Washington, Purna Warta – Menurut laporan Financial Times, para bankir dan pengacara yang terlibat dalam transaksi energi di Amerika mengatakan bahwa sejumlah perundingan bisnis melambat atau bahkan dihentikan sementara karena pelaku pasar menunggu harga minyak kembali stabil.
Seorang pakar sektor minyak dan gas Amerika, Brian Lough, menyatakan bahwa hampir semua aktivitas transaksi saat ini terhenti.
“Segalanya berhenti. Saya memiliki beberapa kesepakatan yang sedang berjalan terkait kontrak jangka panjang, tetapi saat ini semuanya lumpuh karena tidak ada yang dapat menentukan harga secara pasti,” ujarnya.
Lonjakan Harga Minyak
Harga minyak Brent Crude Oil sempat melonjak hingga 115 dolar per barel pada awal pekan lalu setelah serangan Iran terhadap fasilitas gas di Qatar, sebelum turun sedikit menjadi sekitar 112 dolar per barel pada akhir pekan.
Data dari perusahaan analisis pasar Dealogic menunjukkan bahwa nilai transaksi minyak dan gas di AS tahun ini mencapai sekitar 45 miliar dolar, tertinggi dalam dua tahun terakhir. Peningkatan tersebut sebagian besar dipicu oleh merger dua perusahaan energi besar, yaitu Devon Energy dan Coterra Energy.
Tantangan Industri Energi
Situasi ini terjadi menjelang konferensi industri energi CERAWeek di Houston, yang merupakan salah satu acara utama bagi transaksi dan investasi sektor energi global.
Seorang bankir energi senior yang berbasis di London mengatakan bahwa beberapa proses penjualan aset energi yang sedang berjalan terpaksa dihentikan karena kondisi pasar yang sangat tidak stabil.
Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, pengawasan terhadap transaksi minyak dan gas dilaporkan lebih longgar dibandingkan pada masa pemerintahan Joe Biden. Beberapa perusahaan bahkan mempertimbangkan untuk mempercepat kesepakatan sebelum masa jabatan Trump berakhir guna memanfaatkan kondisi regulasi yang lebih menguntungkan.
Baca juga: Kementerian Kesehatan Israel: 4.564 Orang Terluka Sejak Awal Perang Melawan Iran
Prospek Transaksi Energi
Para analis memperkirakan bahwa transaksi di sektor ini akan tetap tertunda selama situasi terkait Iran belum jelas. Seorang pengacara dari firma hukum Bracewell LLP, Austin Lee, mengatakan bahwa ketidakpastian harga minyak membuat perusahaan sulit menentukan nilai transaksi.
“Pertanyaan utama saat ini adalah: pada harga berapa kita harus menilai minyak? Seberapa berani kita dalam menentukan valuasi? Apakah kita bisa mengambil risiko atau tidak?” ujarnya.
Dampak Global dan Respons Internasional
Setelah perang Iran dimulai pada 28 Februari, serta menyusul penutupan efektif Selat Hormuz, harga minyak mengalami volatilitas yang tajam.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan bahwa lembaganya telah memulai konsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa mengenai kemungkinan pelepasan lebih banyak cadangan minyak strategis apabila diperlukan.
Negara-negara anggota IEA sebelumnya pada 11 Maret telah menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk membantu menstabilkan harga global.
Birol menggambarkan krisis di Timur Tengah sebagai sangat serius, bahkan lebih buruk dibandingkan dua krisis minyak global pada dekade 1970-an. Ia menambahkan bahwa lebih dari 40 fasilitas energi dilaporkan mengalami kerusakan selama konflik tersebut, sehingga menimbulkan risiko besar bagi ekonomi global.
Ia menegaskan bahwa salah satu solusi utama untuk meredakan krisis energi adalah membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menstabilkan pasar energi global, harga minyak masih terus meningkat. Pada perdagangan terbaru, harga minyak naik sekitar satu dolar menjadi lebih dari 113 dolar per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2022.
Sementara itu, beberapa laporan media menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh peringatan Iran terhadap kebijakan permusuhan pemerintah Donald Trump, yang sebelumnya mengancam akan menargetkan fasilitas energi Iran apabila Selat Hormuz tidak dibuka kembali.


