Oleh Maryam Shakiba
Purna Warta – Sekilas, membandingkan pertandingan sepak bola dengan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz mungkin terdengar tidak masuk akal. Yang satu melibatkan 22 pemain yang mengejar bola di lapangan hijau, sementara yang lain berkaitan dengan kapal perang, kapal cepat, rudal balistik, dan perhitungan strategis kekuatan-kekuatan dunia.
Namun jika dicermati lebih dekat, keduanya sebenarnya merupakan dua bab dari kisah yang sama: kisah tentang sebuah bangsa yang, di setiap arena—baik di lapangan sepak bola Los Angeles dan Seattle maupun di perairan biru Teluk Persia dan Selat Hormuz—tetap teguh menghadapi tatanan hegemonik serta menolak untuk menyerah, mundur, ataupun mengalah.
Kesamaan antara kedua peristiwa tersebut begitu mencolok sehingga tidak ada analis serius yang dapat begitu saja menganggap kemunculannya secara bersamaan sebagai sebuah kebetulan.
Di Selat Hormuz, pihak-pihak yang bersikap agresif terus menantang dan mengganggu tatanan keamanan baru yang dibangun oleh angkatan bersenjata Iran dengan kembali melakukan aksi perompakan dan pembajakan maritim. Namun, terlepas dari berbagai provokasi itu, mereka gagal mencapai tujuan mereka, dan Iran menolak melepaskan hak-haknya yang sah.
Pada Piala Dunia FIFA 2026 yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, pihak yang sama menggunakan taktik berbeda. Alih-alih mengerahkan kapal perang, mereka memanfaatkan birokrasi, logistik, dan tekanan politik sebagai senjata untuk melemahkan tim nasional sepak bola Iran melalui berbagai kerumitan perjalanan dan hambatan administratif. Namun sekali lagi mereka gagal. Tim Melli selalu memasuki lapangan dengan kepala tegak, menolak untuk diintimidasi atau dipatahkan semangatnya.
Hal itu menjadi demonstrasi kuat mengenai keteguhan menghadapi tantangan yang sangat berat—sebuah pengingat bahwa martabat tidak dapat dikalahkan oleh paksaan, dan bahwa kekuasaan yang kehilangan etika pada akhirnya hanya memperlihatkan kelemahannya sendiri. Baik di arena olahraga maupun di medan geopolitik, Iran memaksa pihak yang mengintimidasi untuk menghadapi batas-batas kekuatan ancaman mereka.
Bahkan sebelum Tim Melli memulai perjalanan menuju Piala Dunia, mereka telah menghadapi satu demi satu rintangan. Hambatan tersebut bukan sekadar ketidaknyamanan biasa dalam dunia olahraga, melainkan kendala yang sengaja ditempatkan di hadapan mereka untuk menghalangi impian yang telah dikejar selama puluhan tahun: lolos ke babak gugur turnamen sepak bola terbesar di dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Visa datang terlambat, sementara perang psikologis sudah dimulai jauh sebelum peluit pertama dibunyikan. Tim tidak dapat melakukan persiapan secara optimal karena negara mereka sendiri masih menghadapi perang yang dipaksakan oleh negara yang justru menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang memerintahkan perang terhadap Iran tanpa provokasi dan secara ilegal, bahkan mengeluarkan peringatan terselubung kepada para pemain dan staf pendukung dengan menyiratkan bahwa keamanan mereka di wilayah Amerika Serikat tidak akan sepenuhnya terjamin.
Pertandingan persahabatan internasional yang bermakna menjadi mustahil dilakukan akibat perang dan perkembangan terkait lainnya. Tim terpaksa menggelar pemusatan latihan pra-turnamen di Turki. Ketika visa yang telah lama tertunda akhirnya diterbitkan, dokumen tersebut masih belum lengkap. Nama pengawas tim, Mohammad Mehdi Nabi, tidak tercantum, sementara analis tim dan para ahli urusan internasional juga tidak termasuk dalam daftar yang disetujui oleh otoritas Amerika Serikat.
Sikap bermusuhan negara tuan rumah memaksa Tim Melli memindahkan kamp pelatihan mereka dari Amerika Serikat ke Meksiko, sehingga menimbulkan persoalan logistik yang besar dan membebani kondisi fisik para pemain secara tidak perlu.
Keadaan semakin memburuk ketika tim diinstruksikan untuk memasuki Amerika Serikat tepat pada hari pertandingan, alih-alih dua hari sebelumnya sebagaimana diatur dalam regulasi Piala Dunia. Akibatnya, para pemain kehilangan waktu yang memadai untuk beradaptasi dengan lingkungan, memulihkan kondisi setelah perjalanan, maupun menyelesaikan persiapan taktis penting sebelum pertandingan di Los Angeles dan Seattle.
Konsekuensinya dapat diperkirakan: kelelahan fisik akibat perjalanan yang terus-menerus, penerbangan yang melelahkan, rutinitas yang terganggu, serta hilangnya kesempatan berharga untuk menjalani latihan yang terfokus dan pemulihan yang memadai menjelang beberapa pertandingan terpenting dalam karier mereka.
Kesulitan tidak berhenti di situ. Saat tiba di bandara, beberapa pemain, termasuk kapten tim Mehdi Taremi, dihentikan dan menjalani interogasi yang tidak perlu tanpa alasan yang sah. Pemain lain, seperti Mehdi Torabi, bahkan dipaksa mengajukan kembali visa masuk berkali-kali di tengah berlangsungnya turnamen.
Dalam konferensi pers sebelum maupun sesudah pertandingan, para pemain berulang kali dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan bermuatan politik yang hampir tidak ada kaitannya dengan sepak bola, sehingga menambah lapisan frustrasi dalam situasi yang sudah luar biasa sulit.
Taremi sendiri akhirnya menyebut Piala Dunia kali ini sebagai sebuah “bencana”, yang mencerminkan berbagai hambatan tanpa henti yang harus dihadapi tim, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Bahkan di atas lapangan pun kontroversi terus mengikuti Iran. Sejumlah keputusan wasit yang krusial merugikan Tim Melli, terutama gol penentu yang dicetak Shoja Khalilzadeh dan dianulir karena dinilai offside. Penggunaan VAR tampak lebih seperti instrumen yang digunakan untuk menggagalkan Iran memperoleh tempat yang layak di antara 32 tim terakhir yang melaju dalam kompetisi.
Namun, meskipun menghadapi setiap rintangan yang dibangun oleh negara tuan rumah dan penyelenggara turnamen, Iran menutup kiprahnya tanpa mengalami kekalahan. Tiga hasil imbang melawan tiga lawan, termasuk Belgia, mengejutkan banyak analis sepak bola dan menunjukkan daya juang tim tersebut.
Pertandingan melawan Selandia Baru dan Mesir sangat mungkin berakhir dengan kemenangan Iran seandainya keberuntungan sedikit lebih berpihak kepada mereka dan kepemimpinan wasit sedikit lebih adil.
Perlakuan yang diterima Iran merupakan pelanggaran nyata terhadap piagam FIFA sendiri maupun komitmen penyelenggaraan yang telah diambil oleh Amerika Serikat. Federasi Sepak Bola Iran mengajukan protes resmi kepada FIFA, namun badan sepak bola dunia itu gagal memberikan tanggapan yang berarti maupun proporsional terhadap ketidakadilan yang begitu jelas.
Dalam konferensi pers yang emosional namun tetap tegas, pelatih kepala Amir Ghalenoei menyebut skuadnya sebagai “tim yang paling tertindas dalam sejarah Piala Dunia”, seraya berpendapat bahwa para pemain kembali menjadi korban dari pola perlakuan yang tidak setara dan telah mengakar selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, sepak bola hanyalah sebuah permainan di mana kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari kompetisi. Namun cara Iran diperlakukan menunjukkan bahwa kebijakan pembatasan Amerika tidak berhenti pada sanksi, diplomasi, ataupun konfrontasi militer. Kebijakan tersebut bahkan merambah lapangan sepak bola, mengubah olahraga itu sendiri menjadi arena lain untuk memproyeksikan hegemoni dan tekanan politik.
Sementara perhatian publik dunia masih tersita oleh berbagai kontroversi di dunia sepak bola, perkembangan yang jauh lebih penting secara strategis sedang berlangsung di Asia Barat. Tehran dan Washington menandatangani sebuah nota kesepahaman yang secara resmi menandai berakhirnya perang yang dipaksakan tersebut.
Namun, meskipun nota kesepahaman itu secara tegas mengharuskan penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon, sekutu Zionis Amerika Serikat tetap melanjutkan serangan terhadap Lebanon dan menolak menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki di Lebanon selatan. Menghadapi pelanggaran yang terus berlanjut itu, Iran kembali mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz. Tidak lama kemudian, kembali terjadi aksi pembajakan dan teror maritim oleh Amerika.
Angkatan bersenjata Iran merespons dengan presisi. Dengan menggunakan rudal balistik dan drone serang canggih, mereka melancarkan operasi balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika di seluruh kawasan, sekaligus menegaskan bahwa era serangan “pukul lalu lari” telah berakhir.
Setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz kini pada dasarnya melintasi salah satu garis merah strategis Iran, sementara setiap rudal yang diluncurkan di kawasan itu mengguncang pasar energi global. Tehran menegaskan dengan sangat jelas bahwa mereka tidak akan pernah menukar pemahamannya sendiri mengenai keamanan dengan janji-janji palsu berupa kebijakan kompromi.
Untuk memahami sepenuhnya dua peristiwa yang tampaknya tidak saling berkaitan ini, keduanya harus dilihat melalui perspektif “panggung depan” dan “panggung belakang”.
Turnamen sepak bola merupakan panggung depan, sebuah pertunjukan yang diinginkan Barat agar menjadi pusat perhatian dunia. Tersingkirnya Iran, yang ditentukan oleh keputusan offside hanya beberapa milimeter di tengah keadaan yang luar biasa, disajikan kepada publik dunia sebagai sekadar kontroversi olahraga yang tidak menguntungkan.
Namun, ketika kamera tetap tertuju pada panggung depan, drama yang sesungguhnya justru berlangsung di balik layar.
Barat lebih memilih agar dunia tetap terpaku pada sepak bola dan tidak terlalu memperhatikan Selat Hormuz, tempat masa depan strategis kawasan serta keseimbangan kekuatan sebenarnya sedang dibentuk. Sepak bola menjadi sebuah peringatan. Selat Hormuz menjadi panggung penentu, tempat realitas geopolitik—bukan narasi olahraga—menentukan masa depan.
Meskipun kedua peristiwa itu tidak dapat dibandingkan dari segi skala, keduanya dapat—dan seharusnya—diceritakan bersama. Lapangan-lapangan Piala Dunia 2026 dan perairan Selat Hormuz merepresentasikan dua sisi dari mata uang yang sama dan tidak seimbang: yang satu berlangsung di depan kamera dunia, sementara yang lain berkembang di balik layar geopolitik global.
Piala Dunia pada akhirnya mengingatkan dunia bahwa Iran tidak pernah menundukkan kepala, bahkan di arena sekecil apa pun. Baik di meja perundingan, di lapangan sepak bola, maupun di perairan Teluk Persia, Iran secara konsisten menunjukkan bahwa mundur bukanlah bagian dari kosakatanya.
Iran mungkin telah tersingkir dari Piala Dunia, tetapi semangatnya tidak. Itulah pesan paling abadi negara tersebut kepada dunia: di mana pun kami berdiri, rintangan apa pun yang ditempatkan di hadapan kami, aturan apa pun yang ditulis untuk merugikan kami, kami akan terus bertahan, terus bersaing, dan tidak akan pernah melepaskan hak-hak kami.
Maryam Shakiba adalah peneliti universitas dan penulis yang berbasis di Tehran.


