Al-Quds, Purna Warta – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut bertekad melakukan “pembersihan menyeluruh” di Jalur Gaza, dengan menguraikan strategi militer yang lebih luas yang tidak hanya mencakup pengaturan gencatan senjata, tetapi juga penguasaan jangka panjang atas wilayah Gaza yang terkepung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Sains dan Teknologi Israel, Gila Gamliel, pada hari Sabtu ketika membahas apa yang disebut sebagai strategi keamanan regional Israel.
Menurut pernyataannya, Netanyahu tetap berkomitmen melanjutkan serangan berskala besar terhadap Gaza meskipun berbagai upaya diplomatik untuk mencapai atau mempertahankan gencatan senjata masih berlangsung. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan Israel membayangkan operasi militer yang melampaui tujuan-tujuan taktis yang terbatas.
Pernyataan Gamliel mengenai “pembersihan menyeluruh” menunjukkan pendekatan yang lebih luas terhadap Gaza, meskipun ia tidak memberikan rincian mengenai bagaimana strategi tersebut akan diterapkan maupun berapa lama pelaksanaannya akan berlangsung.
Pernyataan itu memberikan gambaran yang jarang muncul mengenai cara pandang internal rezim Israel terhadap masa depan Gaza, di mana Israel terus melancarkan serangan setelah berbulan-bulan perang berlangsung.
Selama ini para pejabat Israel secara terbuka menyatakan bahwa perang di Gaza bertujuan menghancurkan infrastruktur Hamas dan mengatasi apa yang mereka sebut sebagai “ancaman keamanan.” Namun, pernyataan Gamliel tampak menggambarkan visi strategis yang lebih luas yang mencakup penguasaan militer jangka panjang atas wilayah Gaza yang terkepung.
Dalam pernyataannya, Gamliel juga menyinggung persoalan keamanan regional yang lebih luas. Ia memperingatkan bahwa Turki kini muncul sebagai tantangan strategis yang signifikan bagi Israel dan menyatakan bahwa negara tersebut telah menjadi “ancaman nyata bagi masa depan kawasan.”
Ia melanjutkan bahwa Israel tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang dipandangnya sebagai meningkatnya tantangan dari Turki “di seluruh tingkat operasional,” tanpa menjelaskan lebih lanjut langkah-langkah yang dimaksud.
Mengenai hubungan Israel dan Turki, Gamliel menyinggung inisiatif Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar untuk mengakui Genosida Armenia, seraya mengakui bahwa langkah tersebut dapat semakin memperburuk hubungan dengan Ankara.
Namun demikian, ia berpendapat bahwa Israel seharusnya lebih mengutamakan pertimbangan moral daripada perhitungan diplomatik.
“Selama ini kita menghindarinya karena alasan diplomatik, tetapi kini kondisinya jelas sudah matang,” kata Gamliel. “Kita perlu membantu rakyat Armenia dan memberikan pengakuan dari pihak kita.”
Gamliel juga menggambarkan bahwa pandangan keamanan Israel menuntut kesiapan menghadapi konfrontasi berkepanjangan di berbagai front di kawasan Asia Barat. Menurutnya, perencanaan strategis Israel mengantisipasi ketegangan regional yang berlangsung lama dengan melibatkan sejumlah pihak, di samping genosida yang masih berlangsung di Gaza.
Pernyataan tersebut muncul ketika berbagai upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata permanen di Gaza terus dilakukan, di tengah meningkatnya tekanan diplomatik terkait situasi kemanusiaan di wilayah yang diblokade tersebut.
Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku di Gaza pada 10 Oktober 2025. Namun, Israel disebut tetap melancarkan serangan hampir setiap hari di seluruh wilayah Gaza meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 961 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 3.000 orang terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku.
Berbagai laporan juga menyebutkan bahwa gedung-gedung apartemen, pasar, kendaraan, dan kafe terus menjadi sasaran serangan, sementara penduduk kerap menerima perintah evakuasi hanya beberapa saat sebelum serangan udara dilancarkan.


