Apakah China Akan Terlibat dalam Perang Timur Tengah?

Cina

Washington, Purna Warta – Seorang analis senior Amerika menilai bahwa perang yang dilancarkan Trump terhadap rakyat Iran pada akhirnya menjadi alat untuk menentukan pemenang dalam kompetisi antara China dan Amerika Serikat. Analisis ini menunjukkan bahwa China pada akhirnya akan diposisikan sebagai aktor penentu dalam konflik yang sedang berlangsung.

Baca juga: Reuters Klaim: India Membidik Minyak Iran

Menurut pemberitaan lokal Iran, Ilan Berman, seorang tokoh berpengalaman di lingkaran kebijakan luar negeri Washington dan Wakil Presiden American Foreign Policy Council (AFPC), dikenal sebagai analis yang memiliki pandangan keras terhadap Republik Islam Iran. Selama bertahun-tahun, ia menulis tentang keamanan regional, pengaruh Rusia dan China di Timur Tengah, serta strategi pembatasan kekuatan Tehran. Berman meyakini bahwa tantangan Iran tidak bisa dipisahkan dari persaingan kekuatan besar, dan Washington harus memanfaatkan seluruh instrumen ekonomi dan intelijen untuk mengubah keseimbangan kekuatan demi kepentingannya.

Ilan Berman menekankan bahwa China akan menjadi aktor penentu dalam perang Trump terhadap rakyat Iran.

Medan Perang Iran: Sebuah Permainan Catur antara Washington dan Beijing

Argumen utama Berman adalah bahwa konflik saat ini dengan Iran sebenarnya merupakan front penting dari kompetisi besar antara AS dan China. Ia menilai bahwa meski awalnya Gedung Putih mengincar kemenangan cepat, kini menghadapi realitas kompleks di mana alat tradisional seperti “senjata minyak” kehilangan efektivitas akibat perubahan struktural di pasar global.

Berman menekankan bahwa fokus utama Amerika Serikat seharusnya bukan hanya pada aspek militer atau program nuklir Iran, melainkan memanfaatkan kontrol atas aliran energi regional sebagai “pengungkit strategis” terhadap China, memaksa Beijing untuk mundur dalam perhitungan global.

Perang Narasi dan Kekosongan Strategis Amerika

Meski konflik militer memasuki minggu ketiga, Berman menilai medan perang sejati berada di ranah informasi. Ia membandingkan situasi saat ini dengan pengalaman Rusia di Ukraina dan Hamas di Gaza, menekankan bahwa Tehran dan mitranya berhasil mengubah persepsi publik mengenai kemampuan militer dan hasil perang melalui alat kontra-informasi.

Dari perspektif Berman, sikap diam atau respons lemah Washington di ranah ini adalah kesalahan strategis besar, karena kemenangan dalam “perang narasi” menjadi prasyarat bagi mobilisasi internasional untuk menjamin keamanan jalur maritim dan menekan struktur politik di dalam Iran.

Mitos Krisis Energi dan Realitas Baru

Berman menilai kekhawatiran global mengenai penutupan Selat Hormuz dibesar-besarkan. Ia menjelaskan bahwa kemampuan manuver Iran di pasar minyak kini sangat terbatas. Berbeda dengan 2008 ketika harga minyak bisa mencapai lebih dari 220 dolar per barel dengan standar saat ini, pasar saat ini lebih fleksibel karena adanya produsen alternatif seperti Nigeria dan Azerbaijan, serta jalur cadangan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Situasi ini memungkinkan pemerintah AS menekan jalur ekspor tanpa risiko besar bagi perekonomian global.

Baca juga: Pengakuan atas Keberhasilan Operasi Iran / Netanyahu: Kami Mengalami Malam yang Sulit

Fokus pada Beijing: Target Utama Washington

Poin kunci dalam analisis Berman adalah ketergantungan timbal balik Iran dan China. China saat ini menjadi tujuan 90% ekspor minyak Iran, menjadikannya “paru-paru” ekonomi Tehran. Namun ketergantungan ini tidak satu arah; Beijing juga bergantung pada kawasan untuk setengah impor energinya. Dengan menurunnya volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dari 5 juta barel menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari, China dipaksa meninjau kembali perhitungannya.

Berman menilai penundaan pertemuan Trump dengan Xi Jinping adalah langkah cerdas, memberi Washington waktu untuk menguasai aliran energi regional sebelum duduk di meja negosiasi, memanfaatkan kontrol ini untuk keuntungan strategis besar dari China.

Dengan kata lain, perang ini bukan sekadar untuk menahan Iran, melainkan juga menjadi ujian kemampuan AS dalam mengubah keberhasilan lapangan menjadi keunggulan strategis global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *