Al-Quds, Purna Warta – Sebuah kelompok advokasi tahanan Palestina menyatakan bahwa Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara yang ditahan oleh Israel sejak 2024, mengalami patah tulang akibat dugaan pemukulan berat selama berada dalam tahanan di sebuah penjara Israel.
Kantor Media Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners’ Media Office) dalam pernyataannya pada Rabu menyebutkan bahwa Abu Safiya mengalami pemukulan berat di fasilitas penahanan Rakefet yang berada di Penjara Nitzan. Hasil pemeriksaan CT scan dilaporkan menunjukkan adanya patah tulang rusuk serta memar pada tubuhnya.
Kelompok hak tahanan tersebut menyebut tanggal 27 Juli sebagai hari yang paling berat bagi Dr. Abu Safiya sejak ia ditangkap.
Menurut pernyataan tersebut, petugas penjara terus melakukan tindakan kekerasan terhadap Direktur Rumah Sakit Gaza itu meskipun kondisi kesehatannya kritis dan ia telah mengalami patah tulang rusuk.
Kelompok pembela hak tahanan Palestina tersebut juga menyoroti memburuknya kondisi kesehatan Abu Safiya. Mereka menyatakan bahwa dokter tersebut menderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, serta mengalami berbagai cedera akibat dugaan pemukulan selama masa penahanan.
Kelompok itu menegaskan bahwa rezim Israel harus bertanggung jawab atas keselamatan dan kondisi kesehatan Dr. Abu Safiya mengingat dugaan serangan fisik yang terus berlanjut serta pengabaian terhadap kebutuhan medisnya.
Militer Israel menangkap Dr. Hussam Abu Safiya, Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan, pada 27 Desember 2024 setelah menggerebek rumah sakit tersebut, membawanya secara paksa dengan todongan senjata, serta menyebabkan sebagian besar fasilitas rumah sakit tidak lagi dapat beroperasi.
Abu Safiya sebelumnya mengalami luka-luka pada 24 November 2024 akibat serangan udara Israel yang menargetkan rumah sakit tersebut. Meski demikian, ia memilih tetap berada di rumah sakit untuk merawat para pasien, bahkan setelah putranya meninggal dalam serangan Israel sebelumnya pada 26 Oktober 2024.
Ia ditahan berdasarkan Undang-Undang Kombatan Tidak Sah (Unlawful Combatants Law) Israel tanpa dakwaan maupun proses peradilan, di tengah tuduhan penyiksaan serta tidak memadainya pelayanan medis yang diterimanya. Kantor Media Tahanan Palestina melaporkan pada 3 Juni 2026 bahwa Abu Safiya telah dipindahkan ke sel isolasi.
Menurut organisasi-organisasi pembela hak tahanan Palestina, Israel saat ini menahan sekitar 9.500 warga Palestina, termasuk 350 anak-anak, 99 perempuan, dan 3.244 tahanan administratif, di tengah berbagai laporan mengenai dugaan penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian layanan kesehatan terhadap para tahanan.
Sejak dimulainya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023, yang dalam naskah sumber disebut sebagai genosida, sekitar 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 173.000 lainnya terluka, sementara hampir 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut disebut telah hancur.


