Al-Quds, Purna Warta – Sejumlah pemukim Israel bersenjata menyerbu rumah seorang warga Palestina-Amerika di sebuah desa sebelah timur Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, dan membakar tiga kendaraan serta merusak properti dalam serangan yang berlangsung pada malam hari.
Mustafa Zaatar, pemilik rumah tersebut, mengatakan pada Minggu bahwa puluhan pemukim Israel bersenjata memasuki desa Abu Falah sekitar pukul 01.30. Mereka mengepung rumahnya dan merusak sejumlah fasilitas sebelum membakar kendaraan-kendaraan tersebut.
Ia menambahkan bahwa kamera pengawas yang dipasang di sekitar rumah merekam serangan tersebut ketika berlangsung.
“Dalam waktu sekitar 10 menit, kami melihat mobil-mobil itu mulai terbakar,” jelasnya.
Pemilik rumah tersebut mengatakan warga setempat kemudian menghadapi para pemukim dan berhasil memadamkan api, meskipun banyak warga desa khawatir mereka akan ditembak.
Zaatar mengatakan dua warga Palestina tewas dalam serangan pemukim Israel di kawasan yang sama tahun lalu.
“Mereka berusaha memaksa kami meninggalkan tanah kami. Kami akan tetap tinggal di sini. Kami tidak akan pergi,” tegasnya.
Zaatar, yang juga memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat, mengatakan kewarganegaraan tersebut tidak memberinya perlindungan.
“Saya adalah warga negara Amerika, tetapi saya tidak merasa bahwa kewarganegaraan itu melindungi saya atau memberikan sesuatu kepada saya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa anggota keluarganya di Amerika Serikat menghubungi konsulat Amerika, yang kemudian menghubunginya.
Zaatar meminta pejabat konsuler mengunjungi rumahnya untuk menilai kerusakan serta ancaman yang dihadapinya.
Insiden tersebut terjadi beberapa pekan setelah Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee menggambarkan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di seluruh Tepi Barat yang diduduki sebagai “terorisme.”
Sejak Oktober 2023, Tepi Barat yang diduduki mengalami peningkatan serangan yang dilakukan oleh tentara Israel dan para pemukim. Serangkaian serangan tersebut telah menyebabkan ribuan warga Palestina tewas dan diculik, menurut laporan tersebut.
Dalam pidatonya pada sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York pada Selasa lalu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa kekerasan Israel, pemindahan paksa, dan perluasan permukiman di Tepi Barat yang diduduki semakin merusak prospek perdamaian serta meningkatkan “bayang-bayang pembersihan etnis.”
Menurut data resmi Palestina, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.206 warga Palestina, termasuk 254 anak-anak, dan melukai sekitar 13.350 lainnya sejak Israel melancarkan perang di Gaza pada Oktober 2023.


