Tehran, Purna Warta – Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan bahwa ekspor minyak mentah Iran terus berlangsung tanpa gangguan sepanjang perang selama 40 hari, meskipun terjadi serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas serta tantangan logistik berat yang ditimbulkan oleh agresi dan blokade maritim yang diberlakukan setelahnya.
Baca juga: Menteri Israel yang Rasis Ungkap Rencana Pembersihan Etnis Gaza Selama 7 Tahun
“Selama perang 40 hari tersebut, meskipun berada dalam kondisi perang, ekspor minyak mentah negara tidak berhenti bahkan selama satu jam sejak 28 Februari hingga gencatan senjata sementara diberlakukan,” kata Paknejad.
Paknejad merujuk pada tindakan agresi gabungan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Menurut menteri tersebut, perang gagal menghentikan ekspor minyak mentah Iran, meskipun infrastruktur energi Iran berulang kali menjadi sasaran serangan.
Serangan tersebut mencakup fasilitas penyimpanan dan distribusi minyak serta infrastruktur utama pengolahan gas. Kompleks gas South Pars, salah satu aset energi Iran yang paling strategis, termasuk di antara fasilitas yang menjadi sasaran selama pertempuran.
Tantangan terhadap ekspor minyak Iran tidak hanya berasal dari kerusakan fisik akibat serangan. Tehran kemudian menghadapi blokade maritim yang mengancam akan mempersulit penjualan sekaligus pengiriman minyak mentah kepada para pelanggan internasional.
Paknejad mengatakan bahwa blokade pertama melibatkan jalur yang membentang dari Ras al-Hadd hingga pelabuhan Gwadar di Pakistan. Sebagai respons, otoritas Iran mengambil sejumlah langkah yang bertujuan menjaga agar penjualan dan pengiriman minyak tetap berjalan meskipun terdapat pembatasan.
“Proses penjualan minyak dan pengirimannya kepada pelanggan dilakukan ribuan kilometer jauhnya dari Teluk Persia dan Laut Oman,” kata menteri tersebut.
Menurut Paknejad, blokade pertama berlangsung sekitar 13 April hingga 18 Juni. Penghentian sementara blokade memberikan kesempatan kepada Iran untuk memindahkan sejumlah besar minyak mentah keluar dari perairan Teluk Persia dan Laut Oman serta menempatkannya di lokasi-lokasi yang selanjutnya memungkinkan minyak tersebut dikirim kepada para pelanggan.
Menurutnya, jeda tersebut dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan Iran pada jalur yang terdampak pembatasan maritim sekaligus mempertahankan kemampuannya memenuhi pengiriman minyak.
Tekanan kembali berlanjut pada 15 Juli, ketika blokade kedua diberlakukan dan, menurut Paknejad, masih berlangsung hingga saat ini.
“Industri minyak tidak tinggal diam dan tidak berhenti,” katanya. “Kami sedang menempuh berbagai solusi dan langkah berbeda agar dapat mencapai suatu hari ketika kami mampu sepenuhnya melewati blokade ini.”
Produksi Minyak dan Pemulihan Gas
Pada saat yang sama, Kementerian Perminyakan mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan produksi dalam negeri meskipun berada dalam kondisi perang.
Paknejad mengatakan bahwa program yang menargetkan tambahan produksi minyak mentah sebesar 250.000 barel per hari telah memasuki tahap implementasi, dengan sekitar 70.000 hingga 80.000 barel per hari telah berhasil direalisasikan.
Kementerian tersebut juga melaporkan kemajuan dalam pengumpulan gas ikutan (associated gas) yang sebelumnya akan dibakar melalui proses flaring.
Baca juga: Pengacara Berupaya Gugurkan Dakwaan AS terhadap Pemimpin Venezuela dengan Alasan Kekebalan Hukum
Sejak pemerintahan saat ini mulai menjabat, sekitar 11,5 juta meter kubik per hari gas suar (flare gas) telah berhasil dikumpulkan melalui berbagai proyek, kata Paknejad.
Jika digabungkan dengan sekitar 5,5 juta meter kubik per hari yang telah dikumpulkan sebelum pemerintahan tersebut mulai menjabat, total pengumpulan gas suar kini mencapai sekitar 17 juta meter kubik per hari.
Peningkatan tersebut signifikan, baik dari perspektif efisiensi energi maupun karena gas ikutan yang berhasil dikumpulkan dapat dikembalikan untuk digunakan secara produktif, alih-alih terbuang melalui pembakaran rutin.
Ketahanan sistem energi Iran juga diuji oleh serangan langsung terhadap infrastruktur pengolahan gasnya.
Paknejad mengingat kembali bahwa pada 18 Maret, pihak musuh menyerang empat kilang pengolahan gas di Asaluyeh, yang mencakup kilang ketiga hingga keenam. Serangan tersebut memaksa Iran mengurangi sebagian besar kapasitas produksi gasnya.
Namun, menurut menteri tersebut, para spesialis dari industri minyak dan gas Iran mampu memulihkan sebagian besar kapasitas yang hilang, sementara pekerjaan rekonstruksi dimulai tidak lama setelah serangan.
“Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, kita akan dapat melihat hasilnya dan menyaksikan peningkatan produksi gas negara,” kata Paknejad.


