Al-Quds, Purna Warta – Seorang komandan militer senior Israel mengakui bahwa tentaranya membunuh warga Palestina dengan tingkat yang “tidak pernah terlihat sejak 1967” di Tepi Barat, di tengah berlanjutnya operasi militer berupa penggerebekan, penangkapan, pembunuhan, dan penghancuran di wilayah pendudukan tersebut.
“Dalam tiga tahun, kami telah membunuh 1.500 teroris,” kata Avi Bluth, seorang pemukim yang menjabat sebagai komandan militer Israel di Tepi Barat sejak 2024.
Komandan Senior Israel itu menyampaikan pernyataan kontroversial tersebut dalam sebuah forum tertutup, dengan merujuk pada warga Palestina.
Bluth, yang juga memimpin Komando Pusat militer Israel, membela aturan keterlibatan yang lebih longgar yang memungkinkan pasukan untuk melepaskan tembakan terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata.
“Orang Arab memahami bahwa ‘jika seseorang bangkit untuk membunuhmu, bunuh dia terlebih dahulu’ adalah bagian dari aturan di Timur Tengah, dan karena itu kami membunuh seperti yang belum pernah kami lakukan sejak 1967,” ujarnya.
Komandan senior tersebut juga secara terbuka mengakui adanya kebijakan diskriminatif, di mana pelempar batu dari kalangan Yahudi Israel tidak ditindak, sementara warga Palestina yang melakukan tindakan serupa ditembak dan dibunuh.
“Lalu mengapa tidak ada intifada? Mengapa mereka tidak turun ke jalan? Mengapa publik Palestina tampak acuh? Mengapa tidak ada kerusuhan?” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya operasi militer Israel di seluruh Tepi Barat, yang menyebabkan jatuhnya korban sipil serta meluasnya penggerebekan, penangkapan, dan serangan.
Sejak Oktober 2023, ketika Israel melancarkan perang besar di Jalur Gaza, kekerasan oleh pasukan Israel dan pemukim ekstremis di Tepi Barat telah menewaskan sedikitnya 1.155 warga Palestina, melukai sekitar 11.750 lainnya, dan menyebabkan penangkapan sekitar 22.000 orang.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak
Dalam periode yang sama, serangan militer Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 72.500 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.400 lainnya.
Laporan terbaru dari QNN juga mengungkap bahwa kekerasan terorganisir oleh pemukim Israel terhadap komunitas Kristen dan kelompok non-Yahudi lainnya di Yerusalem meningkat secara signifikan.
Situasi ini kini dinilai mengancam seluruh komunitas Kristen, Muslim, dan kelompok non-Yahudi lainnya di Yerusalem serta di seluruh wilayah Palestina yang diduduki.


