Al-Quds, Purna Warta – Gerakan Zionisme, yang secara resmi didirikan pada tahun 1897 di kota Basel, Swiss, sejatinya telah memulai aktivitasnya beberapa dekade sebelumnya. Fokus utama mereka adalah membangun permukiman Yahudi di tanah Palestina, sebagai langkah awal pendudukan.
Baca juga: Blok 12 Negara Menentang AS, Tegakkan Hukum Hentikan Genosida Israel di Gaza
Permukiman pertama dibangun pada masa kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah pasca Konferensi London tahun 1840—periode yang dikenal sebagai fase kolonisasi oleh keluarga Rothschild. Hingga akhir dekade 1880-an, sebanyak 39 permukiman berhasil didirikan dan dihuni oleh sekitar 12.000 pemukim Zionis.
Setelah terbentuknya Gerakan Zionisme dan gagasan pendirian “Tanah Air bagi Bangsa Yahudi” di Palestina, langkah-langkah pendudukan menjadi lebih terbuka. Hasilnya, melalui lobi intensif tokoh-tokoh seperti Theodor Herzl, Inggris menerbitkan Deklarasi Balfour tahun 1917, yang menyatakan dukungan resmi Inggris terhadap pendirian tanah air Yahudi di Palestina.
Periode Mandat Inggris: Awal Gelombang Migrasi Besar
Pada masa Mandat Inggris, migrasi besar-besaran Zionis ke Palestina dimulai. Inggris, alih-alih mempersiapkan kemerdekaan Palestina, justru membuka jalan bagi pemukiman Zionis. Jumlah penduduk Yahudi yang semula hanya 5% dari total populasi Palestina, meningkat drastis hingga mencapai 30% pada tahun 1948, saat berdirinya entitas Zionis.
Awal Genosida dan Kejahatan Sistematis Zionis
Meskipun pembantaian sudah terjadi selama Mandat Inggris, kejahatan sistematis dimulai secara intensif setelah proklamasi pendirian Israel pada 14 Mei 1948. Dengan dukungan Barat, Zionis melancarkan aksi pembersihan etnis terhadap warga Palestina. Lebih dari 500 desa dan kota kecil Palestina diduduki, dibakar, dan dihancurkan, sementara penduduknya dipaksa mengungsi.
Menurut data PBB, sekitar 900.000 warga Palestina diusir dari tanah mereka. Namun, jumlah korban jiwa pada masa itu tidak diketahui secara pasti. Menurut statistik terbaru Otoritas Palestina, hingga sebelum Operasi Badai Al-Aqsha tahun 2023, jumlah syuhada Palestina mencapai 150.000 orang.
Nakbah Baru di Jalur Gaza
Setiap tahun, rakyat Palestina mengenang tragedi Nakbah 1948, tetapi penderitaan tersebut tak pernah berhenti. Kini, dunia menyaksikan pembentukan Nakbah baru yang lebih besar dan brutal, khususnya di Gaza.
Zionis, yang sejak awal melancarkan proyek ambisius “Dari Sungai Nil ke Sungai Efrat”, memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperluas wilayah pendudukan. Setelah terancam eksistensinya dalam Operasi Badai Al-Aqsha, Israel kembali melancarkan serangan brutal di Gaza dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa.
Baca juga: Israel Serang Satu-Satunya Gereja Katolik di Jalur Gaza; Dua Tewas, Beberapa Luka-Luka
Dalam hampir 800 hari perang sepihak di Gaza, infrastruktur wilayah itu hancur lebih dari 90%. Di Gaza Utara, lebih dari 70% bangunan luluh lantak. Jika pada 1948 ada 900.000 pengungsi Palestina, kini lebih dari 2,2 juta warga Gaza terusir dan kelaparan—target dari proyek “Deal of the Century” (Kesepakatan Abad Ini) yang digagas Donald Trump.
Dengan sekitar 60.000 syuhada dan 15.000 orang hilang, yang sebagian besar diyakini juga gugur namun belum ditemukan di bawah puing-puing, angka korban mendekati setengah dari total syuhada Palestina sejak 1948.
Nakbah Gaza Hari Ini Lebih Parah dari 1948
Nakbah hari ini di Gaza jauh lebih besar daripada tragedi 1948. Ironisnya, semua ini terjadi di tengah diamnya total dunia Barat dan masyarakat internasional. Namun, satu hal yang tak pernah dipahami oleh Barat dan Zionisme adalah dampak darah para syuhada, yang kelak akan menjadi akhir dari rezim pendudukan dan para pendukungnya.


