Al-Quds, Purna Warta – Pasukan rezim pendudukan Zionis menyerbu Nablus dan Hebron serta menangkap lima warga Palestina. Pasukan Israel pada dini hari dan pagi hari ini (Sabtu) melancarkan serangan secara bersamaan ke kota Nablus dan Hebron di Tepi Barat, dan menangkap sedikitnya lima warga Palestina. Serbuan tersebut disertai pendirian penghalang serta pengetatan pembatasan militer di pintu-pintu masuk kota.
Pasukan Israel juga mengerahkan kendaraan militernya ke kota Dura, di sebelah selatan Hebron, dan mendirikan pos pemeriksaan di pintu masuk sejumlah provinsi serta desa-desa di sekitarnya. Sejumlah jalan utama dan jalan penghubung juga ditutup menggunakan penghalang logam, blok beton, dan tanggul tanah.
Di Hebron, pasukan rezim pendudukan menyerbu permukiman Sa’ir, di sebelah timur laut kota tersebut, kemudian menggeledah sejumlah rumah dan menangkap tiga anggota keluarga al-Taroua, yakni Sami Fayez, saudaranya Osama Fayez, dan Zein Fawzi. Di wilayah Yatta, Ibrahim al-Nawajaa, seorang petani Palestina, juga ditangkap ketika sedang menggembalakan ternaknya di dekat desa Wadi Jahish.
Di Nablus, pasukan pendudukan dikerahkan dalam jumlah besar di pusat kota, Alun-Alun Syuhada, pasar komersial, dan kawasan kota tua. Setelah menggeledah sejumlah rumah dan toko, mereka menangkap Ataallah Abu Saleha. Rekaman yang beredar di media sosial menunjukkan seorang pemuda Palestina dipukuli dengan keras oleh tentara Israel selama operasi tersebut.
Serbuan malam hari dan penangkapan massal di Tepi Barat, khususnya di wilayah-wilayah strategis seperti Hebron dan Nablus, dalam beberapa tahun terakhir—terutama setelah Operasi Badai Al-Aqsa—telah menjadi salah satu pola tindakan yang rutin dilakukan pasukan rezim Israel.
Permukiman Sa’ir di Hebron dan wilayah sekitarnya, karena berdekatan dengan permukiman Israel, terus menjadi sasaran serangan berulang dan penangkapan massal.
Dalam serbuan serupa ke kota tua Hebron, pasukan Israel selain memberlakukan pembatasan pergerakan juga memaksa para pedagang Palestina menutup usaha mereka.
Nablus, yang merupakan salah satu pusat utama perlawanan dan aktivitas politik di Tepi Barat, juga terus menjadi sasaran serbuan berskala besar dan berkepanjangan. Menurut laporan, dalam sejumlah kesempatan pasukan pendudukan bahkan melakukan operasi terhadap warga di kota tersebut secara terus-menerus hingga 24 jam, disertai penangkapan massal dan interogasi di lapangan.
Operasi-operasi tersebut tidak hanya terbatas pada kedua kota itu. Provinsi Jenin, Bethlehem, dan Tulkarm juga secara rutin menjadi sasaran serbuan dan penangkapan. Pola yang sistematis ini menunjukkan adanya strategi menyeluruh untuk memberikan tekanan terhadap masyarakat Palestina dan melemahkan struktur perlawanan rakyat.
Data yang diterbitkan lembaga-lembaga hak asasi manusia dan Palestinian Prisoner’s Society menunjukkan skala luas kebijakan penangkapan massal tersebut. Berdasarkan data itu, selama Juli lalu saja tercatat 630 penangkapan di Tepi Barat dan Yerusalem, sementara jumlah total penangkapan sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 25.000 orang.
Angka tersebut juga mencakup anak-anak dan perempuan, serta menunjukkan peningkatan tajam kebijakan represif setelah perang di Gaza. Perlu dicatat bahwa angka tersebut tidak mencakup warga Gaza yang ditahan, yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Di tingkat internasional, berbagai laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia dan penyiksaan warga Palestina di pusat-pusat penahanan Israel juga telah diterbitkan. Organisasi-organisasi hak asasi manusia, termasuk Gaza Human Rights Center, telah menyerukan penyelidikan internasional segera terhadap kasus-kasus tersebut.


