Al-Quds, Purna Warta – Dalam wawancaranya dengan jaringan televisi Yaman Al-Masirah, Abu al-Ghazlan menyatakan bahwa perlawanan memiliki pandangan yang jelas dan tegas mengenai ketidakmungkinan melucuti senjata, dan pihak Amerika Serikat memahami hal tersebut.
Baca juga: Serikat Jurnalis Palestina Kecam Israel atas Upaya ‘Membungkam’ Pers melalui Serangan Sistematis
Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun dapat mengabaikan keberadaan perlawanan Palestina di Jalur Gaza, serta bahwa perlawanan menaruh perhatian besar pada keberhasilan kesepakatan yang ada.
Sebelumnya, seorang anggota senior Gerakan Hamas dengan menekankan penolakan tegas terhadap segala bentuk perwalian asing, menyatakan: “Kami tidak menerima pelucutan senjata perlawanan dan tidak akan mengizinkan bentuk campur tangan asing apa pun dalam urusan internal Palestina.”
Sementara itu, Osama Hamdan, salah satu pimpinan Gerakan Hamas, dalam wawancara dengan Al-Masirah, merujuk pada perkembangan terkait kesepakatan Gaza dan mengatakan bahwa rezim Zionis Israel tidak hanya gagal mematuhi ketentuan kesepakatan tersebut, tetapi juga secara luas melanggar perjanjian dan komitmen internasionalnya.
Ia menekankan bahwa memasuki tahap kedua kesepakatan mensyaratkan adanya jaminan yang lebih jelas serta komitmen yang lebih tegas. Hamdan kembali menegaskan bahwa perlawanan Palestina sepenuhnya menolak segala bentuk perwalian asing, pelucutan senjata, dan campur tangan dalam urusan internal Palestina.
Hamdan menambahkan: “Kami tidak membutuhkan kehadiran pasukan asing untuk melucuti senjata; senjata yang tidak mampu direbut oleh rezim pendudukan selama dua tahun perang dan genosida.”
Pejabat Hamas tersebut juga menegaskan bahwa penarikan pasukan pendudukan dari sebagian wilayah Gaza tidak dapat dianggap sebagai mundurnya secara nyata, melainkan hanya merupakan penataan ulang kekuatan. Ia menekankan bahwa rezim Zionis harus kembali pada kondisi sebelum 7 Oktober (15 Mehr 1402).
Menurutnya, penolakan rezim pendudukan untuk membuka kembali perlintasan serta pencegahan masuknya bantuan kemanusiaan merupakan indikasi jelas dari niatnya untuk kembali melancarkan agresi terhadap Jalur Gaza.
Hamdan juga mengkritik peran Amerika Serikat dengan mengatakan: “Jika Amerika tidak berkomitmen pada kewajibannya di satu kawasan, bagaimana mungkin jaminannya dapat dipercaya di kawasan lain?”
Ia menambahkan bahwa berlanjutnya pelanggaran-pelanggaran oleh rezim Zionis semakin melemahkan kredibilitas Amerika Serikat di tingkat internasional—kredibilitas yang pada dasarnya telah tercoreng sejak sebelumnya.


