Tehran, Purna Warta – Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan seiring perkembangan terbaru yang berfokus pada situasi di Selat Hormuz. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melampaui 106 dolar per barel, sementara minyak Brent Crude naik mendekati 114 dolar per barel. Lonjakan harga ini terjadi di tengah spekulasi sejumlah media Barat mengenai kondisi di Selat Hormuz, menyusul keputusan yang diambil pada malam sebelumnya oleh Donald Trump. Media tersebut melaporkan bahwa harga minyak mentah Brent dan WTI meningkat sekitar 3 persen, dengan WTI mencapai 105,3 dolar per barel dan Brent mendekati 114 dolar.
Baca juga: Data Terbaru Korban Tewas dan Luka Akibat Serangan Israel di Gaza
Berdasarkan laporan IRNA, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu sore (waktu setempat), menanggapi dampak ekonomi dari konflik yang disebut sebagai “perang yang dipaksakan terhadap Iran,” serta ketegangan dengan Teheran. Ia kembali melontarkan pernyataan yang disebut sebagai “Proyek Kebebasan” (Freedom Project).
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa berbagai negara di dunia—yang menurutnya tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah—meminta bantuan Amerika Serikat untuk membebaskan kapal-kapal mereka yang terjebak di Selat Hormuz.
Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan membantu mengawal kapal-kapal tersebut agar dapat melintasi jalur sempit itu dengan aman, demi menjaga kelancaran aktivitas pelayaran internasional.
Trump menambahkan bahwa kapal-kapal tersebut berasal dari negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik regional, dan ia telah menginstruksikan perwakilannya untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya saat melintasi selat tersebut.
Lebih lanjut, ia mengklaim bahwa negara-negara tersebut menyatakan tidak akan kembali beroperasi di kawasan itu hingga situasi keamanan membaik. Menurutnya, proses yang disebut “Proyek Kebebasan” akan dimulai pada Senin pagi waktu Timur Tengah.
Baca juga: Pemukim Serbu Kompleks Masjid Al-Aqsa
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan di kawasan, khususnya di Selat Hormuz, semakin kompleks dan tidak mudah dikendalikan melalui klaim sepihak. Jalur perairan strategis ini tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga menjadi arena interaksi keamanan yang sensitif, di mana peran Iran dinilai sangat signifikan.
Sebelumnya, Trump menyampaikan klaim mengenai dominasi dan kemampuan mengendalikan situasi di kawasan. Namun, dinamika di lapangan—terutama di Selat Hormuz—menunjukkan tantangan terhadap gambaran tersebut, mengingat pentingnya peran kawasan ini terhadap keamanan energi global.


