Israel Membakar Lebih dari 120 Hektare Kebun Zaitun Berusia Ratusan Tahun di Lebanon Selatan

120

Al-Quds, Purna Warta – Pasukan pendudukan Israel dilaporkan membakar lebih dari 120 hektare kebun zaitun dan kebun buah-buahan yang telah berusia ratusan tahun di Lebanon selatan, menurut pejabat setempat. Insiden ini terjadi ketika operasi militer Israel terus berlanjut meskipun pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat antara Beirut dan Tel Aviv masih berlangsung.

Harian Lebanon L’Orient-Le Jour melaporkan bahwa pasukan Israel membakar lebih dari 120 hektare (1.200 dunam) kebun zaitun dan kebun buah di kota perbatasan Yaroun, Distrik Bint Jbeil. Kobaran api berlangsung selama lebih dari 36 jam.

Ketua Pemerintah Kota Yaroun, Hafez Ghacham, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa warga tidak dapat berbuat apa pun selain menyaksikan kebakaran melahap pohon-pohon zaitun yang telah ditanam selama beberapa generasi karena pasukan Israel menghalangi akses ke wilayah yang terdampak.

“Hati saya hancur melihat pemandangan itu. Bersama beberapa warga, kami hanya bisa menyaksikan ladang-ladang terbakar hingga meneteskan air mata,” kata Ghacham. “Rumah dapat dibangun kembali, tetapi pohon-pohon zaitun tua membutuhkan puluhan tahun untuk kembali seperti semula.”

Ia menambahkan bahwa baik warga maupun tim pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau lokasi akibat keberadaan pasukan Israel, sehingga api terus menyebar tanpa dapat dikendalikan.

Ghacham menggambarkan kerusakan tersebut sebagai serangan terhadap sejarah, identitas, dan sumber mata pencaharian Yaroun. Menurutnya, kebun-kebun zaitun itu telah dibudidayakan oleh keluarga-keluarga setempat selama beberapa generasi.

Ia memperkirakan lahan yang terbakar seharusnya mampu menghasilkan ribuan kaleng minyak zaitun. Setiap dunam umumnya menghasilkan sekitar enam kaleng minyak zaitun dengan nilai sekitar 150 dolar AS per kaleng.

Ghacham juga menegaskan bahwa kerusakan tersebut berdampak pada seluruh komunitas tanpa memandang agama.

“Api tidak membedakan kebun zaitun milik warga Kristen maupun Muslim,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehancuran tersebut menyangkut “seluruh wilayah selatan: tanahnya, rakyatnya, budayanya, martabatnya, dan sejarahnya.”

Pemerintah Kota Yaroun menyatakan akan menyerahkan dokumentasi mengenai kerusakan tersebut kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pemerintah kota menilai pasukan Israel tidak hanya menargetkan kawasan permukiman, tetapi juga lingkungan hidup, lahan pertanian, dan warisan budaya di Lebanon selatan.

Peristiwa di Yaroun terjadi hanya beberapa hari sebelum putaran ketujuh perundingan yang dimediasi Amerika Serikat antara pemerintah Lebanon yang pro-Barat dan Israel.

Pada Senin, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qassem, mengkritik proses perundingan tersebut. Ia mengatakan bahwa putaran-putaran sebelumnya hanya menghasilkan “kehinaan, kerendahan martabat, kekecewaan, dan konsesi yang terus-menerus” bagi Lebanon, sementara menguntungkan Israel.

Ia juga menyatakan bahwa melanjutkan negosiasi di bawah tekanan militer tidak sejalan dengan upaya menjaga kedaulatan Lebanon.

Pada 26 Juni, sebuah kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika Serikat ditandatangani. Kesepakatan itu mengatur penarikan bertahap pasukan pendudukan Israel dari Lebanon selatan, disertai pengerahan Angkatan Bersenjata Lebanon.

Namun sejak kesepakatan tersebut ditandatangani, Israel disebut terus melancarkan operasi militer di Lebanon selatan, termasuk serangan udara, penghancuran bangunan, dan pembakaran rumah-rumah di kota-kota perbatasan.

Dalam pernyataan terbarunya, Angkatan Bersenjata Lebanon menyatakan bahwa penghancuran rumah secara sistematis, operasi pembuldozeran, pengeboman, dan penembakan di sejumlah wilayah telah menghambat pengerahan penuh pasukan Lebanon sesuai kesepakatan serta menghalangi warga untuk kembali ke desa-desa mereka.

Militer Israel disebut sengaja menghancurkan kawasan permukiman dan infrastruktur sipil di Lebanon selatan dengan tujuan menjadikan sebagian wilayah tersebut tidak lagi layak dihuni.

Menurut otoritas kesehatan Lebanon, serangan Israel di negara itu telah menyebabkan sedikitnya 4.333 orang tewas dan 12.236 orang terluka sejak awal Maret.

Dalam ofensif yang sedang berlangsung, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *