Doha, Purna Warta – Khalil al-Hayya, salah satu pemimpin senior gerakan perlawanan Palestina Hamas sekaligus kepala tim negosiasi kelompok tersebut, menegaskan bahwa rezim Israel telah gagal mencapai tujuan-tujuannya melalui perang genosida yang telah berlangsung lebih dari dua tahun di Jalur Gaza.
Baca juga: LSM Palestina Desak Penuntutan Pasukan Inggris-Israel atas Kejahatan Perang Genosida di Gaza
“Pendudukan telah gagal mencapai tujuannya selama dua tahun perang,” ujar al-Hayya dalam wawancaranya dengan jaringan televisi Qatar, Al Jazeera, pada Sabtu (26/10).
Pernyataan itu merujuk pada tujuan rezim pendudukan untuk menduduki sepenuhnya wilayah pesisir Gaza dan mengusir lebih dari dua juta penduduknya melalui genosida yang dimulai pada Oktober 2023.
Tel Aviv melancarkan perang tersebut sebagai tanggapan atas operasi perlawanan besar-besaran yang berhasil menawan ratusan warga Zionis. Rezim itu juga mengklaim bahwa tindakan genosida dilakukan untuk memungkinkan pemulangan para tawanan, namun tujuan tersebut juga gagal tercapai.
Awal bulan ini, Hamas dan rezim Israel mencapai kesepakatan melalui perundingan tidak langsung yang difasilitasi Mesir.
Kesepakatan itu mencakup tahap pertama gencatan senjata berdasarkan rencana 20 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump, yang disebutnya bertujuan mengakhiri genosida di Gaza.
‘Trump Mengatakan Perang Telah Usai, Namun Israel Masih Menghalangi’
Al-Hayya mengutip pernyataan Trump yang mengatakan bahwa “perang telah berakhir,” dan menambahkan bahwa pejabat-pejabat Amerika terus mengeluarkan pernyataan serupa setiap hari.
Namun, ia menyoroti pelanggaran Israel terhadap kesepakatan, termasuk pencegahan masuknya sejumlah barang penting ke Gaza, “seolah-olah perang masih berlangsung.”
“Kondisi kemanusiaan membuat kami sangat khawatir, dan pendudukan terus menghalangi masuknya bantuan ke Gaza,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Presiden AS memiliki kemampuan untuk mengekang tindakan rezim Israel.
‘Hamas Tidak Akan Beri Israel Alasan untuk Melanjutkan Agresi’
Al-Hayya menyampaikan bahwa gerakannya telah memberitahu Washington bahwa Hamas menginginkan stabilitas dan tidak akan memberi alasan bagi Israel untuk melanjutkan perang.
Baca juga: Pasukan Israel Lakukan Serangan Baru ke Quneitra, Suriah, dan Dirikan Pos Pemeriksaan
Ia menambahkan bahwa Hamas akan memenuhi bagiannya dalam kesepakatan, termasuk menyerahkan jenazah tawanan Israel yang telah meninggal, meskipun pengambilan jenazah terhambat oleh kehancuran besar akibat perang.
“Kami telah menyerahkan 20 tawanan Israel dalam waktu 72 jam setelah gencatan senjata,” ujarnya. “Kami juga telah menyerahkan 17 dari 28 jenazah tawanan Israel.”
Ia menambahkan bahwa “wilayah baru akan dimasuki pada hari Minggu untuk mencari beberapa jenazah lainnya.”
‘Hamas Berkomitmen pada Persatuan Nasional’
Pejabat tersebut menegaskan bahwa Hamas juga berkomitmen untuk menyerahkan administrasi Gaza kepada badan Palestina yang berwenang.
“Kami tidak memiliki keberatan terhadap tokoh nasional mana pun yang tinggal di Gaza untuk mengelola wilayah ini. Kami ingin menuju pemilu sebagai langkah awal menuju rekonsiliasi dan persatuan nasional,” katanya.
“Kami adalah satu bangsa, dan kami menginginkan satu otoritas serta satu pemerintahan.”
Ia menambahkan bahwa Hamas telah mencapai kesepakatan dengan gerakan Fatah, yang berbasis di Tepi Barat, bahwa pasukan tugas PBB akan memantau perbatasan dan gencatan senjata di Gaza serta turut terlibat dalam upaya rekonstruksi wilayah.
Soal Senjata Perlawanan
Menanggapi isu senjata kelompok perlawanan, al-Hayya menegaskan bahwa senjata-senjata itu terkait langsung dengan keberadaan pendudukan dan agresi Israel.
“Jika pendudukan berakhir, maka senjata-senjata ini akan menjadi milik negara,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa isu senjata masih dibahas dengan berbagai faksi dan mediator, dan bahwa kesepakatan ini masih berada pada tahap awal.


