Al-Quds, Purna Warta – Menurut laporan pemberitan internasional, meningkatnya agresi tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat selama beberapa bulan terakhir—khususnya setelah berakhirnya gencatan senjata rapuh di Gaza—telah memicu meningkatnya aktivitas perlawanan warga Palestina.
Baca juga: Netanyahu Hadir di Pengadilan Setelah Mengajukan Permohonan Pengampunan Dalam Kasus Korupsi
Pusat Informasi Palestina melaporkan bahwa selama bulan November, warga Palestina melakukan 341 aksi perlawanan rakyat di Tepi Barat dan Yerusalem. Dalam aksi-aksi tersebut, satu warga Israel tewas, sementara delapan lainnya terluka.
Pusat tersebut juga mencatat 27 operasi tingkat lanjut selama bulan November, serta menyebutkan bahwa Tepi Barat dan Yerusalem menyaksikan 10 insiden penembakan dan bentrokan bersenjata. Selain itu, terjadi 16 serangan menggunakan bahan peledak yang menargetkan pasukan dan kendaraan militer Israel.
Laporan itu menambahkan bahwa warga Palestina melakukan 48 aksi untuk menghadang serangan para pemukim Israel terhadap desa-desa dan kota-kota di Tepi Barat. Dalam rangkaian konfrontasi lapangan itu pula, terjadi 228 bentrokan antara pemuda Palestina dan tentara Israel, sebagai respons terhadap serangan berulang pasukan pendudukan.
Sementara itu, aksi-aksi perlawanan dalam beberapa hari terakhir meningkat bersamaan dengan operasi militer besar-besaran Israel di bagian utara Tepi Barat. Dalam rentang kurang dari 12 jam—dari Senin malam hingga Selasa pagi—terjadi dua operasi perlawanan di dekat Hebron dan Ramallah utara, yang menurut data sensor Israel menyebabkan setidaknya tiga tentara Israel luka-luka.
Sebelumnya, kelompok-kelompok perlawanan Palestina dalam pernyataan terpisah menegaskan bahwa pembunuhan harian dan serangan pemukim terhadap desa dan kota Palestina hanya akan menghasilkan dampak berlawanan bagi Israel, yaitu semakin meningkatnya perlawanan di Tepi Barat.
Baca juga: Italia Akan Mendeportasi Seorang Ulama Mesir Karena Pernyataannya yang Mendukung Palestina
Kelompok-kelompok tersebut juga memperingatkan kemungkinan meletusnya intifadah baru di Tepi Barat, dan menyatakan bahwa kebijakan agresif dan kriminal Israel mendorong rakyat Palestina untuk memperluas perlawanan demi membela tanah air dan tempat-tempat suci mereka.
Di sisi lain, lembaga-lembaga keamanan Israel memperingatkan bahwa kelemahan serius dalam struktur keamanan Israel di Tepi Barat, ditambah sikap pemerintah yang melemahkan kemampuan militer menghadapi kekerasan pemukim, serta meningkatnya mobilitas kelompok-kelompok pemukim ekstrem yang didukung kabinet, telah menjadikan Tepi Barat sebagai wilayah yang memanas dan berpotensi meledak sewaktu-waktu.


