Purna Warta – Revolusi Islam yang mendapat dukungan luas rakyat itu berlangsung di tengah campur tangan asing, represi domestik, serta berbagai ketimpangan sosial dan ekonomi.
Jalan-jalan di Teheran dan kota-kota besar lainnya dipenuhi massa yang menyambut kepulangan pendiri Revolusi Islam, Ayatollah Ruhollah Mosavi Khomeini, sementara Amerika Serikat dan sekutunya berupaya membendung gerakan tersebut melalui manuver politik.
Kemunculan Republik Islam menandai titik balik bukan hanya bagi Iran, tetapi juga dunia, karena mengubah dinamika kekuasaan global.
Pemerintahan baru di Teheran—yang dipilih secara demokratis—menantang tatanan bipolar Perang Dingin dengan menegaskan kemandirian dari Amerika Serikat maupun Uni Soviet saat itu, serta memperkenalkan model pemerintahan yang berakar kuat pada prinsip-prinsip Islam.
Selama beberapa dekade berikutnya, Iran menghadapi perang yang dipaksakan selama delapan tahun, sanksi ilegal dan melumpuhkan, serta ancaman dan provokasi berkelanjutan dari AS dan sekutunya, termasuk pembunuhan terarah, serangan siber, dan tekanan militer.
Di tengah berbagai gejolak tersebut, angkatan bersenjata Iran memainkan peran penting dalam mempertahankan negara dari ancaman eksternal.
Jauh sebelum nama-nama mereka identik dengan perlawanan dan pengorbanan, para komandan berpengaruh Iran merupakan saksi muda atas transformasi besar negaranya—dari monarki menuju sistem republik, dari campur tangan Barat menuju penentuan nasib sendiri, dari penindasan menuju martabat.
Revolusi Islam yang dipimpin Imam Khomeini mereka alami secara langsung dalam pawai-pawai yang mereka ikuti dan dalam iman yang meneguhkan langkah mereka.
Bertahun-tahun kemudian, mereka merefleksikan bagaimana momen-momen awal tersebut membentuk rasa tanggung jawab dan visi mereka tentang Iran yang ingin diwujudkan oleh revolusi rakyat.
Kesaksian mereka kini menjadi bagian dari memori historis Republik Islam dan membuka jendela langka tentang bagaimana Revolusi membentuk pribadi-pribadi yang kelak mengorbankan jiwa mereka untuknya.
Jenderal Qassem Soleimani
Jauh sebelum namanya identik dengan poros perlawanan di luar perbatasan Iran, Syahid Haji Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds IRGC, memandang Revolusi Islam sebagai peristiwa yang mendefinisikan ulang pemahaman generasinya tentang iman, keberanian, dan tanggung jawab nasional.
Dalam pidatonya di Kerman pada peringatan Revolusi tahun 2017, ia berkata:
“Kita harus bersyukur kepada Tuhan karena menempatkan kita dalam mazhab dan iman yang telah dan akan terus menjadi penyelamat bagi umat manusia. Dan kita juga bersyukur atas dua pemimpin dari keturunan Nabi Muhammad (saw).”
Ia merujuk kepada Imam Khomeini dan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyed Ali Khamenei.
Soleimani menegaskan bahwa Revolusi Iran berbeda dari revolusi-revolusi lain di dunia. Revolusi ini menyatukan seluruh lapisan masyarakat—dari hauzah, sekolah, universitas hingga desa—di bawah kepemimpinan satu Imam.
Ia menilai Revolusi terjadi pada masa dominasi mutlak AS dan Uni Soviet. Kemunculan revolusi independen yang tidak berpihak mengejutkan dunia.
Bagi Soleimani, Revolusi Islam membuktikan bahwa iman dan tekad dapat meruntuhkan sistem yang tampak tak tergoyahkan.
Mayor Jenderal Hossein Salami
Komandan IRGC yang gugur, Mayor Jenderal Hossein Salami, menyebut Revolusi Islam sebagai fenomena sejarah luar biasa dan manifestasi petunjuk Ilahi.
“Ketika Islam, 42 tahun lalu, memancarkan matahari cahayanya dari balik awan kebodohan di bawah kepemimpinan Imam Khomeini, ia terbit dari Iran dan menerangi dunia.”
Menurutnya, Revolusi merupakan kebangkitan kembali pemerintahan Islam setelah 1.400 tahun.
Ia menggambarkan empat dekade terakhir sebagai “menyeberangi Sungai Nil berkali-kali,” penuh ujian berat, namun menghasilkan kemenangan yang tak terduga.
Salami menilai Iran tetap menjadi pusat geopolitik penting dan bahwa tekanan ekonomi, budaya, militer, serta politik tidak mampu menjatuhkan Republik Islam.
Mayor Jenderal Mohammad Bagheri
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran yang syahid, Mayor Jenderal Mohammad Bagheri, memandang Revolusi sebagai peristiwa yang mengubah lanskap strategis dunia.
Ia mengenang kepulangan Imam Khomeini sebagai momen yang menggagalkan rencana AS untuk membendung Revolusi.
“Kemenangan Revolusi Islam mengganggu keseimbangan bipolar Amerika–Uni Soviet dan memperkenalkan logika baru dalam panggung internasional.”
Menurutnya, Iran yang dulu tunduk pada kekuatan kolonial kini menjadi aktor berpengaruh di panggung global berkat kemandirian dan ketahanan.
Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh
Komandan kedirgantaraan IRGC ini memandang Revolusi sebagai momentum pemulihan kedaulatan Iran.
“Dulu keamanan dan otoritas kita berada di tangan Amerika. Kini kita sendiri adalah kekuatan besar.”
Ia menekankan pentingnya memahami sejarah sebelum dan sesudah Revolusi agar generasi muda menyadari kemajuan yang telah dicapai.
Ahmed Kazemi
Sebagai bagian generasi pertama Revolusi, Brigadir Jenderal Ahmed Kazemi mengalami langsung represi SAVAK sebelum bergabung dengan IRGC.
Ia memandang perang Iran-Irak bukan sekadar konflik teritorial, tetapi perjuangan mempertahankan Islam.
“Kita berada dalam pergulatan antara Islam dan anti-Islam.”
Hassan Tehrani-Moqaddam
Dikenal sebagai arsitek program rudal Iran, Hassan Tehrani-Moqaddam memandang Revolusi sebagai penyatuan iman dan sains.
Dalam salah satu suratnya, ia menulis tentang keinginannya mendukung Pemimpin Revolusi dengan sepenuh jiwa.
Ia melihat setiap uji coba rudal sebagai kelanjutan perjuangan Revolusi untuk kemandirian.
Sayyad Shirazi
Bahkan sebelum kemenangan Revolusi, Sayyad Shirazi telah membangun jaringan perwira religius dalam militer Pahlavi.
Pertemuannya dengan Imam Khomeini ia gambarkan sebagai momen yang memberinya kejelasan misi dan semangat baru.
Baginya, Revolusi adalah kebangkitan spiritual dan nasional yang mengubah arah sejarah Iran.
Oleh Humaira Ahad


