NewYork, Purna Warta – Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa Jalur Gaza telah menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis dan pekerja kemanusiaan, dengan lebih dari 230 jurnalis tewas di wilayah yang berada di bawah pengepungan tersebut.
“Bersama para pekerja kemanusiaan, mereka telah membayar harga tertinggi yang sangat mahal. Lebih dari 230 dari mereka telah terbunuh. Gaza adalah tempat paling mematikan di dunia untuk menjadi seorang jurnalis, sebagaimana juga merupakan tempat paling mematikan untuk menjadi pekerja kemanusiaan,” kata Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini dalam sebuah pernyataan.
Lazzarini memperingatkan bahwa pembatasan dan serangan yang terus berlanjut telah melemahkan upaya pendokumentasian peristiwa serta penyaluran bantuan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa pelarangan masuknya jurnalis internasional ke Gaza mendorong penyebaran disinformasi, memperuncing polarisasi narasi, serta melemahkan pemahaman komunitas internasional terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi.
Kepala UNRWA tersebut juga menekankan bahwa serangan terhadap jurnalis dan personel kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Ia menyerukan kebebasan akses bagi media, perlindungan terhadap jurnalis, serta penghapusan berbagai pembatasan yang menghalangi organisasi media untuk menjalankan tugas mereka secara aman.
Sejak pecahnya perang, jurnalis internasional dilarang memasuki Gaza secara independen, sebuah pembatasan yang menurut Lazzarini sudah “terlambat” untuk dicabut.
Pada Rabu lalu, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa jumlah jurnalis yang terbunuh sejak dimulainya perang genosida Israel telah meningkat menjadi 260 orang.
Awal bulan ini, Asosiasi Pers Asing (Foreign Press Association/FPA) mengecam keras otoritas Israel karena tetap memberlakukan larangan akses media asing ke Jalur Gaza, yang telah hancur akibat hampir dua tahun perang genosida Israel.
FPA, yang mewakili ratusan jurnalis internasional yang bekerja di wilayah Palestina yang diduduki, pada hari Selasa menyatakan bahwa penolakan Israel yang berkelanjutan untuk mengizinkan peliputan independen dari Gaza adalah sesuatu yang “sangat mengecewakan”.
Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh Komite Kebebasan Pers Serikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate/PJS) menyebutkan bahwa serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 706 anggota keluarga jurnalis Palestina sejak perang dimulai.
Laporan tersebut merinci serangan berulang terhadap rumah para jurnalis, tempat perlindungan bagi keluarga pengungsi, serta kawasan yang secara luas diketahui sebagai lokasi tinggal pekerja media dan keluarga mereka. Dalam beberapa kasus, seluruh anggota keluarga tewas, meninggalkan jurnalis yang selamat untuk mendokumentasikan kehancuran rumah tangga mereka sendiri.
Kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia memperingatkan bahwa larangan media oleh Israel, yang dikombinasikan dengan jumlah korban jurnalis Palestina yang belum pernah terjadi sebelumnya, telah menciptakan salah satu lingkungan peliputan paling berbahaya dalam sejarah modern.


