Al-Quds, Purna Warta – Serangkaian tindakan militer oleh pasukan rezim Israel terhadap berbagai wilayah di Tepi Barat, termasuk Al-Quds Timur yang diduduki, terus berlangsung.S
Sejumlah sumber berita melaporkan bahwa pasukan Israel menyerbu wilayah Qalandia di bagian utara Al-Quds yang diduduki dan melepaskan tembakan ke arah warga Palestina.
Laporan lapangan dari wilayah Palestina yang diduduki menyebutkan bahwa, dalam kelanjutan tindakan represifnya, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah warga Palestina di sekitar Qalandia, di bagian utara Al-Quds yang diduduki.
Sejumlah sumber berita melaporkan bahwa sedikitnya dua orang Palestina terluka akibat terkena peluru tajam dalam bentrokan tersebut.
Perkembangan Palestina
Situasi di Tepi Barat juga masih menunjukkan tingginya tekanan terhadap masyarakat Palestina. Dalam laporan kemanusiaan terbaru, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat bahwa operasi besar pasukan Israel di Kamp Qalandia pada 5–6 Agustus menyebabkan 51 warga Palestina terluka, termasuk akibat pemukulan, peluru berlapis karet, dan paparan gas air mata. Operasi tersebut juga mengganggu layanan kesehatan, membatasi pergerakan warga, serta menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah.
OCHA juga melaporkan bahwa selama periode 4–10 Agustus, sedikitnya 89 warga Palestina terluka akibat tindakan pasukan Israel atau serangan pemukim Israel di Tepi Barat. Dalam periode yang sama, tercatat 38 insiden yang melibatkan pemukim Israel dan mengakibatkan korban Palestina, kerusakan properti, atau keduanya. Di wilayah Masafer Yatta, misalnya, serangan pemukim menyebabkan lima warga Palestina terluka dan tiga bangunan tempat tinggal terbakar sehingga 23 orang, termasuk 14 anak-anak, terpaksa mengungsi.
Kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza juga tetap sangat berat meskipun terdapat kerangka gencatan senjata sejak Oktober 2025. Menurut OCHA, sebagian besar penduduk Gaza masih mengungsi dan hidup dalam kondisi yang sulit, sementara serangan militer masih berlangsung. Organisasi tersebut juga mencatat bahwa sekitar 90 persen penduduk Gaza mengalami tingkat ketidakamanan air sedang hingga tinggi pada awal Juli 2026.
Dalam perkembangan terbaru, serangan udara Israel di Gaza pada 23–24 Agustus dilaporkan menewaskan sejumlah warga Palestina, termasuk anak-anak. Reuters melaporkan bahwa serangan pada 23 Agustus menewaskan sedikitnya dua orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia empat tahun, dan melukai tujuh lainnya. Pada 24 Agustus, AP melaporkan sedikitnya empat orang tewas dalam serangan udara dan tembakan tank di Gaza, termasuk dua anak-anak. Israel menyatakan serangan tersebut menyasar infrastruktur Hamas, sementara pihak Palestina menuduh Israel terus melanggar gencatan senjata.
Kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat juga menjadi perhatian internasional. Laporan terbaru menyebutkan bahwa serangan pemukim pada 2026 semakin meluas ke wilayah yang sebelumnya relatif jarang menjadi sasaran, termasuk Area A dan B yang berada di bawah bentuk-bentuk administrasi Palestina. Data yang dikutip dari kelompok hak asasi Israel, Yesh Din, menunjukkan peningkatan tajam serangan di Area B dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan demikian, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa penduduk Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Al-Quds Timur masih menghadapi kombinasi kekerasan bersenjata, pembatasan pergerakan, pengungsian, penghancuran properti, serta hambatan terhadap akses kesehatan dan kebutuhan dasar. Data OCHA menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan hanya berupa insiden individual, tetapi telah berdampak luas terhadap kondisi kemanusiaan masyarakat Palestina.


