Gaza, Purna Warta – Pasukan keamanan kelompok perlawanan menangkap sejumlah orang yang dituduh bekerja sebagai agen Israel di wilayah selatan Jalur Gaza karena diduga membocorkan posisi dan lokasi kelompok perlawanan.
Menurut laporan berita di Palestina, yang mengutip seorang sumber keamanan kepada jaringan Quds pada Senin, sejumlah mata-mata yang disebut memiliki keterkaitan dengan Israel telah ditangkap di bagian selatan Jalur Gaza. Sumber tersebut mengatakan bahwa aparat keamanan kelompok perlawanan berhasil mengidentifikasi dan menangkap sejumlah orang yang keterlibatannya dalam membocorkan posisi serta titik-titik yang digunakan kelompok perlawanan di kawasan tersebut disebut telah terbukti.
Sumber itu menambahkan bahwa dalam pemeriksaan awal, salah seorang tersangka mengaku terlibat dalam sebuah operasi yang kemudian menyebabkan terbunuhnya sejumlah anggota kelompok perlawanan. Sumber keamanan tersebut juga menyatakan bahwa penangkapan itu merupakan pukulan serius terhadap jaringan intelijen Israel di Gaza Selatan, sementara penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak-pihak lain yang diduga terlibat masih berlangsung.
Berita tersebut muncul di tengah situasi Gaza yang masih sangat rentan meskipun telah ada gencatan senjata. Pada 4 September 2026, Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyatakan bahwa kekerasan di Gaza masih berlangsung dan bahwa 24 warga Palestina tewas dalam serangan Israel antara 28 Agustus dan 1 September, termasuk empat anak dan seorang perempuan. PBB menegaskan bahwa kewajiban berdasarkan hukum humaniter internasional tetap berlaku, termasuk ketika Israel menyatakan sedang mengejar target tertentu.
Pada 6 September, Reuters melaporkan bahwa serangan Israel di Kota Gaza menewaskan seorang ayah dan putrinya yang berusia delapan tahun, sementara beberapa serangan lainnya pada hari yang sama juga menewaskan warga Palestina, termasuk seorang anak berusia tiga tahun. Menurut laporan tersebut, pihak Hamas menganggap Israel telah melanggar gencatan senjata.
Di Tepi Barat, kekerasan juga kembali meningkat. Reuters melaporkan pada 7 September bahwa dua warga Palestina tewas dalam insiden terpisah yang berkaitan dengan serangan dari pemukim Israel dan pasukan Israel. Peristiwa tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap kekerasan pemukim serta aktivitas permukiman Israel di wilayah pendudukan.
Sementara itu, persoalan kemanusiaan di Gaza tetap sangat berat. AP melaporkan bahwa warga Palestina mulai menggunakan batu bata lumpur, kayu, kain, dan plastik untuk membangun kembali rumah serta tempat usaha mereka karena material bangunan konvensional masih sulit diperoleh. Banyak warga bahkan membangun tempat tinggal baru di atas reruntuhan rumah mereka yang hancur.


