Pezeshkian: Pelaksanaan MoU Akan Cegah AS dan Israel Tebar Kekacauan di Kawasan

Pezeshkian

Tehran, Purna Warta – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa pelaksanaan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang dicapai antara Iran dan Amerika Serikat pada Juni akan mencegah Washington dan Israel menebar kekacauan di kawasan Asia Barat.

Pezeshkian mengatakan pada Sabtu bahwa kesepakatan yang dimediasi Pakistan tersebut, yang bertujuan membuka jalan menuju berakhirnya perang secara permanen, akan membantu negara-negara kawasan “mewujudkan stabilitas dan pembangunan melalui persatuan, kerja sama, dan konvergensi.”

Presiden menegaskan kembali bahwa Republik Islam tidak menginginkan perang, tetapi akan berdiri teguh menghadapi setiap agresor. Ia berjanji bahwa “tidak ada kekuatan yang dapat memaksa suatu bangsa yang berdiri dengan segenap kekuatan dan tekadnya untuk menyerah.”

Iran, katanya, tidak akan pernah tunduk pada ancaman apa pun, meskipun tetap berupaya menempuh jalur diplomasi.

“Dengan dukungan rakyat, upaya para pejabat pemerintah, serta dedikasi para komandan angkatan bersenjata, kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun, sebagaimana telah kami buktikan berulang kali di masa lalu,” katanya.

Presiden kembali menyerukan persatuan dan kohesi yang lebih kuat. Menurutnya, negara dapat mengatasi berbagai tantangan melalui persatuan nasional dan pelaksanaan MoU tersebut.

“Jika kita melaksanakan nota kesepahaman ini berdasarkan persatuan nasional dan dengan dukungan semua pihak yang peduli terhadap negara serta menginginkan martabat dan kemakmurannya, kita dapat mengatasi berbagai tantangan kita.”

Ia juga menyerukan peningkatan persatuan dan solidaritas di antara negara-negara Muslim untuk menggagalkan rencana musuh. Ia mengatakan bahwa jika perdamaian dan stabilitas ingin diwujudkan di dunia, keduanya harus bermula dari kawasan Asia Barat.

Dalam pernyataan terpisah pada Jumat, Presiden Iran mengatakan bahwa Tehran akan terus memenuhi komitmennya berdasarkan MoU selama Washington juga melakukan hal yang sama. Jika pihak lain gagal memenuhi komitmennya, tambahnya, Iran juga tidak akan lagi terikat untuk memenuhi komitmennya.

Ia juga menyerukan upaya diplomatik yang lebih kuat dengan melibatkan negara-negara tetangga Iran dan negara-negara Muslim.

MoU tersebut, yang ditandatangani pada 17 Juni oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Pezeshkian, merupakan hasil dari pembicaraan tingkat tinggi antara pejabat Iran dan Amerika yang diselenggarakan di Islamabad.

Kesepakatan awal tersebut dimaksudkan untuk mengakhiri agresi Amerika Serikat–Israel terhadap Iran, yang dilancarkan pada 28 Februari dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyed Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior.

Perang tersebut telah mengganggu secara serius pelayaran komersial di Teluk Persia, khususnya transportasi ekspor minyak dan gas yang sangat penting bagi pasar global.

Namun, pemerintahan Trump gagal memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan tersebut untuk membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan, mencabut sanksi, menghentikan blokade laut ilegal terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta menekan Israel agar menarik diri dari Lebanon selatan.

Pada 18 Agustus, periode 60 hari yang ditetapkan berdasarkan MoU tersebut berakhir. Washington tidak menunjukkan minat untuk memperpanjangnya, sementara Trump melancarkan kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran yang ia sebut sebagai “D-Day.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *