Gaza, Purna Warta – Hamas mengecam serangan udara intens terbaru Israel di Jalur Gaza yang menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya. Hamas menggambarkan serangan tersebut sebagai tindakan yang sengaja mengabaikan nyawa warga sipil dan merupakan kelanjutan dari genosida di wilayah yang terkepung tersebut, di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlangsung.
Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, gerakan perlawanan yang berbasis di Gaza tersebut mengatakan bahwa bombardir Israel terhadap kawasan Katiba, sebelah barat Kota Gaza, serta jatuhnya korban sipil yang ditimbulkannya merupakan pelanggaran berat dan bentuk pengabaian yang disengaja terhadap nyawa warga sipil. Hamas mengatakan serangan tersebut merupakan kelanjutan dari genosida mengerikan yang dilakukan terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
Hamas menambahkan bahwa serangan berdarah tersebut terus berlangsung meskipun telah dicapai kesepakatan gencatan senjata Gaza pada Oktober 2025 di kota resor Sharm el-Sheikh, Laut Merah, Mesir.
Pernyataan tersebut mengatakan bahwa meningkatnya pelanggaran terhadap gencatan senjata, serangan sistematis yang terus dilakukan terhadap warga sipil, pengetatan blokade, serta memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza menunjukkan kebijakan pembangkangan dan kesombongan yang dijalankan pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam menghadapi upaya mediasi. Hamas mengatakan kebijakan tersebut juga merupakan bentuk pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Hamas menyerukan kepada pemerintahan Amerika Serikat, serta Qatar, Mesir, dan Turki dalam kapasitas mereka sebagai mediator, untuk mengambil sikap tegas dengan mengecam kejahatan Israel terhadap warga sipil dan menekan Israel agar memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza.
“Kami juga menyerukan kepada masyarakat internasional dan lembaga-lembaga global, terutama Dewan Keamanan PBB, untuk mengambil langkah segera guna menghentikan kekejaman Israel terhadap warga sipil di Gaza dan berupaya meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab di hadapan lembaga peradilan internasional,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Dalam pernyataan terpisah pada Selasa, Hamas mengatakan pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan para mediator dan Nikolay Mladenov, Direktur Jenderal Board of Peace, menyusul serangan terbaru Israel.
Dalam percakapan melalui telepon tersebut, kelompok itu mengecam “operasi kriminal terbaru yang dilakukan oleh tentara pendudukan Israel di Jalur Gaza, serta serangan dan bombardir berikutnya yang mengakibatkan sejumlah warga Palestina tewas dan terluka.”
Zaher al-Wahidi, Direktur Pusat Informasi di Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan jenazah tiga warga Palestina yang tewas dalam serangan udara Israel pada Selasa, bersama sejumlah korban luka, telah dibawa ke Kompleks Medis al-Shifa. Ia mengatakan para korban tewas terdiri atas dua anak-anak dan seorang perempuan.
Sumber-sumber lokal dan saksi mata mengatakan serangan tersebut dilakukan oleh pesawat nirawak Israel.
Seorang sumber keamanan, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan sebuah kelompok bersenjata telah tiba di kawasan al-Katiba sebelum pesawat nirawak Israel menargetkan kendaraan-kendaraan sipil.
Media Palestina melaporkan bahwa satu unit pasukan khusus Israel yang menyamar berupaya melakukan operasi penyusupan di kawasan tersebut, tetapi terdeteksi oleh kelompok perlawanan dan terlibat bentrokan bersenjata secara langsung.
Setelah keberadaan unit penyusupan tersebut terungkap dan pasukan itu terjebak, tentara Israel melancarkan serangan intensif dan rentetan tembakan berat yang terdiri atas lebih dari 10 serangan udara ke kawasan tersebut untuk menutupi penarikan pasukan yang terjebak, sehingga menewaskan dan melukai warga sipil.
Pihak berwenang Israel kemudian mengklaim bahwa mereka menculik seorang pejabat senior dalam jajaran aparat keamanan internal Hamas dalam operasi tersebut. Hingga kini, Hamas belum memberikan komentar mengenai klaim tersebut.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak apa yang disebut sebagai kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober tahun lalu, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.320 warga Palestina dan melukai lebih dari 4.385 lainnya.
Menurut kementerian tersebut, lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas sejak Israel melancarkan perang genosida terhadap Jalur Gaza pada Oktober 2023.


