London, Purna Warta – Dalam laporan jurnalis Graham Harrison, disebutkan bahwa masa depan politik Netanyahu kini sangat bergantung pada hasil perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Jika ia mampu keluar dari konflik ini dengan kemenangan, banyak masalah politik dan hukum yang selama ini membelitnya di Israel berpotensi tersingkir dari perhatian publik. Menurut laporan tersebut, tujuan terbesar perang ini pada akhirnya adalah kemenangan satu orang—yaitu Netanyahu sendiri.
Baca juga: Kementerian Kesehatan Israel: 4.564 Orang Terluka Sejak Awal Perang Melawan Iran
Krisis Citra Setelah 7 Oktober
Bagi Netanyahu, yang memegang rekor masa jabatan terlama sebagai perdana menteri dalam sejarah Israel, isu keamanan selama ini menjadi inti dari citra politiknya. Namun peristiwa Serangan Hamas 7 Oktober 2023, ketika pejuang Hamas menembus perbatasan Jalur Gaza, meruntuhkan citra tersebut dan menempatkannya dalam krisis politik yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Kini, dengan meluasnya konflik ke Lebanon serta konfrontasi militer langsung dengan Iran, Netanyahu menghadapi pertaruhan besar yang bukan hanya menentukan masa depan kawasan, tetapi juga kelangsungan karier politiknya.
Banyak analis internasional menilai bahwa kelanjutan perang bagi Netanyahu telah berubah dari sekadar kebutuhan militer menjadi strategi penting untuk keluar dari krisis domestik. Ia memimpin perang ini sementara kasus-kasus korupsi yang serius terhadapnya masih berjalan di pengadilan. Sebelum perang pun, masyarakat Israel telah terpecah akibat rencana kontroversial reformasi peradilan pemerintahnya. Namun kondisi perang untuk sementara menyingkirkan protes dan kasus hukum tersebut dari sorotan publik.
Tekanan Politik dari Dalam Koalisi
Di dalam kabinet Israel, Netanyahu berada dalam posisi politik yang rumit. Dari satu sisi, keluarga para sandera serta oposisi moderat menekan agar perang dihentikan dan para sandera dipulangkan. Dari sisi lain, sekutu garis kerasnya seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich mengancam akan menjatuhkan pemerintahan koalisi jika operasi militer dihentikan.
Baca juga:
Tekanan domestik ini mendorong Netanyahu memilih jalur eskalasi konflik demi mempertahankan kursi perdana menteri. Serangan misil Iran dan respons militer Israel telah meningkatkan konflik dari skala regional menjadi konfrontasi langsung.
Bagi Netanyahu, kemenangan tegas dalam front baru ini dipandang sebagai satu-satunya cara untuk memulihkan reputasinya setelah kegagalan intelijen pada Oktober 2023. Ia menyadari bahwa setelah perang mereda, pertanyaan sulit mengenai tanggung jawabnya atas kebocoran keamanan tersebut akan kembali muncul dan bisa membawanya menuju pemilu baru—atau bahkan penjara.
Taruhan Politik di Tepi Jurang
Saat ini kelangsungan politik Netanyahu semakin terikat dengan konsep perang berkelanjutan. Kekalahan besar dalam keamanan pada 7 Oktober merupakan noda yang dalam kondisi normal bisa mengakhiri karier politik seorang pemimpin. Namun Netanyahu mencoba mengubah narasi perang dari Gaza ke Lebanon dan kemudian ke Iran, dengan tujuan mengalihkan perhatian publik dari kegagalan melawan kelompok militan menjadi kepemimpinan dalam perang besar melawan “akar ancaman”.
Ia berulang kali menekankan istilah “kemenangan total” untuk menggambarkan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang mampu menghadapi ancaman regional dan nuklir Iran, serta berusaha memulihkan kepercayaan masyarakat Israel.
Namun dari sisi struktur kekuasaan Israel, Netanyahu juga menghadapi tekanan kuat dari kelompok kanan ekstrem. Tokoh seperti Ben-Gvir dan Smotrich memandang perang sebagai peluang untuk memperluas agenda politik mereka, termasuk proyek pemukiman. Karena itu mereka menolak setiap upaya gencatan senjata atau mediasi.
Netanyahu kini harus menyeimbangkan tekanan internasional—terutama dari Amerika Serikat—yang mendorong stabilitas, dengan tekanan politik dari sekutu domestiknya yang menginginkan perang terus berlanjut. Dalam praktiknya, keseimbangan ini sering berujung pada keberlanjutan konflik.
Pedang Bermata Dua
Konfrontasi langsung dengan Iran merupakan pedang bermata dua bagi Netanyahu. Jika ia berhasil memberikan pukulan signifikan terhadap infrastruktur militer Iran tanpa menyeret Israel ke dalam perang panjang yang melelahkan, ia dapat membangun kembali citranya sebagai penyelamat nasional.
Namun jika perang berubah menjadi konflik panjang dengan korban besar dan kerugian ekonomi yang luas, serta menyebabkan isolasi internasional Israel yang lebih dalam, hal itu bisa menjadi pukulan terakhir bagi karier politiknya. Bahkan basis tradisionalnya di Partai Likud bisa berbalik menentangnya dan menyalahkannya atas runtuhnya keamanan serta ekonomi negara.
Faktor Kasus Hukum
Faktor penting lain dalam keputusan politik Netanyahu adalah kasus hukum yang dihadapinya. Kondisi darurat dan perang membuat proses persidangan berjalan lambat dan perhatian publik terhadap tuduhan korupsi terhadapnya berkurang.
Ia menyadari bahwa begitu tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri, perlindungan politiknya akan hilang dan ia harus menghadapi pengadilan tanpa perlindungan kekuasaan. Karena itu, situasi krisis berkepanjangan menjadi cara efektif untuk menunda kemungkinan tersebut.
Pada akhirnya, masa depan politik Netanyahu kini berada dalam ketidakpastian di tengah dinamika militer yang melibatkan Beirut dan Teheran. Dengan mempertaruhkan nasibnya pada hasil perang, ia hampir tidak memiliki jalan mundur. Jika konflik ini tidak menghasilkan kemenangan nyata, ia berisiko dikenang sebagai pemimpin yang mengutamakan kelangsungan kekuasaan pribadi dengan membawa negaranya ke dalam perang yang berkepanjangan.


