Doha, Purna Warta – Menurut laporan Al Jazeera, dalam sebuah wawancara media, Herzog ditanya mengenai kapan larangan terhadap media internasional untuk memasuki Jalur Gaza akan dicabut.
Baca juga: ElBaradei: Usulan Trump tentang Gaza Tidak Berguna
Dalam jawabannya, Herzog merujuk pada kondisi keamanan dan menggambarkan kawasan tersebut sebagai wilayah yang “padat dan penuh ancaman.” Ia menyatakan bahwa pembatasan diberlakukan demi melindungi keselamatan para jurnalis dan bahwa isu tersebut masih dalam tahap peninjauan.
Namun, dalam lanjutan jawabannya, Herzog mengalihkan pembahasan ke Iran dan menyerukan kepada para demonstran di Australia agar, alih-alih memprotes rezim Zionis, melakukan aksi protes terhadap Iran. Pernyataan ini oleh banyak pengguna media sosial dinilai tidak relevan dengan pertanyaan yang diajukan.
Sikap tersebut mendapat respons luas di dunia maya. Sejumlah aktivis dan analis mempertanyakan argumentasi “menjaga keselamatan jurnalis” yang dikemukakan, sementara sebagian lainnya menilai pernyataan Herzog sebagai bentuk campur tangan dalam urusan domestik Australia.
Menurut laporan Kantor Berita IRNA, organisasi Reporters Without Borders sebelumnya telah menyerukan pembukaan akses Gaza bagi jurnalis asing dan menyatakan bahwa pelarangan media internasional untuk memperoleh akses independen ke wilayah tersebut telah menempatkan jurnalis Palestina dalam tekanan dan risiko yang lebih besar.
Baca juga: Etika dalam Penangguhan: Epsteinisasi Kekuasaan dalam Politik pasca-Rasa Malu Masa Kini
Pembatasan terhadap masuknya media asing ke Gaza diberlakukan sejak Oktober 2023, bersamaan dengan dimulainya perang, dan hingga kini masih berlangsung—isu yang telah menjadi salah satu topik utama dalam diskusi di kalangan media dan komunitas hak asasi manusia.


