Teheran, Purna Warta – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyoroti pelajaran yang dipetik dari Imam Husain as, Imam Syiah ketiga, yang mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan penindasan atau berdiam diri saat menghadapi penindasan.
Pezeshkian membuat pernyataan tersebut dalam postingan X pada hari Kamis, menandai Asyura, yang merupakan peringatan kesyahidan Imam Husain as, pada hari ke 10 bulan lunar Muharram.
“Imam Husain as mengajarkan kita untuk melawan penindasan, godaan kekuasaan dan kepentingan pribadi; seseorang bisa memberikan nyawanya, tapi tidak kebebasan; seseorang bisa dibiarkan sendiri, tapi tidak meninggalkan kebenaran,” katanya.
“Kita tidak boleh melakukan penindasan, menerima penindasan, atau berdiam diri saat menghadapinya.”
Imam Husain as, cucu Nabi Muhammad saw, syahid bersama 72 sahabatnya dalam Pertempuran Karbala di Irak selatan pada tahun 680 M setelah berjuang dengan berani demi keadilan melawan tentara khalifah Bani Umayyah yang jauh lebih besar, Yazid I.
Setiap tahun pada hari Asyura, umat Muslim Syiah berpakaian hitam berbaris dalam prosesi massal, memukul dada, mendengarkan elegi, dan mengadakan salat Zuhur, dengan para dermawan membagikan makanan nazar.
Ritual berkabung melambangkan pendirian kebenaran yang tiada akhir dan tak tergoyahkan melawan kepalsuan dan perjuangan umat manusia melawan ketidakadilan, tirani dan penindasan, yang menjadi penyebab syahidnya Imam Hussein.


