Zagreb, Purna Warta – Sebuah pesawat yang disewa oleh maskapai penerbangan berbiaya rendah Israel, Israir, terpaksa mengalihkan penerbangannya ke Kroasia setelah otoritas Slovenia menolak memberikan izin pendaratan.
Pesawat tersebut, yang dioperasikan oleh perusahaan Kroasia Trade Air atas nama Israir, mengubah rute menuju Kroasia setelah pihak berwenang Slovenia menolak izinnya untuk mendarat. Informasi ini dilaporkan oleh lembaga penyiaran publik Israel, KAN.
Direktur Utama Israir, Uri Sirkis, menyebut tindakan tersebut sebagai keputusan yang “bermotif politik.” Menurutnya, langkah itu merupakan akibat dari “penentangan yang jelas Slovenia terhadap kebijakan dan arah yang ditempuh oleh Israel.”
Dalam pernyataannya, Sirkis mengatakan:
“Penerbangan Israir yang dijadwalkan tiba di Ljubljana terpaksa dialihkan ke Zagreb karena otoritas di Ljubljana menolak memberikan hak pendaratan kepada maskapai-maskapai Israel, akibat penolakan politik mereka yang kuat terhadap jalur yang dikelola oleh pemerintahan Israel. Hal ini merupakan pelanggaran yang jelas terhadap perjanjian penerbangan Uni Eropa.”
Hingga kini, pemerintah Slovenia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait masalah tersebut.
Pada Juni 2024, Slovenia bergabung dengan Norwegia, Spanyol, dan Irlandia dalam mengakui Palestina sebagai negara berdaulat.
Sejak saat itu, Slovenia menjadi salah satu negara Eropa yang paling vokal dalam mengecam perang Israel di Gaza, yang oleh berbagai pihak dituduh sebagai tindakan genosida terhadap rakyat Palestina.


