Beirur, Purna Warta – Pejuang Hizbullah melancarkan serangan drone terhadap pasukan pendudukan Israel di Lebanon selatan, sementara rezim Israel terus memperluas serangannya semakin jauh ke wilayah tersebut.
Menurut saluran televisi satelit al-Mayadeen, dua drone First-Person View (FPV) milik Hizbullah menargetkan pasukan Israel yang beroperasi di Punggung Bukit Ali Taher, Lebanon selatan, pada Senin malam.
Militer Israel mengklaim bahwa salah satu drone ditembak jatuh oleh pasukannya dan tidak ada tentara yang terluka dalam serangan tersebut.
Militer Israel menambahkan bahwa pihaknya menyerang infrastruktur Hizbullah di wilayah Nabatieh sebagai respons atas serangan tersebut, seraya menyatakan bahwa pasukannya masih beroperasi di Punggung Bukit Ali Taher.
Drone FPV merupakan drone “kamikaze” berukuran kecil, berbiaya rendah, dan bermuatan bahan peledak yang dikendalikan oleh operator menggunakan kacamata khusus.
Fitur paling penting dari drone tersebut adalah kabel serat optik fisik sepanjang antara 10 hingga 30 kilometer yang menghubungkan drone dengan pengendalinya.
Karena kabel tersebut mengirimkan video dan perintah tanpa menggunakan sinyal nirkabel, drone tersebut pada dasarnya kebal terhadap gangguan (jamming) dari sistem peperangan elektronik. Hal ini memungkinkan Hizbullah menghindari teknologi pertahanan militer Israel yang canggih dan sangat mahal.
Drone-drone tersebut telah menyebabkan korban yang signifikan di kalangan pasukan pendudukan Israel dengan secara akurat menargetkan konsentrasi pasukan, tank, dan aset militer lainnya, sekaligus menghindari deteksi radar dan panas.
Kombinasi biaya yang sangat rendah dan efektivitas yang tinggi tersebut menunjukkan perubahan taktis besar bagi Hizbullah, yang tidak lagi hanya mengandalkan rudal antirudal berpemandu untuk menghancurkan tank, sembari terus menimbulkan kerugian pada militer rezim pendudukan.
Sejak 2 Maret, Israel terus melancarkan serangannya terhadap Lebanon, yang telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan menyebabkan lebih dari 12.000 lainnya terluka. Pihak berwenang Lebanon juga melaporkan bahwa lebih dari 1 juta orang telah mengungsi.
Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Beberapa kawasan telah berada di bawah pendudukan selama beberapa dekade, sementara kawasan lainnya diduduki sejak perang 2023–2024. Agresi militer Israel baru-baru ini juga semakin memperluas jangkauannya ke wilayah Lebanon.


