Teheran, Purna Warta – Ketua Parlemen Iran menyatakan bahwa terkait klaim Presiden Amerika tentang negosiasi dengan Iran, perlu ditegaskan bahwa perilaku Presiden AS terhadap negara lain dengan jelas menunjukkan bahwa pernyataan tersebut hanyalah tipuan “pencitraan negosiasi” dengan tujuan memaksakan perlucutan senjata Iran.
Menurut laporan wartawan parlemen Kantor Berita Tasnim, Mohammad Baqer Qalibaf, Ketua Majelis Syura Islam, dalam pidato sebelum sidang pleno hari ini menyatakan: *”Kemarin, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan Wali Amr Muslimin sedunia dalam pertemuan dengan para pejabat negara dan pelayan rakyat menyampaikan strategi serta solusi penting untuk menyelesaikan permasalahan negara. Saya tegaskan di sini kesiapan penuh parlemen untuk melaksanakan arahan bijak beliau dan bekerja sama dengan seluruh lembaga Republik Islam yang mulia demi kemajuan Iran tercinta.”*
Baca juga: Laporan Menyoroti Dampak Terorisme terhadap Perempuan Iran
Qalibaf menambahkan bahwa Pemimpin Revolusi menekankan prioritas penyelesaian masalah ekonomi dan kesejahteraan rakyat. “Beliau dengan jelas menyatakan bahwa fokus utama lembaga-lembaga negara harus diarahkan pada penyelesaian permasalahan ekonomi rakyat. Oleh karena itu, kami sebagai pejabat negara dan wakil rakyat harus berusaha keras dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan tidak ada isu lain yang boleh mengesampingkan prinsip fundamental ini. Dengan demikian, parlemen dan para wakilnya, insya Allah, akan mengarahkan upaya utama mereka untuk menyelesaikan masalah ekonomi rakyat, serta menjaga kesatuan antarlembaga sebagai syarat keberhasilan upaya ini,” ujarnya.
Ketua parlemen juga menekankan pentingnya menjaga kesatuan internal dalam pemerintahan dan di antara berbagai lembaga negara. “Pemimpin yang bijak telah menggarisbawahi pentingnya solidaritas dalam setiap tingkatan pemerintahan dan menegaskan bahwa kerja sama serta sinergi antarinstansi merupakan syarat utama dalam menjalankan urusan negara. Semua pejabat dan aparat negara, jika benar-benar setia kepada kepemimpinan dan peduli terhadap kepentingan Iran serta rakyatnya, harus melangkah menuju persatuan dan kerja sama penuh antarinstansi. Menyimpang dari strategi ini berarti bertentangan dengan kepentingan nasional dan arahan Pemimpin Tertinggi. Tujuan kami tidak lain adalah menyelesaikan permasalahan rakyat dan negara, dan hal ini membutuhkan keberhasilan pemerintah serta kerja sama semua lembaga. Kami berharap seluruh pejabat negara, baik dalam perkataan maupun tindakan, merespons seruan Pemimpin Bijak kita dan menganggapnya sebagai tugas nasional, politik, dan agama mereka.”
Tidak Ada Negosiasi di Bawah Ancaman
Di akhir pidatonya, Ketua Parlemen Iran itu menanggapi klaim Presiden Amerika tentang negosiasi dengan Iran dengan menegaskan bahwa perilaku Washington terhadap negara lain membuktikan bahwa pernyataan tersebut hanyalah taktik untuk memaksakan perlucutan senjata Iran, sebagaimana yang telah disahkan dalam “dokumen kebijakan” AS. *”Sudah jelas bahwa tidak ada negosiasi yang dapat dilakukan di bawah ancaman pedang dan dengan agenda pemaksaan tuntutan baru, yang pada akhirnya tidak akan mengarah pada pencabutan sanksi, melainkan hanya pada penghinaan terhadap bangsa Iran yang bermartabat,”* ujarnya.
Baca juga: Menlu Iran: Ketidakamanan di Suriah Menguntungkan Israel
Ia menambahkan bahwa saat ini lebih jelas dari sebelumnya bahwa pencabutan sanksi hanya dapat dicapai dengan memperkuat Iran dan menetralkan efek sanksi tersebut. *”Karena itu, kami tidak menunggu surat apa pun dari AS. Kami percaya bahwa dengan memanfaatkan potensi besar dalam negeri dan memperluas hubungan luar negeri dengan negara lain, kita dapat mencapai posisi yang membuat musuh tidak punya pilihan selain mencabut sanksi dalam kerangka negosiasi dengan negara-negara yang masih tersisa dalam perjanjian nuklir (JCPOA),”* tegasnya.


