Permainan Jolani di Arena Amerika dan Israel; Melemahkan Poros Perlawanan Menjadi Agenda

Muqawamah Julani

Purna Warta – Aktivitas militer Jolani di perbatasan Irak merupakan operasi provokatif untuk mengalihkan perhatian publik dari konspirasi internasional besar yang bertujuan melemahkan mata rantai penghubung Poros Perlawanan.

Kabar yang beredar di kalangan regional menyebutkan bahwa pemerintahan yang berada di bawah kendali Abu Mohammad al-Jolani [Ahmad al-Sharaa] tengah memobilisasi pasukan tentara bayaran internasional di perbatasan Irak. Pertanyaan yang segera muncul setelah mendengar kabar tersebut adalah: mengapa Jolani melakukan aktivitas ini, sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk memberikan tekanan militer yang serius terhadap Irak?

Aktor di Balik Konspirasi terhadap Irak

Al Mayadeen menulis bahwa situasi internal Suriah berada dalam kondisi kekacauan keamanan dan ekonomi secara menyeluruh. Tentara Suriah—jika masih dapat disebut sebagai tentara—tidak mampu menguasai wilayah domestiknya sendiri. Ketika menyangkut pemindahan pasukan dan perbekalan dalam jarak jauh, perhitungannya menjadi sama sekali berbeda. Menurut para ahli, pemindahan logistik pasukan membutuhkan kendali terpusat, arus pasokan yang berkelanjutan, serta kemampuan untuk mempertahankan jalur-jalur dukungan; sementara saat ini pihak Suriah tidak memiliki satu pun dari unsur tersebut.

Selain itu, korupsi yang menggerogoti tubuh pemerintahan Suriah telah mencapai tingkat yang begitu parah sehingga para komandan tingkat menengah bahkan mendirikan pos-pos pemerasan di sepanjang jalan.

Realitas sederhana ini menunjukkan bahwa pihak di balik aktivitas di perbatasan Irak tidak terbatas pada Jolani. Sebaliknya, terdapat koalisi regional-internasional dengan tujuan yang jelas yang berdiri di belakangnya. Negara-negara Teluk menyediakan dukungan finansial dan politik, Turki memberikan perlindungan regional, dukungan logistik, serta tentara bayaran, sementara Amerika Serikat dan Israel menyediakan perencanaan dan kalkulasi strategis yang menjadikan seluruh konflik tersebut sebagai sarana untuk melemahkan Irak dan melumpuhkan perannya sebagai aktor yang bersatu dan kuat dalam konstelasi regional.

Aktivitas Suriah tersebut terjadi pada momentum yang sangat sensitif dalam dinamika internal Irak. Irak sedang menghadapi perkembangan keamanan yang krusial di bidang ekonomi, pengendalian senjata, dan perang melawan korupsi, sekaligus berupaya merespons agresi terbaru Arab Saudi. Respons tersebut akan menentukan arah tahap berikutnya bagi Irak dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut, dengan segala kompleksitas dan perpecahan yang ada, agar Irak tidak berubah menjadi titik lemah potensial dalam menghadapi tekanan eksternal.

Di sisi lain, sebelum berakhirnya misi pasukan Amerika Serikat pada September mendatang, Washington tengah melakukan manuver melalui penataan kembali strategis pasukannya dan penarikan sistem Patriot dari Erbil. Hal ini berarti Amerika Serikat mungkin akan menggunakan setiap ancaman, baik nyata maupun yang dibesar-besarkan, sebagai alasan untuk tetap berada di Irak. Bisa jadi, ancaman lemah dari Suriah merupakan salah satu ancaman yang dibutuhkan tersebut.

Puzzle Regional Agresi terhadap Irak

Agresi terbaru Arab Saudi dan Amerika Serikat terhadap Irak mungkin dapat dilihat bukan sebagai suatu insiden sementara, melainkan sebagai bagian dari persamaan regional yang lebih luas. Arab Saudi dan para sekutunya memiliki kepentingan langsung dalam melemahkan Irak. Sebab, Irak yang kuat berarti sekutu Iran yang kuat di kawasan. Sebaliknya, Irak yang lemah dan dilanda perpecahan internal memberikan kesempatan kepada Arab Saudi dan negara-negara Teluk untuk memainkan peran regional yang lebih besar tanpa adanya pesaing yang nyata.

Oleh karena itu, dukungan terhadap aktivitas Suriah merupakan bagian dari strategi perang menyeluruh terhadap Iran, sementara Irak dipandang sebagai salah satu gerbang keamanan Iran.

Dari Aktivitas Provokatif Suriah hingga Konspirasi Utama di Irak

Kepentingan rezim Zionis pada tahap ini dalam konstelasi tersebut mulai terlihat, yaitu mengubah Irak menjadi negara yang lemah dan terpecah sehingga tidak mampu menjadi ancaman terhadap keamanan Tel Aviv. Dalam kondisi demikian, Irak akan selalu membutuhkan dukungan eksternal, khususnya dukungan Amerika Serikat. Dengan demikian, keamanan dan ekonomi Irak akan berada di tangan Amerika Serikat dan rezim Zionis, yang kemudian dapat memanfaatkan ketergantungan tersebut untuk memaksakan kebijakan-kebijakan yang melayani kepentingan mereka.

Dengan demikian, apabila perpecahan internal dalam dimensi politik maupun keamanan terus berlangsung seperti sekarang, kekosongan akan tercipta di dalam negeri yang dapat dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan asing demi kepentingan mereka sendiri.

Langkah-langkah Menghadapi Konspirasi Internasional terhadap Irak

Dalam kondisi seperti ini, penataan situasi internal Irak tampaknya lebih mendesak daripada sebelumnya. Perhatian harus diarahkan pada suatu struktur politik yang menyatukan pandangan nasional mengenai persoalan keamanan. Perbaikan kebijakan ekonomi untuk menghidupkan kembali pasar domestik yang sedang sekarat, serta penguatan pertahanan yang menjamin efektivitas pasukan dan aparat keamanan, juga merupakan kebutuhan penting dalam kondisi saat ini. Penataan internal tersebut merupakan perisai nyata terhadap segala bentuk ancaman eksternal.

Pemerintah Irak harus menyampaikan pesan yang jelas kepada dunia bahwa Irak tidak akan membiarkan dirinya menjadi medan pertempuran bagi kekuatan-kekuatan asing, termasuk Suriah, Turki, negara-negara Teluk, Amerika Serikat, ataupun rezim Zionis; melainkan akan tetap menjadi milik rakyat Irak. Jika rakyat Irak mempertahankan persatuan dan tujuan bersama mereka, mereka akan memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan diri dari segala bentuk ancaman eksternal.

Kekuatan-kekuatan yang menginginkan Irak menjadi lemah tidak akan berhenti pada batas tertentu. Mereka berupaya memantau reaksi kelompok-kelompok perlawanan terhadap agresi Arab Saudi. Oleh karena itu, Ali Faleh al-Zaydi, sebagai perdana menteri Irak dan panglima angkatan bersenjata, harus memahami bahwa permainan besar regional telah dimulai, dan bahwa Suriah, Turki, serta sejumlah negara Teluk hanyalah instrumen dalam permainan tersebut.

Irak harus memainkan perannya dengan kecerdasan, kekuatan, dan ketegasan. Jika tidak, Irak akan menjadi korban dari sebuah permainan di mana bahkan satu bidak pun tidak berada dalam kendalinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *