Washington, Purna Warta – Kamala Harris menyatakan bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan perang ini, yang menurutnya tidak pernah mendapatkan izin dari Kongres.
Dalam laporan yang dikutip oleh CNN, Kamala Harris melontarkan kritik keras terhadap kebijakan agresi pemerintahan Donald Trump terhadap Iran, dan menyebut tindakan tersebut sebagai “omong kosong belaka”.
Dalam sebuah sesi dialog Partai Demokrat di negara bagian Nevada yang disambut tepuk tangan meriah, Harris menegaskan bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan perang ini dan bahwa konflik tersebut “seharusnya tidak pernah dimulai sejak awal”.
Ia mengatakan, “Trump berbicara tentang pemusnahan, lalu dia mengatakan telah melakukannya… semuanya ini hanya omong kosong,” sambil menambahkan secara bercanda bahwa ia sebelumnya telah berjanji untuk tidak menggunakan kata-kata kasar di ruang publik.
Harris juga menyoroti bahwa Washington kini mengalihkan artileri, amunisi, dan sistem pertahanan udara ke front lain, yang sebelumnya direncanakan untuk dikirim ke Ukraine, akibat eskalasi konflik tersebut. Ia menyebut tindakan Trump bukan sekadar “kebodohan”, tetapi “berbahaya”.
Dalam isu domestik, ia juga menilai bahwa putusan terbaru Mahkamah Agung terkait undang-undang hak suara akan memiliki “dampak mendalam” terhadap pemilu sela mendatang di Amerika Serikat.
Harris juga menuduh Partai Republik sengaja mempersulit proses pemungutan suara melalui penggambaran ulang distrik pemilihan, seraya mengatakan bahwa mereka menyadari masyarakat semakin memperhatikan biaya hidup, termasuk harga bensin, biaya perumahan, dan dampak ekonomi dari perang.
Pernyataan Harris muncul di tengah meningkatnya perdebatan politik di Amerika Serikat mengenai legalitas dan efektivitas operasi militer Washington di Timur Tengah. Sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat sebelumnya juga mempertanyakan apakah eskalasi terhadap Iran melanggar ketentuan War Powers Act karena tidak mendapatkan persetujuan legislatif penuh.
Baca juga: Kesaksian Mengejutkan Ungkap Penyiksaan Israel terhadap Direktur Rumah Sakit Gaza
Sementara itu, analis kebijakan luar negeri menilai kritik internal seperti ini mencerminkan perpecahan dalam elite politik Amerika mengenai strategi menghadapi Iran, terutama setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Teluk Persia yang berdampak langsung pada harga energi global.
Di sisi lain, survei publik di Amerika Serikat yang dirilis beberapa lembaga riset menunjukkan bahwa sebagian besar warga cenderung menolak keterlibatan militer baru di luar negeri, terutama setelah pengalaman panjang perang di Timur Tengah dan meningkatnya tekanan ekonomi domestik.


