Siapa yang Bertanggung Jawab atas Kegagalan Operasi Doha: Mossad atau Angkatan Udara?

Mosad

Doha, Purna Warta – Kegagalan operasi untuk membunuh para pemimpin Hamas di Doha memunculkan perdebatan mengenai penyebab kegagalan tersebut. Sebagian pihak menilainya sebagai masalah operasional, sementara pihak lain menyebutnya sebagai kesalahan intelijen.

Menurut laporan pemberitaan lokal, pada Selasa, 18 September, rezim Zionis melancarkan serangan ke Doha dengan tujuan membunuh pimpinan Biro Politik Hamas di kota tersebut.

Rezim Zionis melancarkan serangan ini hanya 24 jam setelah melakukan operasi pengelabuan dengan berpura-pura menyetujui rencana perdamaian Trump terkait Gaza. Berdasarkan perhitungan Tel Aviv, para pemimpin Hamas menghadiri sebuah pertemuan setelah menerima informasi tentang persetujuan rezim terhadap usulan tersebut, lalu menjadi target serangan.

Namun, dalam operasi yang sangat mahal secara politik itu, rezim Zionis gagal membunuh jajaran teratas Hamas. Mereka hanya berhasil membunuh sekretaris dan putra Khalil al-Hayya, kepala Biro Politik Hamas, serta beberapa staf eksekutif kantor tersebut.

Dua versi penyebab kegagalan operasi ini muncul di media regional. Surat kabar al-Sharq Qatar melaporkan bahwa para pemimpin Hamas selamat karena saat serangan berlangsung, mereka meninggalkan kantor untuk melaksanakan salat Asar.

Menurut laporan ini, karena para pemimpin Hamas tidak membawa ponsel mereka — yang ditinggalkan di ruang rapat — rudal berpemandu yang mengunci pada sinyal ponsel justru mengenai ruang pertemuan, sementara para pemimpin sedang berada di musala di gedung sebelah. Hal ini membuat sebagian pihak menyalahkan Angkatan Udara Israel yang dianggap gagal menentukan waktu serangan dengan tepat.

Namun, Asharq al-Awsat yang berbasis di Arab Saudi mengemukakan versi lain, yakni bahwa para pemimpin Hamas sama sekali tidak berada di gedung kantor politik itu. Menurut laporan ini, dalam beberapa bulan terakhir, pertemuan penting Hamas berlangsung di kantor mantan kepala Biro Politik Hamas, Syahid Ismail Haniyeh, di Doha. Hal ini menandakan adanya kesalahan intelijen Mossad yang salah melaporkan lokasi rapat penting tersebut, yang bisa memperuncing persaingan internal antara badan militer dan intelijen rezim Zionis.

Sebagian pihak juga berpendapat bahwa operasi tersebut telah diberitahukan oleh Amerika kepada pihak Qatar, sehingga para pemimpin Hamas bisa diselamatkan. Namun, klaim ini dibantah oleh pejabat resmi Doha. Para analis menilai operasi itu lebih bertujuan untuk mengirim pesan ancaman kepada para pemimpin Hamas, meskipun muncul pertanyaan: apakah tidak ada cara yang lebih murah daripada membom langsung ibu kota salah satu sekutu Amerika?

Dalam konteks ini, sejumlah analis mendesak investigasi menyeluruh atas kegagalan operasi Doha, menyebutnya sebagai langkah mahal yang sia-sia. Ini bukan pertama kalinya rezim Zionis gagal dalam operasi pembunuhan.

Sebelumnya, operasi untuk membunuh pejabat tinggi Republik Islam Iran pada 15 Juni lalu juga gagal dan disebut sebagai kegagalan besar pertama rezim Zionis dalam setahun terakhir. Operasi pembunuhan terhadap para menteri Yaman pada 27 Agustus pun tidak mencapai target utama, yakni Menteri Pertahanan, Kepala Staf Umum, dan Menteri Dalam Negeri Yaman, meskipun menewaskan sembilan menteri.

Bahkan operasi pada 9 September yang menargetkan juru bicara Kementerian Pertahanan Yaman, Yahya Saree, serta gedung Kementerian Pertahanan dan dua kantor surat kabar di Sana’a, juga tidak berhasil.

Serangkaian kegagalan ini dinilai sebagai akibat dari konflik antara Aman — intelijen militer Israel — dengan Mossad, badan intelijen luar negeri rezim Zionis, yang akarnya sudah berlangsung sejak berdirinya entitas buatan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *