Purna Warta – Data pelayaran menunjukkan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir. Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Laut Merah dan sekitarnya.
Menurut laporan Al Jazeera, platform analisis data maritim Kepler melaporkan bahwa hanya 12 kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan volume lalu lintas kapal yang biasanya melewati salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia itu.
Perkembangan ini terjadi setelah kelompok Ansar Allah (Houthi) di Yaman pada awal pekan mengumumkan larangan pelayaran yang berkaitan dengan ekspor minyak Arab Saudi. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut memperingatkan perusahaan pelayaran bahwa kapal-kapal yang melakukan pemuatan atau pembongkaran minyak milik Arab Saudi berpotensi menjadi sasaran serangan. Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan meluasnya gangguan terhadap jalur perdagangan internasional di Laut Merah.
Sementara itu, Reuters, mengutip data pelayaran, melaporkan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga mengalami penurunan. Dalam tiga hari terakhir, rata-rata hanya sekitar tiga kapal per hari yang melintasi selat tersebut menurut data yang dikutip media tersebut.
Pemerintah Iran sebelumnya menyatakan telah menetapkan jalur pelayaran yang dinilai aman di Selat Hormuz dan menegaskan bahwa kapal-kapal harus mematuhi rute yang telah ditentukan. Teheran juga menyatakan tidak akan mengizinkan adanya upaya yang dianggap mengganggu pengelolaan jalur pelayaran di selat tersebut. Di sisi lain, media Iran menilai operasi militer Amerika Serikat di kawasan telah berkontribusi terhadap meningkatnya ketidakamanan dan terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Selat Bab al-Mandab dan Selat Hormuz merupakan dua jalur maritim paling strategis di dunia yang menghubungkan kawasan Teluk, Laut Merah, dan Samudra Hindia. Gangguan terhadap arus pelayaran di kedua selat tersebut berpotensi memengaruhi rantai pasok global, meningkatkan biaya pengiriman, serta berdampak pada harga energi dan perdagangan internasional. Sejumlah perusahaan pelayaran internasional juga dilaporkan terus memantau perkembangan situasi keamanan dan menyesuaikan rute pelayaran mereka sesuai dengan tingkat risiko di kawasan.


