Al-Quds, Purna Warta – Sedikitnya tujuh warga Palestina tewas dalam serangan Israel terhadap Jalur Gaza dalam 48 jam terakhir, sementara 38 orang lainnya mengalami luka-luka, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza dalam sebuah unggahan di platform X mengatakan bahwa sebagian besar korban dibawa dari kawasan Sheikh Radwan dan Kamp Pengungsi Nuseirat, yang menjadi lokasi berlangsungnya tembakan intensif oleh pasukan Israel.
Menurut kementerian tersebut, jenazah tujuh warga yang tewas telah dibawa ke rumah sakit-rumah sakit di Gaza, sementara bantuan medis diberikan kepada 38 orang yang terluka, termasuk perempuan dan anak-anak.
Menurut otoritas medis, jumlah korban tewas di Gaza sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 74.016 orang, sementara 175.068 warga Palestina mengalami luka-luka.
Mereka mengatakan bahwa sejumlah warga Palestina yang jumlahnya belum diketahui masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur dan di jalan-jalan, sementara tim ambulans dan pertahanan sipil masih tidak dapat menjangkau mereka.
Hampir satu tahun setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025, warga sipil di Gaza masih menghadapi risiko yang mengancam keselamatan jiwa di tengah kehancuran yang meluas, kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar, serangan yang terus berlangsung, pembatasan masuknya pasokan dan peralatan penting, serta kekurangan pendanaan yang kritis.
Sejak gencatan senjata Oktober 2025, serangan Israel telah menewaskan 1.415 warga Palestina dan melukai 4.953 lainnya.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa risiko tersebut semakin serius seiring mendekatnya musim dingin.
Pada musim dingin lalu, sedikitnya 11 anak di Jalur Gaza, termasuk bayi, dilaporkan meninggal akibat hipotermia, menurut UNICEF.
NGO Network mengatakan pekan lalu bahwa 26 dari 38 rumah sakit di Gaza telah berhenti beroperasi sejak dimulainya perang.
Fasilitas kesehatan yang masih beroperasi menghadapi kekurangan besar. Persediaan obat-obatan diperkirakan sekitar 50 persen di bawah kebutuhan, sementara bahan dan perlengkapan medis mengalami defisit sekitar 58 persen.
Rumah sakit-rumah sakit juga kesulitan mempertahankan pengoperasian generator mereka di tengah pemadaman listrik berkepanjangan yang melanda Gaza.

