Teheran, Purna Warta – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengecam penyalahgunaan mekanisme snapback oleh kekuatan Barat, menyebutnya sebagai upaya untuk melegitimasi tindakan ilegal.
Baca juga: Menlu Iran: Pesan Langsung Ditukar dengan AS
Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Al Araby TV Qatar di sela-sela Sidang Umum PBB ke-80 di New York, Pezeshkian menggarisbawahi kepatuhan Iran yang konsisten terhadap komitmen nuklirnya. Ia mengkritik persetujuan Dewan Keamanan PBB terhadap mekanisme snapback, menekankan bahwa mekanisme tersebut tidak memiliki dasar hukum dan semata-mata didorong oleh tekanan AS dan Eropa. “Kami mematuhi perjanjian yang kami tandatangani, tetapi AS-lah yang melanggarnya,” ujarnya.
Presiden menyoroti perjanjian Kairo, yang dimediasi oleh Mesir, sebagai kerangka kerja untuk kerja sama konstruktif dengan IAEA, dan menegaskan kembali kesiapan Teheran untuk berdialog. Ia menambahkan bahwa Iran terbuka untuk bernegosiasi dengan Washington, tetapi menekankan bahwa AS sendiri menolak untuk terlibat. “Bagaimana mungkin sebuah negara yang mengizinkan serangan Israel terhadap fasilitas Iran selama negosiasi mengklaim bahwa mereka mengupayakan dialog?” tanyanya.
Pezeshkian menepis proposal Eropa baru-baru ini sebagai tidak efektif, dengan menunjukkan bahwa Eropa hanya mengupayakan uranium yang diperkaya Iran dengan imbalan perundingan selama tiga bulan. “Mengapa kita harus menyerahkan aset kita hanya untuk menunggu janji? Setiap dialog yang tulus harus membahas seluruh masalah,” ujarnya.
Mengenai masalah regional, presiden menegaskan kembali bahwa Iran tidak pernah menginginkan ketidakstabilan, sementara rezim Israel justru senang mengobarkan kerusuhan. “Tangan persahabatan kami selalu terulur kepada negara-negara tetangga. Banyak orang di kawasan ini tahu bahwa kami bertindak atas dasar persaudaraan Islam, tetapi Israel justru diuntungkan dari ketidakstabilan, bukan perdamaian,” ujarnya, seperti yang dilaporkan situs web resminya.
Merenungkan agresi Israel baru-baru ini, Pezeshkian menekankan bahwa agresi tersebut telah memperkuat persatuan dan modal sosial Iran, seiring rakyat bersatu membela negara. Ia menyatakan keyakinannya bahwa melalui solidaritas, kerja sama, dan ketahanan, Iran akan mengatasi tekanan eksternal.
Baca juga: Presiden Iran: Menyerah Mustahil bagi Iran
Menyinggung pembuatan kebijakan nuklir, Pezeshkian menjelaskan bahwa Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Sayyid Ali Khamenei membuat keputusan akhir setelah berkonsultasi dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan para pejabat senior. Ia menekankan bahwa persatuan di antara umat Islam sangat penting untuk melawan ancaman bersama. “Jika umat Islam bersatu sebagai saudara, rezim Israel tidak akan dapat bertindak tanpa hukuman,” ujarnya.
Presiden akhirnya menegaskan kembali komitmen Iran untuk dialog damai dan kerja sama regional, dengan menyatakan bahwa Republik Islam tetap siap mengulurkan tangan persahabatannya kepada semua negara Muslim.


