Sorotan Media Dunia atas Dampak Perang terhadap Iran

Bazatab

Purna Warta – Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan-tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut yang tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan para pejabat Barat dan media Amerika, pihak penyerang juga mengalami kebuntuan strategis serta kekalahan di medan dan ranah politik.

Sejak dimulainya agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, bukan hanya tujuan-tujuan yang diumumkan dalam operasi tersebut yang tidak tercapai, tetapi menurut pengakuan para pejabat Barat dan media Amerika, pihak penyerang justru menghadapi kebuntuan strategis serta kekalahan di medan perang dan bidang politik. Perang yang dimulai dengan serangan besar-besaran dan pembunuhan warga sipil, termasuk para pelajar yang tidak bersalah, dengan cepat berkembang menjadi persoalan yang berdimensi luas dalam aspek kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi, serta memicu beragam reaksi dari media internasional.

Media-media dunia, masing-masing dengan pendekatan mereka sendiri, berupaya membentuk narasi mengenai perang ini. Menelaah berbagai pemberitaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi nyata perang dan prospeknya.

Media Arab

Al Jazeera, dalam sebuah artikel yang menyoroti kesalahan kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran, menulis bahwa Amerika kembali mengulangi kesalahan dalam perang Irak, yaitu mengandalkan keunggulan militer untuk mencapai tujuan politik secara cepat.

Emma Ashford, peneliti di Stimson Center, menulis mengenai hal tersebut bahwa Donald Trump, meskipun berjanji mengakhiri “perang tanpa akhir”, kembali membawa Amerika Serikat ke dalam perang besar di Timur Tengah.

Serangan Amerika terhadap Iran memang menimbulkan kerusakan militer, tetapi tidak menghasilkan kemenangan strategis. Struktur politik Iran tetap bertahan, sebagian persediaan amunisi Amerika telah terkuras, dan kemampuan Iran untuk mengancam kepentingan Amerika di kawasan, termasuk di Selat Hormuz, meningkat.

Ashford menekankan bahwa persoalannya bukan hanya Trump, melainkan berakar pada struktur politik dan strategis Amerika Serikat, yaitu struktur yang membuat masuk ke dalam perang lebih mudah daripada keluar darinya. Penetapan tujuan yang maksimal juga membuat penarikan diri menjadi sulit bagi para presiden karena khawatir dituduh menunjukkan kelemahan.

Penulis tersebut berpendapat bahwa Amerika Serikat belum cukup belajar dari pengalaman Irak dan kembali menghadapi risiko berubahnya sebuah operasi militer terbatas menjadi perang yang panjang, menguras sumber daya, dan mahal—perang yang dapat berdampak terhadap kekuatan Amerika serta keamanan seluruh kawasan.

Al Mayadeen, dalam sebuah artikel mengenai perang Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran, membahas dampak dan tujuan tersembunyi perang tersebut.

Media itu menulis bahwa perang saat ini terhadap Iran merupakan rangkaian proses yang bermula dari perang selama 12 hari pada Juni 2025 dan, setelah gagalnya perundingan nuklir, berkembang menjadi konflik baru. Tujuannya melampaui persoalan nuklir dan mencakup pelemahan Iran, pembatasan pengaruh Rusia dan China, pelemahan Poros Perlawanan, serta perluasan pengaruh Israel di kawasan.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya memperhitungkan bahwa struktur politik Iran akan runtuh dengan cepat, tetapi tujuan tersebut tidak tercapai. Setelah gugurnya para pemimpin dan komandan senior, struktur politik Iran dengan cepat memulihkan dirinya, sementara masyarakat juga menunjukkan solidaritas yang lebih besar dalam menghadapi serangan dari luar.

Di tingkat domestik, perang juga menyebabkan meningkatnya solidaritas nasional, berkurangnya aksi protes, dan menguatnya dukungan terhadap pemerintahan. Meskipun terdapat kerusakan ekonomi dan tekanan terhadap kehidupan masyarakat, layanan publik dan stabilitas sosial sebagian besar tetap terjaga.

Perang tersebut, bertentangan dengan tujuan Amerika Serikat dan Israel, tidak menyebabkan keruntuhan Iran. Sebaliknya, perang justru menghasilkan penguatan struktur politik dan masyarakat serta sikap yang lebih keras terhadap Barat.

Surat kabar Rai al-Youm, dalam sebuah artikel mengenai keunggulan Iran dalam perang melawan Amerika Serikat, menulis bahwa Iran dalam perang saat ini mengandalkan dua faktor, yaitu geografi dan waktu—dua unsur yang menurut penulis tidak dimiliki Amerika Serikat dan rezim Zionis.

Karena wilayahnya yang luas, jumlah penduduk yang besar, serta keberadaan Pegunungan Zagros dan Alborz, Iran merupakan negara yang sangat sulit untuk diduduki melalui operasi darat. Dengan mengutip sejumlah analis militer, penulis berpendapat bahwa setiap upaya untuk menduduki Iran dapat memicu perang yang sangat panjang dan mahal.

Di sisi lain, Selat Hormuz merupakan salah satu alat pengungkit penting bagi Iran. Bahkan tanpa menutup selat tersebut sepenuhnya, gangguan atau ancaman apa pun terhadap pelayaran dapat berdampak pada pasar minyak, perusahaan asuransi, dan transportasi laut.

Faktor kedua adalah waktu. Penulis berpendapat bahwa Iran tidak menghadapi tekanan pemilu jangka pendek seperti yang dihadapi Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, Trump dan Netanyahu harus menjelaskan biaya perang kepada opini publik serta menghadapi perkembangan politik domestik.

Iran tidak selalu berupaya mencapai kemenangan militer. Sebaliknya, Iran berusaha bertahan dan memperpanjang perang agar biaya politik dan ekonomi yang harus ditanggung Amerika Serikat dan Israel semakin meningkat.

Media China dan Rusia

Kantor berita RT (RT/Russia Today) dalam sebuah laporan berjudul “Turki Memiliki Rencana untuk NATO Islam” membahas tujuan Ankara di balik perjanjian pertahanan Mekah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan.

Laporan tersebut menyebut bahwa perjanjian yang ditandatangani pada 7 Agustus di Mekah oleh Recep Tayyip Erdoğan, Presiden Turki; Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi; dan Shehbaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan, didasarkan pada prinsip pertahanan kolektif. Artinya, serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Menurut penulis, perjanjian tersebut bagi Turki lebih dari sekadar kerja sama militer dan dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan pengaruh Ankara dalam tatanan Timur Tengah di masa mendatang.

RT menekankan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Turki telah meningkatkan kemampuan militernya dan industri pertahanan, khususnya di bidang drone, rudal, kapal perang, dan peralatan elektronik. Hal tersebut membuat Ankara memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menjalankan pengaruh regional. Kerja sama dengan Arab Saudi dan Pakistan juga dapat menghubungkan kemampuan militer Turki dengan sumber daya finansial Arab Saudi serta pengalaman dan kapasitas strategis Pakistan.

Menurut laporan tersebut, Ankara tidak bermaksud meninggalkan keanggotaannya di NATO. Sebaliknya, Turki ingin membangun kemandirian strategis yang lebih besar di samping hubungan dengan Barat. Turki juga berupaya memainkan peran sebagai penyeimbang di antara kekuatan-kekuatan regional yang bersaing, termasuk Iran dan Israel, serta menghindari keterjebakan dalam konfrontasi langsung.

Laporan tersebut selanjutnya menyebut meningkatnya ketegangan antara Turki dan Israel, khususnya mengenai masa depan Suriah, sebagai salah satu faktor penting dalam kalkulasi keamanan baru di kawasan. Namun demikian, ditegaskan bahwa Pakta Mekah tidak serta-merta merupakan aliansi anti-Israel ataupun anti-Iran.

Pada akhirnya, RT menyimpulkan bahwa tujuan utama Turki bukanlah menciptakan “NATO Islam” dalam pengertian tradisional. Sebaliknya, Ankara berupaya membangun jaringan mitra militer, ekonomi, dan politik untuk meningkatkan daya tawarnya serta memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan aturan tatanan baru Timur Tengah.

Jaringan berita China CGTN juga, dalam laporan berjudul “Iran Mengatakan Selat Hormuz Akan Tetap Ditutup hingga Amerika Menerima Persyaratan”, membahas meningkatnya perselisihan antara Teheran dan Washington mengenai status jalur air strategis tersebut.

Menurut laporan itu, Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai Amerika Serikat menerima persyaratan yang diajukan oleh Teheran. Sikap tersebut muncul sebagai tanggapan terhadap klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan bahwa Washington memiliki kendali penuh atas selat tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga melaporkan bahwa pelaksanaan blokade laut terhadap Iran masih berlanjut dan menyatakan bahwa operasi tersebut sejauh ini telah menyebabkan 59 kapal dagang mengubah rute, tiga kapal tidak dapat beroperasi, dan dua kapal menjalani pemeriksaan.

CGTN menambahkan bahwa perundingan antara Iran dan Amerika Serikat masih menemui jalan buntu. Sejumlah persoalan yang masih diperselisihkan mencakup status Selat Hormuz, program nuklir Iran, pembayaran kompensasi perang, dan pembebasan aset Iran.

Teheran menuntut kompensasi dari Amerika Serikat, sementara Trump secara timbal balik menyerukan agar Iran membayar kompensasi atas tewasnya pasukan Amerika.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan dialog dan perundingan untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan. PBB menekankan bahwa penyelesaian krisis harus memulihkan stabilitas kawasan sekaligus menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *