Diplomat AS Sebut Taiwan Harus Diubah Menjadi “Sarang Tawon Drone” untuk Halangi Cina

diplomat AS

Washington, Purna Warta – Seorang diplomat Amerika Serikat mengusulkan agar Taiwan diubah menjadi “sarang tawon drone” (hornet’s nest of drones) sebagai upaya untuk menciptakan efek penangkalan terhadap Cina.

Raymond Greene, diplomat tertinggi Amerika Serikat yang bertugas di Taiwan, dalam sebuah resepsi di Taipei pada Rabu menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli, mengatakan bahwa drone memberikan “peluang yang mengubah permainan” (game-changing opportunity) bagi Taipei untuk memperkuat kemampuan militernya.

“Beruntung bagi Taiwan, drone telah secara signifikan memperkuat pihak yang bertahan, bahkan ketika menghadapi lawan yang jauh lebih unggul,” kata Greene.

Merujuk pada perang di Iran dan Ukraina, Greene menambahkan:

“Tidak ada yang dapat mencegah konflik secara lebih efektif selain mengubah Taiwan menjadi sarang tawon yang dipenuhi drone udara, permukaan, dan bawah laut.”

Meskipun Amerika Serikat mengakui Prinsip Satu China (One China), yang membatasi hubungan resmi antara Washington dan Taipei, Greene menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Taiwan tetap dapat menjadi pusat produksi drone yang disebutnya sebagai bagian dari dunia demokratis serta memperkuat postur penangkalan kolektif negara-negara yang disebutnya sebagai “dunia bebas.”

Pada Rabu, Presiden Taiwan Lai Ching-te, yang dikenal berhaluan pro-Amerika Serikat, mengatakan bahwa kebutuhan akan drone kini menjadi sangat mendesak.

Namun, parlemen Taiwan yang dikuasai kelompok oposisi menolak menjadikan pengembangan drone sebagai prioritas utama.

Pada Mei lalu, anggota parlemen dari oposisi Kuomintang (KMT) hanya menyetujui sekitar dua pertiga dari usulan tambahan anggaran pertahanan sebesar 1,25 triliun dolar Taiwan (sekitar 40 miliar dolar AS) yang diajukan Presiden Lai Ching-te dalam anggaran tahunan.

Sebagai gantinya, KMT mengajukan rancangan undang-undang tersendiri mengenai pengembangan drone dengan batas pengeluaran 240 miliar dolar Taiwan selama enam tahun, atau maksimal 40 miliar dolar Taiwan setiap tahun.

Meski demikian, Wali Kota Taichung Lu Shiow-yen, yang merupakan tokoh senior KMT dan diperkirakan luas akan menjadi penerus Presiden saat ini, mengatakan bahwa parlemen seharusnya “bekerja sama” untuk memprioritaskan pengembangan industri drone.

Berbicara pada acara yang sama dengan Greene, Lu mengatakan:

“Dari Ukraina hingga Iran, sifat peperangan internasional telah berubah karena penggunaan drone dan kendaraan tanpa awak.”

Kota Taichung, tempat asal Lu, merupakan salah satu pusat utama industri drone di Taiwan.

Kota tersebut menjadi lokasi berbagai perusahaan yang memproduksi peralatan penerbangan dengan aplikasi militer, seperti Thunder Tiger, serta kontraktor utama militer pemerintah lainnya, termasuk Aerospace Industrial Development Corp (AIDC).

Cina, yang menganggap Taiwan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayahnya, telah berulang kali mengecam hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan pulau tersebut serta penjualan persenjataan Washington kepada Taiwan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *