Gaza, Purna Warta – Kepala Biro Politik Hamas, Khalil al-Hayya, mengirimkan pesan kepada para pemimpin Mesir, Qatar, dan Turki, meminta mereka mengintensifkan upaya diplomatik untuk mendorong Israel menghentikan operasi militernya di Jalur Gaza serta memenuhi komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.
Menurut laporan Kantor Berita Mehr yang mengutip Pusat Informasi Palestina, Al-Hayya meminta negara-negara yang berperan sebagai mediator dalam perundingan gencatan senjata agar menggunakan seluruh pengaruh yang dimiliki untuk memastikan Israel mematuhi kewajibannya berdasarkan kesepakatan yang telah ditandatangani.
Dalam pesannya, Al-Hayya menyatakan bahwa Israel masih terus melancarkan serangan di Jalur Gaza dan, menurut Hamas, bahkan meningkatkan intensitas operasi militernya dalam beberapa hari terakhir. Ia menuduh langkah tersebut dilakukan untuk menghambat tercapainya kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi keamanan, stabilitas, dan kehidupan yang layak bagi rakyat Palestina.
Al-Hayya juga menyatakan bahwa operasi militer Israel telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan di Gaza. Menurutnya, serangan tersebut mencakup penargetan terhadap warga sipil, penghancuran rumah-rumah dan fasilitas umum, serta perluasan penguasaan militer di sejumlah wilayah Jalur Gaza. Pernyataan tersebut merupakan klaim Hamas.
Selain itu, Al-Hayya menuduh Israel terus menghambat masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya ke Jalur Gaza. Ia juga menyatakan bahwa Israel belum mengizinkan masuknya material konstruksi yang, menurut Hamas, telah disepakati untuk digunakan dalam perbaikan rumah sakit, fasilitas pemerintah daerah, dan infrastruktur publik yang rusak.
Hamas mengklaim bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan, sebanyak 1.143 warga Palestina telah tewas, termasuk 409 perempuan, anak-anak, dan lanjut usia. Hamas juga menyebut jumlah korban luka mencapai 3.616 orang, dengan 1.789 di antaranya merupakan perempuan, anak-anak, atau lansia. Angka-angka tersebut merupakan data yang disampaikan oleh Hamas dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Al-Hayya menilai bahwa tindakan Israel merupakan tantangan terhadap negara-negara penjamin perjanjian dan komunitas internasional yang mendukung implementasi gencatan senjata. Ia mendesak negara-negara mediator untuk segera mengambil langkah guna menjaga keberlangsungan kesepakatan serta memastikan proses perundingan dapat berlanjut ke tahap berikutnya.


