New York, Purna Warta – Seorang mantan pejabat tinggi hak asasi manusia PBB sekaligus ketua tribunal genosida Rwanda menegaskan bahwa Israel sedang melakukan genosida di Jalur Gaza yang terkepung, sambil menarik perbandingan dengan tragedi genosida Rwanda pada 1990-an.
Baca juga: Hakim AS Perintahkan Deportasi Aktivis Pro-Palestina Mahmoud Khalil ke Suriah atau Aljazair
Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada Selasa oleh Independent International Commission of Inquiry (COI) yang ia pimpin, Navi Pillay—mantan hakim Afrika Selatan yang memimpin tribunal genosida Rwanda 1994 sekaligus mantan kepala hak asasi manusia PBB—menekankan bahwa “genosida sedang berlangsung di Gaza” oleh rezim pendudukan.
Pillay juga menegaskan bahwa para pemimpin Israel—termasuk Presiden Isaac Herzog dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu—telah menghasut terjadinya genosida dan pada akhirnya bisa menghadapi penangkapan serta pengadilan, meski ia mengakui bahwa proses keadilan “berjalan lambat.”
“Saya menganggap tidak mustahil akan ada penangkapan dan pengadilan di masa depan,” ujarnya.
Hakim senior asal Afrika Selatan itu menambahkan, terdapat kemiripan yang jelas antara pembantaian mengerikan di Rwanda sekitar tiga dekade lalu dan pembunuhan massal yang terjadi di Gaza, terutama dalam hal dehumanisasi terhadap kelompok yang menjadi sasaran.
Pada 1994, Rwanda mengalami genosida selama sekitar 100 hari, yang menewaskan sekitar 800.000 orang, sebagian besar etnis Tutsi dan Hutu moderat, oleh milisi ekstremis Hutu. Pembantaian tersebut dipicu ketegangan etnis yang telah lama berlangsung dan krisis politik setelah pembunuhan Presiden Juvénal Habyarimana.
Kecepatan dan kebrutalan kekerasan di negara Afrika itu mengejutkan dunia, sementara kegagalan intervensi internasional yang efektif memperburuk tragedi tersebut.
“Saya melihat adanya kesamaan dengan apa yang terjadi di Gaza,” kata Pillay, seraya menunjuk pada “metode-metode yang serupa.”
Di Rwanda, etnis Tutsi disebut sebagai “kecoak”, sementara para pemimpin Israel, menurutnya, menyebut warga Palestina sebagai “hewan,” menciptakan kondisi yang melegitimasi kekerasan terhadap mereka.
“Semua bukti menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran di Gaza adalah orang Palestina sebagai sebuah kelompok,” tegas Pillay yang kini berusia 83 tahun.
Baca juga: Apakah Kemungkinan Perang Turki dengan Rezim Zionis Ada?
Ia juga menggambarkan bukti dari Gaza, termasuk rekaman pembunuhan dan kekerasan seksual, sebagai sesuatu yang sangat traumatis, menekankan bahwa warga Palestina ditargetkan sebagai kelompok dengan cara-cara yang mengingatkan pada metode genosida Rwanda.
Meski tantangannya besar, Pillay menyatakan harapan bahwa akuntabilitas bisa tercapai, membandingkannya dengan berakhirnya apartheid di Afrika Selatan yang dulu terasa mustahil.
“Saya tidak pernah menyangka apartheid akan berakhir dalam hidup saya,” tambahnya.
Komisi COI berencana mendokumentasikan pelaku yang dicurigai serta menyelidiki peran negara-negara yang mendukung Israel. Pillay sendiri akan mengundurkan diri pada November mendatang karena alasan usia dan kesehatan, namun sebelum itu ia berniat menyampaikan laporan tersebut kepada Majelis Umum PBB.
Sejak rezim Israel melancarkan kampanye genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023, sedikitnya 65.062 orang telah terbunuh dan 165.697 lainnya terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak.


