Sidang Pete Hegseth di Senat Dinilai Mengungkap Jalan Menuju Bencana Militer Terbesar Amerika di Iran

Senate

Purna Warta – Kemunculan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat pada Rabu, di tengah gelombang baru serangan terhadap Republik Islam Iran, menjadi sorotan ketika para senator mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam mengenai alasan pemerintah melanjutkan perang tersebut.

Baca juga: Sanders: Israel “Tidak Berhak Melakukan Genosida” di Gaza dan Tidak Sepantasnya Lagi Menerima Dana Pajak AS

Menurut penulis, sidang itu memperlihatkan retaknya narasi yang selama ini dibangun mengenai perang Amerika Serikat terhadap Iran. Di balik retorika kemenangan pemerintahan Presiden Donald Trump, penulis berpendapat terdapat kenyataan berupa perang yang sangat mahal, tanpa tujuan yang jelas, tanpa strategi yang kredibel, dengan korban yang terus bertambah, ketidakstabilan kawasan yang meningkat, serta para pemimpin yang dinilai enggan bertanggung jawab.

Hegseth datang ke Capitol Hill untuk meminta tambahan anggaran hampir 70 miliar dolar AS guna membiayai perang terhadap Iran. Menurut penulis, berdasarkan pengakuan Hegseth sendiri, perang tersebut telah menghabiskan sekitar 37,5 miliar dolar AS tanpa mencapai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.

Penulis kemudian mengutip laporan NBC dan media Amerika lainnya yang menyebut biaya sebenarnya telah melampaui 100 miliar dolar AS jika memperhitungkan penggantian pesawat yang hancur, perbaikan pangkalan militer yang rusak, serta pengisian kembali persediaan persenjataan.

Menurut penulis, angka tersebut belum mencakup biaya pembangunan kembali instalasi militer Amerika Serikat di Asia Barat yang rusak akibat serangan balasan Iran, maupun biaya perawatan veteran, bunga utang, dan dampak ekonomi jangka panjang dari perang.

Penulis berpendapat bahwa sejarah menunjukkan biaya sesungguhnya dari perang-perang Amerika Serikat sering kali terus meningkat bahkan setelah pertempuran berakhir. Jika perang ini terus berlangsung tanpa batas waktu, menurutnya, para pembayar pajak Amerika akan diminta membiayai ratusan miliar dolar tambahan tanpa penjelasan yang meyakinkan mengenai seperti apa bentuk kemenangan yang ingin dicapai.

Menurut penulis, pertanyaan tersebut merupakan isu utama yang hingga kini belum mampu dijawab oleh pemerintahan Trump. Ia juga menilai Hegseth berusaha menghindari pertanyaan itu dalam sidang.

Penulis menyebut Presiden Trump berulang kali mengklaim Amerika Serikat telah “memenangkan” perang melawan Iran dan melemahkan kemampuan militernya. Hegseth, menurut penulis, juga beberapa kali menyatakan bahwa militer Iran telah “dihancurkan.”

Namun, penulis mempertanyakan mengapa pemerintah masih meminta tambahan dana puluhan miliar dolar kepada Kongres jika kemenangan telah diraih. Ia juga mempertanyakan mengapa pasukan Amerika masih terus terlibat dalam pertempuran, mengapa personel militer Amerika masih menjadi korban serangan balasan Iran, mengapa Selat Hormuz tetap menjadi titik ketegangan, dan mengapa pemerintah belum menjelaskan kapan perang akan berakhir.

Baca juga: Qalibaf: Hamas Akan Semakin Berkembang di Bawah Kepemimpinan Khalil Al-Hayya

Penulis menilai kontradiksi tersebut sulit diabaikan. Ia menyoroti Senator Jon Ossoff yang membacakan kembali pernyataan-pernyataan Hegseth sebelumnya dan menanyakan apakah ia masih berpegang pada pernyataan tersebut. Menurut penulis, Hegseth tidak memberikan jawaban langsung dan memilih menghindari pertanyaan.

Jika pemerintah benar-benar yakin dengan klaim sebelumnya, penulis berpendapat seharusnya tidak sulit untuk menegaskannya kembali. Sebaliknya, masyarakat Amerika, menurutnya, kembali menyaksikan pejabat pemerintah menghindari pertanyaan ketika meminta dana tambahan dari pembayar pajak.

Sidang tersebut, menurut penulis, juga memperlihatkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar tidak adanya strategi, yakni keengganan pejabat pemerintahan Trump untuk mempertanggungjawabkan kebijakan militernya.

Penulis menyatakan para senator dari Partai Demokrat maupun Republik berulang kali mengajukan pertanyaan langsung mengenai tujuan militer pemerintah. Senator Republik John Kennedy, misalnya, meminta penjelasan mengenai kemungkinan yang akan terjadi jika Amerika menarik diri dari perang tersebut. Menurut penulis, Hegseth justru menyebut pertanyaan tersebut sebagai skenario hipotetis.

Penulis berpendapat bahwa para pemimpin militer seharusnya mampu mengevaluasi berbagai kemungkinan, menimbang risiko, serta menjelaskan konsekuensi yang mungkin terjadi. Menurutnya, penolakan menjawab pertanyaan strategis menunjukkan bahwa pemerintah belum memiliki perencanaan yang memadai atau tidak ingin publik mengetahui jawabannya.

Penulis juga menilai kekecewaan bipartisan yang terlihat selama sidang mencerminkan meningkatnya keraguan publik terhadap perang yang dinilai gagal mencapai tujuannya.

Menurut penulis, senator dari Partai Demokrat mempertanyakan alasan pemerintah terus mengeluarkan dana untuk perang ketika banyak warga Amerika masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan perumahan, pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan. Senator Partai Republik juga disebut meminta transparansi yang lebih besar mengenai strategi pemerintah.

Ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis berpendapat Hegseth lebih memilih melontarkan serangan politik daripada memberikan jawaban substantif.

Alih-alih menjelaskan mengapa tambahan anggaran sebesar 70 miliar dolar AS diperlukan, Hegseth disebut menuduh para pengkritik tidak mendukung militer Amerika. Alih-alih memaparkan strategi perang, ia disebut menuduh Senator Gary Peters mengalami “Trump Derangement Syndrome”. Penulis juga menilai Hegseth menggambarkan pengawasan Kongres sebagai bentuk sabotase politik.

Menurut penulis, tanggapan seperti itu mungkin memuaskan para pendukung politik pemerintah, tetapi tidak menjawab kekhawatiran masyarakat yang membiayai perang melalui pajak mereka.

Penulis menyatakan bahwa yang paling kurang dalam kebijakan pemerintah saat ini adalah akuntabilitas. Alih-alih mengakui kesalahan atau meninjau ulang asumsi yang digunakan, pemerintah dinilai terus meminta tambahan anggaran sambil menyatakan keberhasilan tinggal selangkah lagi.

Penulis kemudian membandingkan situasi tersebut dengan perang-perang Amerika sebelumnya, seperti di Vietnam, Irak, dan Afghanistan. Menurutnya, setiap pemerintahan selalu menjanjikan bahwa lebih banyak pasukan, lebih banyak bom, lebih banyak dana, atau lebih banyak waktu akan menghasilkan kemenangan. Namun, hasil akhirnya justru berupa utang yang besar, korban jiwa yang tinggi, dan pengakuan bahwa kekuatan militer tidak mampu menutupi kelemahan strategi politik.

Penulis juga menyebut perang di Afghanistan dan Irak sebagai contoh konflik yang menurutnya menyebabkan puluhan ribu korban sipil tanpa menghasilkan manfaat bagi Amerika Serikat.

Menurut penulis, pemerintah saat ini meminta apa yang oleh banyak senator disebut sebagai “cek kosong”. Ia menilai pemerintah menganggap anggaran yang ada masih belum cukup meskipun telah memiliki salah satu anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Pada saat yang sama, pemerintah dinilai belum mampu menetapkan indikator keberhasilan yang terukur maupun syarat yang jelas untuk mengakhiri perang.

Penulis berpendapat setiap tambahan satu miliar dolar AS yang digunakan untuk membiayai perang berkepanjangan berarti mengurangi sumber daya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Ia menyatakan warga Amerika yang menghadapi kenaikan harga rumah, biaya kesehatan yang tinggi, infrastruktur yang memburuk, serta kurangnya pendanaan pendidikan berhak mempertanyakan apakah eskalasi militer yang terus berlanjut benar-benar menguntungkan mereka.

Menurut penulis, kekhawatiran tersebut juga disampaikan dalam sidang ketika sejumlah anggota parlemen menyoroti bahwa jutaan warga Amerika masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sementara pemerintah kembali meminta anggaran tambahan untuk bom dan rudal.

Penulis berkesimpulan bahwa Amerika Serikat tidak mampu lagi menjalani perang dengan tujuan yang terus berubah, anggaran yang terus membengkak, dan para pemimpin yang tidak bersedia mengakui kesalahan.

Ia juga menyatakan Presiden Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth harus menerima tanggung jawab yang menyertai kewenangan besar yang mereka miliki. Menurutnya, permintaan tambahan dana puluhan miliar dolar sambil menolak pengawasan serta menyerang para pengkritik menunjukkan kondisi sebenarnya.

Penulis berpendapat masyarakat Amerika berhak memperoleh penjelasan yang jujur mengenai biaya, risiko, dan prospek perang tersebut. Mereka juga berhak memiliki pemimpin yang menjawab pertanyaan sulit, bukan menyerang pihak yang mengajukannya, serta pemerintah yang menjadikan intervensi militer sebagai pilihan terakhir, bukan komitmen keuangan tanpa batas waktu.

Sebagai penutup, penulis menyatakan sidang yang memperlihatkan Hegseth mendapat pertanyaan tajam dari para senator semakin menguatkan pandangannya bahwa, seperti perang-perang Amerika Serikat sebelumnya, perang melawan Iran pada akhirnya akan berujung pada kekalahan Amerika. Menurutnya, kali ini dampaknya bahkan akan lebih besar terhadap posisi global Amerika Serikat.

 

Oleh Parvez Ahmedi

Parvez Ahmedi adalah analis politik dan urusan strategis yang berbasis di Houston, Amerika Serikat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *