Israel Tewaskan 119 Warga Palestina di Gaza pada Bulan Paling Mematikan Tahun 2026

dline

Gaza, Purna Warta – Sedikitnya 119 warga Palestina tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza selama bulan Mei, menjadikannya bulan dengan jumlah korban jiwa tertinggi sepanjang tahun 2026 meskipun gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat masih berlaku.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan pada hari Selasa bahwa di antara korban tewas tersebut terdapat sedikitnya 19 anak-anak dan 10 perempuan.

Meningkatnya jumlah korban jiwa terjadi ketika Israel memperhebat serangannya terhadap wilayah yang terkepung itu meskipun terdapat gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan dimaksudkan untuk mengakhiri perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai perang genosida yang dilakukan rezim pendudukan tersebut.

Menurut media lokal, Israel melakukan 11 pelanggaran baru terhadap perjanjian gencatan senjata hanya dalam 24 jam terakhir, yang mengakibatkan sejumlah warga Palestina tewas dan terluka.

Pada Rabu pagi, kendaraan militer Israel melepaskan tembakan hebat ke wilayah timur Khan Younis di Gaza selatan. Pasukan Israel juga menyerang daerah-daerah di sebelah timur kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara.

Sejak 7 Oktober 2023, perang Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 72.942 warga Palestina tewas dan lebih dari 173.011 lainnya terluka.

Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dan diumumkan pada Oktober lalu dimaksudkan untuk menghentikan perang serta memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan, makanan, bahan bakar, dan obat-obatan ke Gaza. Namun, Israel dituduh terus melanggar kesepakatan tersebut dan mempertahankan blokade secara luas, sehingga kondisi kemanusiaan di wilayah padat penduduk dan terkepung itu tetap berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Serangan udara dan penembakan Israel juga terus berlanjut sejak gencatan senjata mulai berlaku, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 939 orang dan melukai 2.889 lainnya.

Hamas Mengecam Serangan yang Terus Berlanjut

Di tengah berlanjutnya serangan, Hamas mengeluarkan beberapa pernyataan yang mengecam apa yang disebutnya sebagai “kejahatan dan pelanggaran” Israel yang terus berlangsung.

Juru bicara militer Hamas, Abu Obeida, mengecam “pembunuhan harian terhadap rakyat kami dan para pejuang perlawanan kami,” merujuk pada pembunuhan sejumlah komandan senior dalam sebulan terakhir.

Ia mengatakan:

“Jika musuh kami yang pengecut membayangkan bahwa mereka dapat melemahkan kami dengan membunuh para pemimpin kami, maka darah mereka justru menjadi bahan bakar yang mendorong kapal perjuangan kami melewati berbagai kesulitan serta menjadi bukti kebenaran perjuangan kami, kepemimpinan kami, persatuan kami dengan rakyat kami, dan kesiapan kami untuk berkorban demi mereka.”

Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Hamas Hazem Qassem menolak tuduhan bahwa gerakan perlawanan tersebut tidak bersedia melepaskan kendali atas Gaza. Ia menyebut tuduhan itu sebagai:

“Kebohongan yang menyesatkan yang bertujuan memberikan pembenaran bagi pendudukan untuk terus melanjutkan agresinya.”

Ia menuduh Israel dan Nickolay Mladenov, direktur jenderal lembaga Amerika yang disebut “Board of Peace”, menghalangi masuknya komite teknokrat ke Gaza untuk mengambil alih administrasi wilayah tersebut dari Hamas.

Kantor Media Pemerintah Gaza: Genosida Berlanjut Melalui Pembatasan Bantuan

Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO), Ismail al-Thawabta, mengatakan bahwa Israel secara sengaja membatasi masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya ke Jalur Gaza melalui penundaan dan penutupan perlintasan sebagai bagian dari strategi sistematis untuk melanjutkan genosida terhadap warga Palestina.

Dalam wawancara yang dimuat surat kabar Palestine pada Rabu, al-Thawabta menyatakan bahwa pembatasan tersebut merupakan keputusan politik dan militer yang bertujuan memperdalam krisis kemanusiaan dan memperkuat blokade terhadap lebih dari dua juta warga Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika jumlah bantuan yang masuk ke Gaza masih jauh di bawah kebutuhan kemanusiaan yang terus meningkat maupun jumlah yang telah disepakati dalam perjanjian sebelumnya.

Menurut al-Thawabta, perjanjian mengharuskan masuknya 139.200 truk bantuan dan komersial, tetapi Israel hanya mengizinkan 50.636 truk untuk masuk. Ia menggambarkan kebijakan tersebut sebagai:

“Kelaparan yang disengaja” yang menargetkan warga sipil.

Ia memperingatkan bahwa Gaza sedang bergerak cepat menuju kondisi kelaparan massal. Kekurangan sekitar 64 persen dalam jumlah truk bantuan dan pasokan kebutuhan pokok telah mendorong sekitar 2,4 juta warga Palestina ke ambang kelaparan dan kehausan.

Al-Thawabta juga mengatakan bahwa Israel telah menolak ribuan pasien dan korban luka untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza, yang saat ini masih menghadapi kekurangan parah obat-obatan, peralatan medis, dan perlengkapan kesehatan.

Menurutnya, hanya 5.836 orang yang diizinkan meninggalkan Gaza, padahal berdasarkan perjanjian seharusnya 17.800 orang diperbolehkan melakukan perjalanan keluar wilayah tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa Israel terus menghalangi masuknya bahan bakar diesel dalam jumlah yang memadai serta suku cadang untuk generator listrik, yang berdampak langsung pada infrastruktur dan layanan penting di seluruh Gaza.

Sambil memperingatkan kemungkinan terjadinya keruntuhan kemanusiaan secara menyeluruh jika situasi ini terus berlanjut, al-Thawabta menyerukan kepada para mediator, khususnya Mesir dan Qatar, serta masyarakat internasional secara luas agar mengambil langkah nyata untuk mendorong Israel mematuhi perjanjian gencatan senjata dan membuka seluruh perlintasan Gaza secara permanen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *