Purna Warta— Seorang marinir AS yang kini menjadi aktivis berpendapat bahwa sanksi yang diterapkan AS selama bertahun-tahun telah gagal mencapai tujuan yang diharapkan, dan mengatakan bahwa Iran menjadi lebih tangguh sementara Washington terus meremehkan kemampuan adaptasi dalam negeri negara tersebut.
Mantan Korps Marinir AS dan veteran Perang Teluk Persia Kenneth Nichols O’Keefe, seorang warga negara Amerika-Irlandia dan aktivis hak asasi manusia, mengatakan dinas militernya secara mendasar mengubah pandangannya mengenai kebijakan luar negeri AS dan Timur Tengah. Saat wawancara dengan Kantor Berita Tasnim Iran, O’Keefe berargumentasi bahwa sanksi terhadap Iran justru memperkuat dan bukan melemahkan negara tersebut. Dia mengkritik dukungan AS yang terus berlanjut terhadap genosida Israel di Gaza, dan menyerukan agar lebih bergantung pada diplomasi daripada intervensi militer. Dia juga mengatakan kelompok perlawanan Islam seperti Hamas dan Hizbullah harus dipahami dalam konteks sejarah dan politik mereka, dan berpendapat bahwa sistem internasional sedang bergerak menuju tatanan multipolar. Ia mendesak para pembuat kebijakan di negara-negara Barat untuk mengatasi akar penyebab konflik regional, termasuk pendudukan, kesenjangan dan perselisihan mengenai kedaulatan.
Teks wawancara selengkapnya adalah sebagai berikut:
Pewawancara: Selamat datang. Terima kasih telah bergabung dengan kami. Pertama, bagaimana perjalanan Anda di Korps Marinir AS dimulai?
O’Keefe: Terima kasih telah menerima saya. Jalan saya menuju Korps Marinir didorong oleh rasa tanggung jawab, namun seiring berjalannya waktu, tugas tersebut berubah menjadi pandangan kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika. Saya mengabdi dengan keyakinan bahwa kami sedang menyebarkan demokrasi, namun kenyataan di lapangan—khususnya di Timur Tengah—sering bertentangan dengan narasi tersebut.
Pewawancara: Anda berbicara tentang kontradiksi dalam narasi Amerika. Melihat perkembangan yang melibatkan Iran, Gaza dan Lebanon, bagaimana Anda menilai kebijakan AS saat ini dari sudut pandang seorang mantan perwira militer?
O’Keefe: Ketika Anda melihat strategi mengenai Iran dan apa yang disebut “poros perlawanan,” jelas bahwa Amerika Serikat menggunakan paradigma yang sudah ketinggalan zaman. Sanksi terhadap Iran tidak merugikan negara; mereka telah mengeraskannya. Di Gaza, dukungan buta terhadap tindakan militer Israel tidak hanya menciptakan bencana kemanusiaan; hal ini mengasingkan seluruh kawasan dan menghancurkan soft power Amerika.
Pewawancara: Ada juga perdebatan yang terus berlanjut mengenai Hamas dan Hizbullah. Beberapa orang menggambarkan mereka sebagai gerakan perlawanan, sementara yang lain di Washington menganggap mereka sebagai organisasi teroris. Dimana kamu berdiri?
O’Keefe: Saya mendefinisikan gerakan perlawanan berdasarkan tujuannya—menolak pendudukan. Apakah Anda setuju dengan metode atau ideologi mereka adalah perdebatan yang berbeda. Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon adalah realitas geopolitik yang lahir dari konflik tertentu—pendudukan Palestina dan sejarah Lebanon selatan. Memberi label pada mereka semata-mata sebagai “teroris” mengabaikan konteks sosio-politik yang menciptakan mereka. Jika Anda menghilangkan pendudukan, maka perlawanan secara alami akan mengubah karakternya.
Pewawancara: Apakah Anda yakin kebijakan AS saat ini mampu mengatasi kompleksitas permasalahan ini?
O’Keefe: Kita benar-benar menemui jalan buntu. Kebijakan yang ada saat ini dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan khusus dan penolakan untuk mengakui bahwa momen unipolar telah berakhir. Baik itu terkait dengan situasi di Palestina atau ketegangan di Teluk Persia, AS lebih menekankan kehadiran militer dibandingkan keterlibatan diplomatik. Mereka gagal melihat bahwa Iran memiliki sekutu regional yang sangat terintegrasi dengan masyarakat lokalnya. Anda tidak bisa mengebom sebuah ideologi atau gerakan akar rumput.
Pewawancara: Apakah ada momen tertentu yang mengubah cara pandang Anda?
O’Keefe: Ya. Menyaksikan realitas sehari-hari—entah dampak sanksi terhadap masyarakat biasa atau realitas lapangan di tempat-tempat seperti Minab—hal ini mengubah perspektif Anda dari peta abstrak di Pentagon ke kehidupan manusia. Ketika Anda melihat bahwa “musuh” hanyalah warga sipil yang mencoba untuk hidup, seluruh logika intervensi asing kita runtuh.
Pewawancara: Anda berpendapat bahwa sanksi justru memperkuat Iran, bukan melemahkannya. Bagaimana seharusnya pemerintah negara-negara Barat memahami ketahanan internal negaranya dengan lebih baik?
O’Keefe: Media Barat sering menggambarkan Iran sebagai negara yang monolit, negara yang murni ideologis. Namun yang mereka lewatkan adalah ketahanan luar biasa rakyat Iran dan kompleksitas tatanan sosial internal mereka. Ketika Anda berbicara tentang sanksi, Anda tidak hanya berbicara tentang angka ekonomi; Anda sedang berbicara tentang gangguan kehidupan. Namun, hal ini secara tidak sengaja telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam melawan tekanan eksternal. Negara Iran telah belajar membangun perekonomian yang mampu bertahan terhadap guncangan yang signifikan, sesuatu yang sering diremehkan oleh komunitas intelijen di Washington.
Pewawancara: Pendukung dan kritikus mempunyai pandangan yang sangat berbeda mengenai apa yang disebut “poros perlawanan.” Bagaimana Anda menyelaraskan perspektif tersebut?
O’Keefe: Itu sepenuhnya bergantung pada stabilitas siapa yang Anda bicarakan. Jika yang Anda maksud adalah stabilitas rezim mapan yang bergantung pada dukungan AS, maka ya, poros perlawanan adalah kekuatan yang mengganggu. Namun jika kita berbicara tentang stabilitas penduduk lokal dalam melawan pendudukan atau intervensi yang didukung asing, maka mereka dipandang sebagai stabilisator. Lihatlah Lebanon dan peran Hizbullah. Mereka telah menyediakan jaring keamanan sosial dan militer yang sulit disediakan oleh negara Lebanon sendiri. Anda tidak dapat memahami Timur Tengah jika Anda mengabaikan fakta bahwa gerakan-gerakan ini berakar kuat pada perjuangan lokal demi martabat dan kedaulatan.
Pewawancara: Anda juga mengkritik dukungan AS terhadap Israel selama perang di Gaza. Menurut Anda, bagaimana hal ini memengaruhi prospek perdamaian?
O’Keefe: Tentu saja. Dukungan tanpa syarat terhadap operasi militer Israel di Gaza menimbulkan luka yang bersifat generasi. Kita melihat tingkat kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di era modern. Dengan menyediakan amunisi dan perlindungan politik, AS secara efektif mendukung kebijakan yang menghalangi solusi politik yang berarti. Ini bukan hanya soal sengketa perbatasan; ini tentang hak dasar rakyat Palestina untuk hidup dan menentukan nasib sendiri. Konsekuensi jangka panjang dari hal ini adalah radikalisasi seluruh generasi yang tidak melihat masa depan dalam tatanan internasional saat ini.
Pewawancara: Apakah masih ada peluang untuk membangun kembali hubungan dengan Iran dan kekuatan regional lainnya?
O’Keefe: Peluang selalu ada, namun hal ini membutuhkan perubahan pola pikir yang mendasar. Anda tidak dapat mencapai diplomasi melalui tekanan maksimal. Tekanan maksimum merupakan suatu kontradiksi; ini sebenarnya adalah “isolasi maksimum”. Untuk berinteraksi dengan Iran atau aktor-aktor regional, AS harus bergerak menuju pemahaman multi-kutub. Mereka perlu menyadari bahwa era pengambilan keputusan sepihak telah berakhir. Keterlibatan nyata berarti mengakui kepentingan negara-negara di kawasan dan mencari cara untuk hidup berdampingan, daripada mencoba memaksakan model politik tertentu melalui kekerasan.
Pewawancara: Sebelumnya Anda menyebutkan Minab di Iran. Mengapa pengalaman itu begitu penting?
O’Keefe: Ya, masa saya di Minab merupakan sebuah titik balik. Sebelumnya, pemahaman saya tentang kawasan ini hanya bersifat strategis—peta, logistik, dan penilaian ancaman. Namun berada di sana, melihat lanskap sebenarnya, bertemu masyarakat, dan memahami dinamika lokal… semuanya mengubah segalanya. Anda melihat bagaimana sanksi internasional berdampak pada aspek kehidupan yang paling sederhana—ketersediaan obat-obatan, pasar lokal, dan cara keluarga berinteraksi. Hal ini membuat “keputusan strategis” yang dibuat di Washington terasa hampa dan tidak berhubungan dengan realitas kemanusiaan. Minab adalah gambaran kecil dari penderitaan yang harus ditanggung oleh penduduk setempat akibat kebijakan yang tidak mereka buat sendiri.
Pewawancara: Anda juga mengkritik liputan media Barat mengenai wilayah tersebut. Mengapa Anda yakin ada kesenjangan antara kejadian di lapangan dan cara pelaporannya?
O’Keefe: Karena media di Barat sering kali bertindak sebagai perpanjangan tangan kebijakan luar negeri dibandingkan sebagai pengamat independen. Mereka menggunakan kosakata tertentu—kata-kata seperti “teroris”, “negara jahat”, atau “ekstremis”—untuk membingkai perjuangan sejarah yang kompleks dengan cara yang sangat sederhana dan hitam-putih. Pembingkaian ini memiliki tujuan: membenarkan intervensi dan mencegah masyarakat mempertanyakan moralitas atau kemanjuran intervensi tersebut. Ketika Anda berbicara tentang “poros perlawanan”, media membingkainya sebagai ancaman ekspansionis, mengabaikan motivasi defensif dan nasionalis yang mendorong kelompok-kelompok ini. Ini adalah narasi kenyamanan, bukan narasi kebenaran.
Pewawancara: Terakhir, pesan apa yang ingin Anda sampaikan kepada pemirsa dan pembuat kebijakan di Barat?
O’Keefe: Pesan saya sederhana: Berhentilah memandang Timur Tengah melalui kacamata ketakutan dan hegemoni. Mulailah melihatnya melalui kacamata sejarah, budaya, dan hak asasi manusia. Jika Anda menginginkan stabilitas, Anda harus mengejar keadilan. Anda tidak bisa mendapatkan keamanan tanpa mengatasi akar penyebab ketidakstabilan, yaitu pendudukan, kesenjangan, dan pengingkaran kedaulatan. Bagi para pengambil keputusan: pedoman lama sudah rusak. Saatnya menulis yang baru.


