Al-Quds, Purna Warta – Kesaksian mengejutkan dari mantan tahanan Palestina mengungkap dugaan penyiksaan sistematis yang dialami Direktur Kamal Adwan Hospital, Dr. Hussam Abu Safia, selama ditahan di penjara Israel.
Baca juga: Tiga Tentara Israel dan Seorang Pemukim Hadapi Dakwaan Mata-Mata untuk Iran
Rami Abu Amira, seorang mantan tahanan, menceritakan bahwa para interogator menelanjangi Dr. Abu Safia dan melepaskan anjing polisi ke tubuhnya yang sudah lemah, menyebabkan luka dalam dan goresan serius.
Sementara itu, Ahmad Qaddas mengatakan bahwa sel-sel penjara dipenuhi suara jeritan sang dokter ketika ia mengalami pemukulan berat, ini menguatkan kesaksian mengejutkan tersebut. Ia menambahkan bahwa dirinya hampir tidak dapat mengenali Abu Safia akibat penurunan berat badan yang drastis serta kondisinya yang linglung dan nyaris tidak sadar.
“Tubuhnya benar-benar hancur,” kata Qaddas. Mantan tahanan lainnya, Hamza Abu Amira, menggambarkan adanya “penghinaan tanpa henti” serta kombinasi penyiksaan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh unit khusus penjara Israel.
Para penjaga penjara dilaporkan memaksa Dr. Abu Safia mengulang kalimat-kalimat yang merendahkan sambil menyiksanya dengan rasa sakit ekstrem dalam upaya menghancurkan mentalnya.
Para tahanan juga menggambarkan adanya penggerebekan malam berulang ke dalam sel menggunakan granat suara dan tabung gas air mata. Tahanan lain dilarang keras mendekati sel Dr. Abu Safia ataupun menanyakan kondisinya.
Dr. Abu Safia ditahan sejak 27 Desember 2024 setelah pasukan Israel menculiknya saat menyerbu Rumah Sakit Kamal Adwan, yang saat itu merupakan rumah sakit terakhir yang masih berfungsi di Gaza utara. Bahkan setelah serangan udara Israel menewaskan putranya sendiri, ia tetap menolak meninggalkan tugas dan pasien-pasiennya.
Pada bulan Maret, Pelapor Khusus PBB Tlaleng Mofokeng dan Ben Saul mengonfirmasi bahwa mereka menerima laporan kredibel mengenai penyiksaan terhadap Abu Safia dan penolakan sistematis terhadap akses layanan medis baginya.
Baca juga: Aktivis Armada Gaza Mengalami Kekerasan Seksual dan Fisik dalam Tahanan Israel
Keduanya memperingatkan bahwa nyawa sang dokter berada dalam bahaya besar dan mendesak negara-negara yang memiliki pengaruh terhadap Israel untuk melakukan intervensi.
Namun demikian, United States dan sekutu-sekutu Baratnya disebut belum mengambil langkah berarti untuk menghentikan tindakan brutal Tel Aviv.
Sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di United Kingdom menyatakan bahwa penangkapan Dr. Abu Safia merupakan bagian dari kebijakan Israel yang lebih luas untuk secara sistematis menargetkan tenaga kesehatan Palestina dan menghancurkan sistem layanan kesehatan Gaza. Organisasi tersebut menilai tindakan itu dimaksudkan untuk menciptakan kondisi yang mengarah pada penghancuran fisik rakyat Palestina.
Dr. Abu Safia merupakan satu dari sedikitnya 737 tenaga medis Palestina yang ditahan secara sewenang-wenang oleh pasukan Israel sejak Oktober 2023.
Dalam periode yang sama, sedikitnya 1.722 tenaga medis Palestina dilaporkan tewas, dengan rata-rata lebih dari dua orang per hari.
World Health Organization mendokumentasikan lebih dari 930 serangan terhadap sistem layanan kesehatan Gaza, dengan seluruh 36 rumah sakit mengalami kerusakan atau kehancuran dan hanya separuhnya yang masih berfungsi sebagian.
Serangan-serangan tersebut disebut sebagai bagian dari kampanye sistematis untuk menghancurkan infrastruktur kesehatan Gaza sebagai komponen integral dari perang Israel di Jalur Gaza, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 72.500 warga Palestina sejak Oktober 2023.


