Militer Israel Menargetkan Sekolah dan Ambulans di Lebanon Selatan, Enam Warga Sipil Tewas

Ambulance

Al-Quds, Purna Warta – Pasukan Israel melancarkan gelombang baru serangan di berbagai wilayah Lebanon Selatan dan Bekaa Barat pada Sabtu, dengan menargetkan kawasan sipil, menghancurkan sebuah ambulans, merusak sebuah sekolah, dan menewaskan enam warga sipil Lebanon.

Menurut laporan Al Mayadeen, pesawat tempur dan artileri Israel menyerang sejumlah wilayah, termasuk Kfra, Aadchit, Kounine, Babliyeh, Toul, Arabsalim, Shahabiyeh, Mahmoudiyeh, Marwaniyeh, Majdal Zoun, Aba, Mayfadoun, Arnaba di pinggiran Maghdoucheh, Kfar Tebnit, Qatrani, jalan antara Maarakeh dan Teir Debba, Kota Nabatieh, serta Sohmor di wilayah Bekaa Barat.

Serangan tersebut juga menghantam Hutan Rayhan, Lembah Barghaz, dan Dataran Tinggi Rayhan. Selain itu, artileri Israel dilaporkan menggempur wilayah Kfar Tebnit.

Salah satu insiden paling mematikan terjadi di Kota Zebdine, ketika serangan Israel menghantam sebuah ambulans yang sedang mengantarkan pasokan makanan kepada sebuah keluarga di kawasan tersebut. Akibat serangan itu, lima warga sipil dilaporkan tewas.

Di Distrik Hasbaya, tembakan artileri Israel menghantam sebuah sekolah di Kota Barghaz, menyebabkan kebakaran dan kerusakan besar pada bangunan tersebut.

Sebelumnya pada hari yang sama, serangan Israel lainnya menargetkan sebuah sepeda motor di Deir al-Zahrani, Distrik Nabatieh, yang mengakibatkan satu orang tewas.

Serangan terbaru ini terjadi meskipun berbagai pengumuman mengenai gencatan senjata antara Lebanon dan Israel telah berulang kali disampaikan.

Serangan yang terus berlanjut tersebut telah berkontribusi terhadap kerusakan luas di berbagai kota dan desa Lebanon serta meningkatnya jumlah korban jiwa akibat perang. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan Lebanon pada Kamis, sedikitnya 3.526 orang telah tewas sejak 2 Maret.

Pada 2 Maret, Hizbullah meluncurkan operasi militer terhadap Israel sebagai respons atas serangan terhadap Iran, pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata tahun 2024, serta berlanjutnya pendudukan wilayah Lebanon di bagian selatan negara itu.

Setelah tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat pada 8 April, Tel Aviv disebut terpaksa menerima gencatan senjata di Lebanon setelah Teheran menjadikan penghentian serangan Israel terhadap wilayah Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam perundingan tidak langsung dengan Washington.

Namun demikian, militer Israel dilaporkan segera melanjutkan operasi militernya di Lebanon Selatan dan mengeluarkan ancaman evakuasi terhadap sejumlah wilayah, bahkan setelah masa gencatan senjata awal selama sepuluh hari antara Tel Aviv dan Beirut beberapa kali diperpanjang.

Pasukan Israel juga dilaporkan masih mempertahankan kehadiran mereka di beberapa wilayah Lebanon Selatan. Di kawasan tersebut, mereka disebut menerapkan apa yang dinamakan sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line), yaitu zona penyangga militer yang menurut laporan ini memiliki karakteristik serupa dengan kebijakan pengendalian yang diterapkan Israel di Jalur Gaza yang diblokade.

Perkembangan terbaru ini semakin meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas keamanan di perbatasan Lebanon-Israel dan masa depan kesepakatan gencatan senjata yang hingga kini masih menghadapi berbagai pelanggaran dan tantangan di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *