Baghdad, Purna Warta – Imam Salat Jumat Baghdad memperingatkan mengenai berbagai ancaman regional terhadap negara-negara di kawasan, khususnya terkait rencana dan proyek rezim Zionis.
Ayatullah Sayyid Yasin al-Mousawi, Imam Salat Jumat Baghdad, memperingatkan tentang ancaman regional yang dihadapi negara-negara kawasan, khususnya rencana dan proyek rezim Zionis. Ia menyerukan pengambilan sikap nasional yang berlandaskan kebenaran serta menegaskan bahwa dalam sebuah pertempuran yang menentukan, seseorang tidak dapat menghindari tanggung jawab dengan berlindung di balik istilah “netralitas.”
Ia menyatakan bahwa proses pembentukan pemerintahan di Irak telah berubah menjadi arena yang terbatas pada persaingan memperebutkan kepentingan dan berbagai keuntungan. Hal itu terjadi ketika berbagai kelompok politik mengabaikan tantangan besar yang dihadapi Irak dan kawasan.
Al-Mousawi mengatakan bahwa dunia sedang berada dalam kondisi perang terbuka dan berskala luas. Dalam situasi seperti ini, sebagian pejabat Irak masih sibuk dengan perhitungan dan kepentingan pribadi mereka sendiri serta mengabaikan kepentingan rakyat.
Ia menilai bahwa kelompok-kelompok politik bertanggung jawab atas pemilihan perdana menteri dan mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil sepenuhnya atas kehendak mereka sendiri serta tidak dipaksakan oleh pihak mana pun. Karena itu, lemahnya kinerja lembaga eksekutif saat ini merupakan cerminan dari pilihan yang keliru.
Al-Mousawi juga mengkritik berlanjutnya pengelolaan sejumlah kementerian oleh pejabat pelaksana serta belum lengkapnya susunan kabinet. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai kelemahan institusional yang berdampak negatif terhadap proses pemerintahan negara.
Dalam bagian lain pernyataannya, ia mengatakan bahwa apa yang terjadi terkait “ketergantungan pada pelukan Amerika” bukan semata-mata tanggung jawab perdana menteri. Kelompok-kelompok politik yang berada dalam struktur kekuasaan juga memiliki peran dalam persoalan tersebut dan bertindak berdasarkan kehendak Amerika Serikat.
Al-Mousawi memperingatkan mengenai sejumlah pernyataan yang menyerukan penggunaan kekerasan dan penangkapan terhadap kelompok-kelompok nasionalis dan pasukan perlawanan. Ia menilai pendekatan semacam itu berbahaya dan bertentangan dengan kedaulatan nasional Irak.
Dalam bagian lain pidatonya, Al-Mousawi menolak slogan “netralitas” antara Iran, Amerika Serikat, dan rezim Zionis. Ia mengatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung bukan sekadar perselisihan politik antarnegara, melainkan menyangkut masa depan kawasan dan upaya mencegah meluasnya proyek rezim Zionis.
Mengacu pada perkembangan di Suriah serta pernyataan terbaru Amerika Serikat mengenai peningkatan tekanan ekonomi terhadap Iran, Al-Mousawi menegaskan bahwa Irak harus mengambil sikap yang menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional negara tersebut.
Ia juga menyinggung insiden penargetan sejumlah lokasi di wilayah Kurdistan Irak dan mengatakan bahwa berdasarkan hasil sementara penyelidikan, terdapat kemungkinan keterlibatan rezim Zionis dalam serangan tersebut. Oleh karena itu, menurutnya, fakta-fakta harus dijelaskan kepada masyarakat dan tuduhan yang dapat melayani tujuan serta agenda politik tertentu harus dihindari.


