Beijing, Purna Warta – Seorang sumber perdagangan China menyatakan bahwa kerugian yang dialami Amerika Serikat dalam konfrontasi dengan Iran terus meningkat tanpa menghasilkan capaian yang signifikan. Direktur Eksekutif Asosiasi Perdagangan Internasional China, He Weiyun, mengatakan bahwa kenaikan harga minyak memberikan dampak negatif terhadap ekonomi Amerika, sekaligus menegaskan bahwa Washington gagal mencapai tujuan dari operasi-operasinya terhadap Iran.
Dalam wawancara dengan platform ekonomi China “Yicai”, ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat tidak hanya gagal mencapai targetnya dalam konfrontasi dengan Iran, tetapi juga melanggar hukum internasional tanpa hasil yang nyata. Ia menambahkan bahwa upaya untuk mengubah kekuasaan di Teheran tidak membuahkan hasil, sementara biaya yang dikeluarkan sangat besar, baik dari sisi pengeluaran militer maupun kerugian peralatan dan persenjataan.
Ia juga menyoroti bahwa dampak paling menonjol terlihat pada lonjakan harga minyak, yang berimbas negatif pada perekonomian Amerika Serikat. Berdasarkan estimasi Goldman Sachs, jika harga minyak mencapai 100 dolar per barel dan bertahan di level tersebut, maka indeks harga konsumen di Amerika dapat meningkat hingga 3,9% dalam setahun—angka yang dinilai sulit ditanggung oleh masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, sejumlah laporan ekonomi internasional menunjukkan bahwa konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, telah menjadi faktor utama ketidakstabilan pasar energi global. Kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada Amerika, tetapi juga memicu tekanan inflasi di berbagai negara, terutama negara-negara berkembang yang bergantung pada impor energi.
Selain itu, analis global juga memperingatkan bahwa berlanjutnya ketegangan tanpa solusi diplomatik dapat memperburuk kondisi ekonomi dunia, meningkatkan risiko resesi, serta mengganggu rantai pasok energi. Oleh karena itu, banyak pihak mendesak dilanjutkannya perundingan dan upaya de-eskalasi untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi global.


