Tehran, Purna Warta – Mohammad Mokhber, seorang pembantu Pemimpin Revolusi Islam, menyampaikan pesan belasungkawa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei kepada keluarga ilmuwan nuklir syahid, Fereydoun Abbasi.
Menurut Mokhber, kunjungan ke keluarga terhormat ilmuwan syahid tersebut dilakukan atas penekanan berulang kali dan perhatian khusus dari Pemimpin.
“Sebagai wakil dari Yang Mulia, saya menyampaikan salam, belasungkawa, rasa terima kasih, dan penghormatan mendalam beliau kepada Anda, keluarga yang terhormat,” ujarnya.
“Syahid Abbasi, dengan ilmu dan imannya, menembus berbagai hambatan yang diciptakan oleh sanksi dan ancaman, serta membuktikan bahwa para pemuda Iran mampu menaklukkan puncak-puncak ilmu pengetahuan dengan bersandar pada iman dan keahlian mereka,” ujar Mokhber mewakili Pemimpin.
“Sebagaimana syahid mulia ini sendiri nyatakan, kini ilmu nuklir telah menyebar luas, dan jalan perjuangan Syahid Abbasi sedang diteruskan dengan semangat oleh para pemuda revolusioner dan pencari ilmu. Musuh harus memahami bahwa teror dan ancaman tidak akan melemahkan tekad bangsa ini,” tambahnya.
Syahid Abbasi lahir pada tahun 1958 di Abadan. Ia adalah seorang profesor penuh dalam bidang fisika nuklir dan salah satu tokoh ilmiah dan nasional paling terkemuka di Iran.
Keahlian ilmiahnya mencakup bidang-bidang sensitif dan strategis, termasuk fisika nuklir, pemisahan isotop, dosimetri radiasi, akselerator partikel, dan sistem fokus plasma.
Sebagai salah satu pendiri Masyarakat Nuklir Iran, Dr. Abbasi pernah memegang sejumlah posisi kepemimpinan, seperti Ketua Fakultas Fisika di Universitas Imam Hossein dan Kepala Pusat Penelitian Laser di Universitas Industri Malek Ashtar.
Selain pencapaian akademisnya, Dr. Abbasi juga menjabat dalam posisi eksekutif penting, termasuk sebagai Wakil Presiden Iran dan Kepala Organisasi Energi Atom Iran dari tahun 2011 hingga 2013.
Dalam kapasitasnya tersebut, Dr. Abbasi memainkan peran penting dalam kemajuan program nuklir Iran.
Karena perannya yang menonjol dalam upaya nuklir Iran, Dr. Abbasi dikenai sanksi keras oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 2007.
Pada November 2010, ia selamat dari upaya pembunuhan teroris oleh rezim Israel di Tehran, yang melibatkan bom magnetik, serangan yang terjadi bersamaan dengan pembunuhan ilmuwan nuklir lainnya, Dr. Majid Shahriari.
Ia gugur sebagai syahid dalam serangan udara oleh Israel pada 13 Juni 2025.


