Roma, Purna Warta – Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mendesak pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap lima aktivis perempuan asal Italia. Mereka termasuk di antara puluhan aktivis yang diculik oleh pasukan Israel dalam aksi penangkapan massal di Tepi Barat yang diduduki pada awal pekan ini.
Menurut Kementerian Luar Negeri Italia, kelima perempuan tersebut diculik oleh otoritas Israel pada Kamis di permukiman ilegal Kiryat Arba, di pinggiran kota al-Khalil (Hebron), wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki. Mereka ditangkap bersama sejumlah aktivis internasional lainnya ketika berupaya melindungi para petani Palestina selama musim panen zaitun.
“Apa yang terjadi tidak dapat diterima. Mereka tidak melakukan kejahatan apa pun,” kata Tajani kepada wartawan di sela-sela sebuah konferensi tingkat tinggi internasional di Istanbul.
Diplomat tertinggi Italia itu menambahkan bahwa dirinya berharap kelima perempuan tersebut dapat dibebaskan dalam hitungan jam.
Menurut sejumlah sumber, otoritas Israel telah memberi tahu para diplomat Italia bahwa kelima perempuan itu diperkirakan akan diserahkan kepada otoritas imigrasi Israel untuk menjalani proses pengusiran dan pemulangan ke negara asal mereka.
Pasukan Israel juga menculik 90 orang, termasuk politisi sekaligus perencana kota asal Amerika Serikat, Bradford Lander, di Tepi Barat pada Rabu. Penangkapan massal ini terjadi ketika serangan oleh para pemukim ilegal Israel dan militer terhadap warga Palestina serta tanah mereka di wilayah pendudukan semakin meningkat selama musim panen zaitun yang dimulai pada awal bulan ini.
Menurut kelompok hak asasi manusia Israel, Rabbis for Human Rights, Lander—yang merupakan kandidat Partai Demokrat untuk daerah pemilihan ke-10 Kongres AS di New York—sedang mendampingi para petani Palestina yang memanen buah zaitun di dekat Bethlehem ketika ia diculik.
Lander dan para aktivis lainnya telah mendampingi para petani tersebut selama sekitar dua jam sebelum penangkapan terjadi.
Rabi Arik Asherman, tokoh lama pegiat hak asasi manusia Israel, menyebut aksi penculikan tersebut sebagai tindakan yang “belum pernah terjadi sebelumnya.”
Pekan lalu, para pemukim ilegal Israel melakukan dua serangan besar yang menyita perhatian publik. Salah satunya menyebabkan Heidi Levine, jurnalis foto The Washington Post, mengalami luka-luka. Serangan lainnya menyasar para diplomat Eropa.
Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterbitkan pada Juli, lebih dari 900 warga Palestina mengalami luka-luka akibat serangan para pemukim sejak awal tahun ini.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa sejak awal tahun, sebanyak 76 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki telah tewas akibat tindakan pasukan Israel atau para pemukim, maupun meninggal dunia karena luka-luka yang mereka derita.


