Al-Quds, Purna Warta – Israel telah mendeportasi dua aktivis yang sebelumnya diculik oleh rezim tersebut dari armada Global Sumud Flotilla yang menuju Gaza di perairan internasional.
Baca juga: “Algojo Abad Ini”: Kelompok HAM Kecam Menteri Israel Ben-Gvir karena Dorong Eksekusi Warga Palestina
Saif Abu Keshek dan Thiago Avila termasuk di antara puluhan aktivis yang berlayar bersama armada tersebut ketika dicegat oleh angkatan laut Israel di lepas pantai pulau Kreta, Yunani, pada 30 April.
Keduanya ditangkap oleh pasukan Israel dan dibawa ke wilayah pendudukan untuk diinterogasi, sementara aktivis lainnya dibawa ke Kreta dan dibebaskan.
Dalam sebuah video yang dibagikan di media sosial, Abu Keshek mengatakan bahwa dirinya telah tiba di Athena dan menyampaikan terima kasih kepada tim hukumnya.
“Saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang bergerak membantu, tim hukum kami Adalah, keluarga saya, istri dan anak-anak saya, serta rekan-rekan saya dalam gerakan ini,” katanya dalam video yang dibagikan oleh Global Sumud Flotilla di platform X.
Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim bahwa Abu Keshek dicurigai memiliki hubungan dengan organisasi “teroris”, sementara Avila dituduh terlibat dalam aktivitas ilegal.
Keduanya dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa mereka menjalankan misi kemanusiaan bagi warga sipil Gaza, serta menilai penangkapan mereka di perairan internasional sebagai tindakan ilegal.
Global Sumud Flotilla berlayar dari Prancis, Spanyol, dan Italia dengan tujuan menembus blokade Israel terhadap Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina yang dilanda perang tersebut.
Pelayaran pertama armada itu tahun lalu juga dicegat oleh pasukan Israel di lepas pantai Mesir dan Gaza.
Rezim Israel mengendalikan seluruh jalur masuk ke Gaza, yang telah berada di bawah blokade Israel sejak tahun 2007.
Baca juga: Pemuda Palestina Tewas dalam Serangan Penikaman di Dekat Pos Pemeriksaan al-Quds
Sejak Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan sedikitnya 172.000 lainnya terluka, sebagian besar di antaranya anak-anak dan perempuan.
Selain itu, rezim Israel disebut telah menghancurkan infrastruktur sipil Gaza, termasuk rumah sakit, sekolah, fasilitas olahraga, pembangkit listrik, penampungan air, dan kawasan permukiman.
Akibatnya, warga Gaza menjadi pengungsi di wilayah yang terkepung tersebut dan sepenuhnya bergantung pada bantuan asing yang sangat jarang dapat masuk karena blokade Israel.


