Purna Warta – Para pemimpin Perancis dan Hungaria dengan tegas mengecam kesepakatan dagang baru antara AS dan Uni Eropa, menyebutnya sebagai konsesi yang memalukan kepada Washington dan pukulan terhadap kedaulatan Eropa.‘
Baca juga: Kementerian Intelijen Iran Merinci Taktik Kontraintelijen Selama Perang Israel-AS
Perdana Menteri Perancis, François Bayrou, menggambarkan kesepakatan dagang—yang dicapai pada hari Minggu (27 Juli 2025) oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen—sebagai “hari kelam” bagi Eropa.
“Ini adalah hari kelam ketika sebuah aliansi rakyat-rakyat merdeka, yang bersatu untuk menegaskan nilai-nilai mereka dan membela kepentingan mereka, justru memilih untuk tunduk,” kata Bayrou dalam sebuah unggahan di X.
Kesepakatan tersebut menetapkan tarif dasar sebesar 15% atas ekspor UE ke Amerika Serikat, yang bertujuan untuk menghindari konflik dagang yang lebih dalam, namun justru memicu kemarahan politik di Perancis.
Presiden Emmanuel Macron sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan, tetapi para anggota parlemen dari berbagai spektrum politik menyuarakan kemarahan.
Jordan Bardella, pemimpin partai sayap kanan jauh Rassemblement National, mengatakan bahwa von der Leyen telah mengawasi “penyerahan komersial Eropa” kepada Washington.
Marine Le Pen menyebut kesepakatan tersebut sebagai “fiasco politik, ekonomi, dan moral.”
Bahkan sekutu Macron di parlemen pun mengkritik perjanjian ini. Pieyre-Alexandre Anglade, ketua Komite Urusan Eropa di Majelis Nasional, mengatakan bahwa kesepakatan tersebut mengirim “sinyal kelemahan kepada para pesaing kita” dan mendesak para pemimpin UE untuk membatalkannya.
Philippe Latombe, anggota partai Gerakan Demokratik (MoDem) yang dipimpin Bayrou, menyatakan bahwa UE telah membayar harga yang sangat mahal demi menghindari perang dagang.
“Itu terjadi dengan mengorbankan kepatuhan yang tercela dan pengorbanan seluruh sektor dari kedaulatan kita,” ujarnya.
Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, juga menyuarakan kritik serupa, dengan nada mengejek mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump “memakan von der Leyen untuk sarapan.”
Dalam sebuah siaran langsung, Orbán membandingkan perjanjian ini secara tidak menguntungkan dengan kesepakatan sebelumnya antara Inggris dan AS, dan menyebut bahwa syarat-syarat UE jauh “kurang menguntungkan.”
Baca juga: Kemarin Saddam, Hari Ini Netanyahu: Apakah Jerman Menjadi Negara Paling Dibenci di Eropa?”
Orbán mengkritik von der Leyen sebagai negosiator yang lemah, dan memperingatkan bahwa kesepakatan ini akan merugikan ekonomi Hungaria yang sangat bergantung pada ekspor, terutama di sektor otomotif dan farmasi.
Sementara para pejabat Uni Eropa membela kesepakatan tersebut sebagai cara untuk memulihkan stabilitas perdagangan, banyak pihak di seluruh Eropa justru melihatnya sebagai bukti lebih lanjut dari ketergantungan UE yang semakin dalam terhadap Washington.
Reaksi keras ini menyoroti perpecahan yang semakin dalam di dalam UE, dengan semakin banyaknya seruan agar blok tersebut mengevaluasi ulang orientasi ekonomi dan geopolitiknya terhadap Amerika Serikat.


