan kekhawatiran di antara sejumlah aktor regional.
Kekhawatiran tersebut juga disampaikan dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan Menteri Luar Negeri Eritrea Osman Saleh di Kairo.
Abdelatty menyebut pembukaan kedutaan Somaliland di Yerusalem sebagai ancaman serius dan langsung terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Somalia. Ia menggambarkannya sebagai langkah sepihak Israel yang “menargetkan keamanan nasional Mesir hingga ke jantung Laut Merah.”
Dalam pertemuan tersebut, Mesir dan Eritrea menekankan perlunya mengaktifkan mekanisme trilateral antara Mesir, Eritrea, dan Somalia untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin meningkat.
Mereka juga menegaskan bahwa keamanan dan kedaulatan atas Laut Merah merupakan “hak utama dan eksklusif negara-negara pesisirnya.”
Pernyataan tersebut disebut sebagai respons terhadap meningkatnya kerja sama militer antara Israel dan Somaliland, serta upaya berkelanjutan Ethiopia untuk memperoleh akses maritim dengan status hukum tertentu.
Tel Aviv Memanfaatkan Krisis di Tanduk Afrika
Dalam perkembangan tersebut, sejumlah lembaga penelitian dan intelijen Israel, termasuk Jerusalem Center for Foreign and Security Affairs (JCFA), menggambarkan langkah-langkah tersebut sebagai upaya untuk “membangun kembali aliansi strategis demi stabilitas dan kemakmuran” di Tanduk Afrika.
Laporan-laporan tersebut menyatakan bahwa Israel memiliki peluang untuk “mengelola kerangka keamanan menyeluruh di Laut Merah”. Kerangka tersebut diklaim tidak hanya bertujuan menghadapi pengaruh Iran dan sekutunya, tetapi juga mengamankan jalur perdagangan internasional yang disebut akan menguntungkan Israel.
Strategi tersebut secara jelas mengarah kepada Ethiopia dan Somaliland, yang disebut memiliki hubungan strategis serta militer yang erat dengan Israel.
Menurut artikel ini, Israel berupaya memanfaatkan hubungan dengan Somaliland dan Ethiopia sebagai basis strategis untuk membangun aliansi di Tanduk Afrika, dengan pola yang terinspirasi oleh perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel.
Tujuannya disebut untuk membatasi kebijakan Iran dalam mendukung kelompok-kelompok perlawanan regional melalui pendekatan pencegahan dan operasi militer berkelanjutan.
Dampak terhadap Stabilitas Kawasan
Artikel tersebut menyatakan bahwa pola ini, yang didasarkan pada pemanfaatan perbedaan kepentingan antar-kekuatan regional, dapat semakin memperburuk kondisi rapuh di Tanduk Afrika dan menghambat berbagai upaya regional untuk melakukan deeskalasi.
Perkembangan tersebut juga disebut berpotensi menciptakan realitas geopolitik baru, di mana peran tradisional negara-negara kawasan semakin berkurang demi kepentingan jaringan bisnis dan keamanan internasional maupun swasta.
Meskipun sejumlah negara regional dan mitra mereka di Laut Merah, termasuk Turki, disebut terus berupaya menghentikan rencana tersebut, perbedaan kepentingan di antara mereka membuat upaya itu belum menghasilkan perubahan nyata.
Menurut artikel ini, situasi hanya dapat berubah apabila upaya-upaya tersebut diwujudkan dalam langkah konkret di lapangan yang mampu menjaga keamanan kolektif kawasan Tanduk Afrika.


